Farhan : Sanitasi Buruk Jadi Akar Masalah Tingginya Kasus Stunting di Kota Bandung

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyampaikan, perhatian serius pemerintah kota terhadap masalah sanitasi yang berdampak langsung pada kesehatan anak.

Farhan : Sanitasi Buruk Jadi Akar Masalah Tingginya Kasus Stunting di Kota Bandung
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyampaikan, perhatian serius pemerintah kota terhadap masalah sanitasi yang berdampak langsung pada kesehatan anak./INILAHKORAN-Yogo Triastopo

INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyampaikan, perhatian serius pemerintah kota terhadap masalah sanitasi yang berdampak langsung pada kesehatan anak terutama kasus stunting.

Menurut ia, masih ada sekitar 27 persen rumah di Kota Bandung yang belum memiliki septic tank sebuah kondisi yang sudah bertahan selama lima tahun dan belum menunjukkan penurunan signifikan. "Akibatnya apa? Diare tinggi. Ketika diare tinggi, dampaknya stunting," kata Farhan pada Jumat 20 Februari 2026.

Ia menekankan, masalah sanitasi yang belum tertangani secara menyeluruh menjadi akar persoalan kesehatan lingkungan di Kota Bandung. Rumah tidak layak huni atau rutilahu dengan ventilasi dan pencahayaan yang buruk, juga turut memperburuk kondisi kesehatan masyarakat utamanya anak-anak. 

Guna mengatasi persoalan tersebut, Pemkot Bandung tengah mendorong pembangunan septic tank komunal maupun biotank yang lebih terjangkau. Farhan menjelaskan, sebelumnya satu septic tank konvensional menelan biaya sekitar 21 juta rupiah untuk 3 hingga 5 rumah. Kini, biotank dapat dibangun dengan biaya sekitar 15 juta rupiah.

Namun, tantangan tetap muncul di kawasan padat penduduk. Banyak rumah yang toiletnya berada di belakang rumah dan menghadap sungai, sementara septic tank berada di depan gang. Memindahkan saluran pipa ke depan memerlukan biaya tambahan sekitar 5 juta rupiah, angka yang tidak terjangkau bagi sebagian warga.

"Karena itu, kita akan mencari mekanisme seperti program rutilahu untuk membantu pembiayaan tersebut," ucapnya.

Ia berharap dengan mekanisme tersebut, pembangunan sanitasi bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat terutama yang berada di wilayah rawan stunting.

"Pentingnya program pemantauan berbasis warga, seperti SisKamling dan Laci RW untuk memastikan kondisi sanitasi dan kesehatan anak terpantau secara berkala. Dengan intervensi yang tepat, diharapkan angka stunting di Kota Bandung dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan," ujar dia.***


Editor : JakaPermana