Inovasi Digital Marketing ala UMKM Mitra Binaan Telkom di Garut
Pandemi berdampak pada keberlangsungan UMKM. Perilaku adaptif dan inovatif dibutuhkan untuk menyelamatkan bisnis di masa ketidakpastian.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INLAHKORAN, Bandung - Pandemi berdampak pada keberlangsungan UMKM. Perilaku adaptif dan inovatif dibutuhkan untuk menyelamatkan bisnis di tengah gelombang ketidakpastian.
Selama dua tahun berlangsung pandemi Covid-19 ini tak sedikit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) gulung tikar. Kalau pun tidak, para pelaku UMKM merumahkan sebagian bahkan seluruh karyawan. Mereka yang berguguran terpaksa melakukan hal itu karena ongkos produksi jauh timpang dengan hasil yang didapatkan. Ibaratnya, besar pasak daripada tiang.
Menyadari hal tersebut, UMKM Viera Sutra Alam tak tinggal diam. Untuk tidak tergerus keadaan, UMKM yang berada di Kabupaten Garut itu melakukan tindakan adaptif. Adaptasi yang dilakukan mereka memanfaatkan masa sulit ini untuk lebih mengembangkan pemasaran. Inovasi menjadi jawabannya.
Baca Juga: Akselerasi Transformasi Digital, Telkom Gandeng Microsoft
Viera Sutra Alam merupakan UMKM yang bergerak di bidang tenun sutra dengna alat tenun bukan mesin (ATBM). Sejak Januari 2012, rumah produksi usaha ini berada di Jalan Oto Iskandardinata No 12 Garut.
“Awal pandemi lalu, kami sempat merumahkan karyawan. Hal itu terpaksa dilakukan karena penjualan via galeri atau tokonya hampir nol. Sebelum pandemi, bus-bus wisata menurunkan puluhan wisatawan di galeri,” kata owner Viera Sutra Alam Ruda Pratama, belum lama ini.
Guna mempertahankan kondisi usahanya, dia berinovasi dengan mengubah sistem penjualan dengan mengolaborasikan sistem penjualan offline di galerinya dengan sistem penjualan online memanfaatkan media sosial dan marketplace. Produk unggulan Viera yakni sutra bulu dan batik sutra khas Garut. Produk fesyen itu dibanderol mulai dari Rp80 ribu hingga jutaan rupiah.
Baca Juga: Bantu Warga Terdampak Covid-19, Telkom Alokasikan Dana Rp420 Juta
“Saat ini, cara yang efektif memang promosi secara gencar di online. Mulai dari promosi dan penjualan harus sudah online. Itu sudah tak bisa dihindari,” ujarnya.
Fokus di pemasaran online itu menghasilkan akun instagram @batiksutragarut kini cukup populer. Sejauh ini, follower-nya sudah mencapai 37 ribuan. Dia mengakui, pemasaran di dunia maya itu pun menyebabkan pelanggan semakin luas. Tak hanya berkutat di Pulau Jawa, dia menyebutkan customer meluas hingga ke Makassar dan Papua.
“Saya bersyukur pernah mengikuti pelatihan digital marketing yang diselenggarakan Telkom. Saat ini penjualan via online sudah mencapai 50% dibandingkan penjualan offline sebelum pandemi,” ujarnya.
Baca Juga: Telkom Buka Akses Internet 33 Desa Terpencil di Jabar
Ruda menuturkan, saat pandemi seperti ini kebanyakan orang menghabiskan waktunya di rumah saja dan berselancar di dunia maya. Sebagai pebisnis ulung, dia menangkap fenomena itu sebagai sebuah peluang yang harus dimanfaatkan.
“Di dunia online itu yang pertama memang otomatis kita harus terus memperkenalkan tenun Garut. Bahwa di masa pandemi kita nggak cuma itu-itu aja, justru harus terus berkarya kemudian berinovasi. Setelah pandemi ini berakhir, harapannya kita mempunyai produk baru dan berusaha mempertahankan perajin tenun sutra alam,” tuturnya.
Dia menuturkan, sebelum pandemi produk tenun Garut relatif sedang naik daun. Terutama, bagi para pecinta batik dan tenun yang menilai produk tenun Garut memiliki keunggulan tersendiri.
Sebagai mitra binaan Telkom, sejauh ini UMKM Viera Sutra Alam sudah empat kali menerima bantuan modal atau dana bergulir. Selain bantuan permodalan, usaha yang digeluti Ruda itu terbantu dengan berbagai pelatihan. Mulai dari pelatihan membuat pembukuan, pemasaran, hingga digital marketing.
Baca Juga: Rumah Zakat Tebar Gerobak untuk Pelaku UMKM Terdampak
Awalnya, Viera Sutra Alam memulai usahanya dengan empat pegawai dengan satu unit alat tenun bukan mesin. Usai menjadi mitra binaan PT Telkom CDSA Garut, kini Viera mempunyai pabrik sendiri dan memilik 40 pegawai . Mereka yang bekerja merupakan warga dari lingkungan sekitar tempat usaha. Terkait pasokan material, UMKM tersebut mendatangkan bahan baku dari Korea dan Cina.
Kini, usahanya berkembang pesat dan mempunyai konsumen tetap baik lokal maupun mancanegara. Bahkan, produknya dipakai sejumlah perancang busana papan atas seperti Oscar Lawalata, Itang Yunaz, dan perancang busana asal Prancis.
Di tengah situasi pandemi seperti ini, Ruda berharap masyarakat bisa membantu para perajin yang saat ini sedang mengalami kesulitan. Caranya, relatif mudah. Hanya dengan membeli produk buatan perajin lokal diharapkan para perajin bisa berproduksi dan tetap bertahan di masa sulit ini. (doni ramdhani)
Editor : inilahkoran


