Era Digital Menandai Punahnya Kepakaran, Ketika Kepopuleran Mengalahkan Keilmuan. Benarkah?
Fenomena hilangnya otoritas pakar di era digital semakin terasa ketika opini influencer dianggap lebih kredibel daripada penelitian ilmiah. Artikel ini membahas bagaimana algoritma media sosial, budaya post-truth, dan logika ekonomi digital memengaruhi persepsi publik terhadap pengetahuan. Melalui teori komunikasi seperti two-step flow, diffusion of innovations, dan electronic word of mouth, tulisan ini menjelaskan mengapa suara populer lebih mudah diterima dibanding suara akademik. Artikel ini juga menawarkan solusi agar pakar dapat tetap relevan, termasuk adaptasi gaya komunikasi digital dan kolaborasi dengan influencer.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID,Bandung- Percakapan tentang Punahnya kepakaran semakin sering muncul karena ruang digital memberi panggung besar pada figur populer. Banyak orang khawatir suara ahli tersisih oleh influencer yang dinilai kredibel hanya karena jumlah pengikut.
Pengetahuan yang dibangun melalui riset bertahun-tahun rentan tenggelam dalam arus konten cepat yang dipromosikan algoritma, yang lebih mengutamakan keterlibatan dibanding akurasi (Gillespie, 2018).
Ketika opini viral lebih sering dipercaya daripada data dan keilmuan, publik menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran. Pakar yang mencoba meluruskan informasi sering mendapat serangan balik dan dicap elitis. Ruang publik akhirnya dipenuhi respons emosional, bukan penjelasan berbasis bukti. Kondisi ini sejalan dengan fenomena post-truth, saat emosi lebih dipercaya daripada fakta (Keyes, 2004).
Fenomena ini terlihat jelas dalam kasus seorang dosen, yang membagikan pengalamannya menerima honor Rp 300 ribu saat mengisi sebuah acara kampus, sementara seorang influencer pada acara yang sama menerima bayaran belasan juta lengkap dengan fasilitas tambahan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa logika Ekonomi digital sering menempatkan popularitas sebagai nilai utama dibanding keahlian akademik. Pola ini memperkuat argumen bahwa di era digital, popularitas bisa lebih dihargai daripada keahlian.
Teori komunikasi memberi gambaran mengapa suara influencer lebih berpengaruh. Model Two-step flow of communication menunjukkan bahwa informasi tidak mengalir langsung dari media ke publik, tetapi melalui opinion leader yang dianggap dekat dan tepercaya (Lazarsfeld & Katz, 1955). Dalam ekosistem digital saat ini, influencer menempati posisi itu. Pesan mereka sederhana, personal, dan mudah diteruskan.
Fenomena ini diperkuat konsep Electronic word of mouth, Hennig-Thurau dkk. (2004) menjelaskan e-WOM sebagai pernyataan positif atau negatif yang disebarkan di Internet dan dapat mempengaruhi banyak orang. Dalam isu publik, mekanisme ini membuat suatu opini di media sosial menyebar cepat meski tidak selalu berbasis bukti.
Rogers (2003) melalui Diffusion of innovations menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah ide bergantung pada siapa yang menyampaikan pesan dan seberapa mudah pesan itu dipahami. Influencer unggul karena bahasanya ringan dan ritmenya cepat.
Sebaliknya, pakar sering berbicara dalam format teknis yang membuat mereka dianggat kurang kompetitif di ruang digital. Kondisi ini membuat klarifikasi akademis kalah cepat dibanding opini singkat yang dibagikan ulang ribuan kali. Kombinasi kedekatan, personalisasi, dan intensitas membuat publik lebih mudah menerima pesan influencer meski isinya tidak selalu kuat secara ilmiah.
Fenomena ini selaras dengan analisis post-truth modern. McIntyre (2018) menjelaskan bahwa publik lebih mempercayai narasi yang membuat mereka merasa benar, bukan yang paling akurat. Nguyen (2020) menyebutnya erosi epistemik, yaitu melemahnya kemampuan publik membedakan suara ahli dan suara populer akibat runtuhnya struktur Otoritas pengetahuan.
Levy (2021) menambahkan bahwa ruang digital melahirkan epistemic pollution, ketika informasi emosional dan menyesatkan mengalahkan data karena lebih sesuai dengan bias kognitif penggunanya.
Gejalanya tampak sehari-hari, sebagai contoh anak yang lebih percaya potongan video di media sosial daripada orang tua atau guru, pasien mengikuti tips kesehatan dari influencer daripada panduan medis, serta warga mengikuti opini selebritas tentang isu publik tanpa memeriksa sumbernya.
Struktur platform memperkuat kondisi ini, Gillespie (2018) menjelaskan bahwa algoritma mempromosikan konten yang memicu respons cepat, bukan refleksi. Konten emosional naik lebih cepat dibanding argumen berbasis data. Keyes (2004) menjelaskan bahwa publik cenderung mempercayai informasi yang sesuai perasaan. Kombinasi algoritma, kedekatan psikologis, dan mekanisme word of mouth membuat figur populer di ruang digital memiliki posisi yang hampir menggantikan otoritas pakar.
Tentu tidak dan bijak jikla menyalahkan influencer tidak menyelesaikan persoalan. Akar masalahnya ada pada struktur platform yang memprioritaskan konten cepat dan memicu sisi emosi. Kepakaran tetap penting, tetapi cara penyampaiannya harus menyesuaikan. Pakar perlu hadir di media sosial dengan bahasa yang jernih dan relevan tanpa mengorbankan akurasi. Mereka tidak perlu ikut membuat gimmick, tetapi harus mampu menurunkan konsep menjadi penjelasan yang mudah dipahami publik.
Ruang digital membuka peluang baru. Banyak kampus mulai mendorong dosen dan peneliti aktif di media sosial. Kolaborasi juga mungkin terjadi. Influencer menyediakan jangkauan, akademisi menyediakan kedalaman. Ketika keduanya saling menguatkan, publik mendapat informasi yang lebih baik. Ruang digital tidak harus menjadi arena perebutan perhatian, tetapi dapat menjadi ruang berbagi pengetahuan.
Diskursus tentang Punahnya kepakaran seharusnya dibaca sebagai peringatan agar pakar tidak terlalu nyaman di ruang akademik, serta sebagai ajakan bagi publik agar tidak menyamakan popularitas dengan kebenaran. Bila Komunikasi ilmiah dapat beradaptasi dengan cara digital, kepakaran bukan hanya bertahan tetapi tumbuh lebih kuat. Influencer tetap menjadi opinion leader, tetapi pakar dapat menjadi jangkar yang menjaga kualitas informasi publik.***
Penulis
Robby Rachman Nurdiantara
Akademisi dan Peneliti Kajian Media dan Komunikasi
Editor : Ghiok Riswoto

