Farhan Ungkap Infrastruktur Bandung Sempat Mandek Sejak 2017, Pembenahan Bertahap
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut pembangunan infrastruktur sempat mandek sejak 2017 dan kini pembenahan dilakukan bertahap hingga penanganan banjir.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan pembangunan infrastruktur Kota Bandung sempat mandek sejak 2017. Kondisi tersebut membuat sejumlah pekerjaan rumah masih harus diselesaikan secara bertahap, mulai dari jalan, trotoar, drainase hingga penanganan banjir.
Farhan mengatakan, capaian ekonomi Kota Bandung sudah menunjukkan perkembangan positif. Dalam waktu kurang dari satu tahun, pertumbuhan ekonomi disebut meningkat hampir 1,9 persen. Namun, perkembangan ekonomi tersebut belum sepenuhnya diikuti pembenahan infrastruktur.
“Secara ekonomi kita sudah lebih mapan. Alhamdulillah, perkembangan naik dari hampir 1,9 persen dalam kurang dari satu tahun. Itu merupakan satu lompatan luar biasa,” kata Farhan, Sabtu (25/9/2026).
Di sisi lain, Farhan mengakui masih banyak persoalan infrastruktur yang belum terselesaikan. Menurutnya, pembangunan infrastruktur terakhir sebelum pandemi Covid-19 berlangsung pada 2017 dan setelah pandemi belum ada pembangunan infrastruktur besar lagi.
“Tapi pada saat bersamaan, masih banyak yang belum selesai. Infrastruktur masih belum semuanya dibereskan karena kita tahu sebelum Covid, pembangunan infrastruktur terakhir itu tahun 2017. Setelah Covid, tidak ada pembangunan infrastruktur lagi,” ucapnya.
Farhan menyebut infrastruktur besar yang dibangun di Kota Bandung setelah periode tersebut relatif terbatas. Ia menyebut jalan layang dan bus sebagai dua infrastruktur besar yang tersedia.
“Infrastruktur besar di Kota Bandung itu hanya dua, jalan layang dan bus. Itu saja. Tidak ada lagi yang lain,” ujar dia.
Pembenahan Jalan dan Trotoar
Kondisi tersebut turut berdampak pada kualitas ruang publik. Menurut Farhan, pengaturan arus orang sudah mulai dilakukan, tetapi kualitas jalan dan trotoar belum cukup mendukung Kota Bandung sebagai kota ramah pejalan kaki.
“Infrastruktur seperti perawatan trotoar, jalan dan lain-lain. Makanya momentum kemarin, karena kita sudah bisa mengatur flow orang tetapi kualitas jalan dan kualitas trotoar belum cukup memadai untuk bisa dikatakan sebagai kota ramah pejalan kaki,” jelasnya.
Pembenahan infrastruktur kemudian dibagi dalam beberapa tahap. Tahap pertama menyasar kawasan yang memiliki aktivitas wisatawan tinggi sekaligus menjadi pusat kegiatan ekonomi warga.
“Bagian yang sekarang adalah penyelesaian infrastruktur di daerah yang memang padat dengan wisatawan, di mana warga juga berkegiatan ekonominya tinggi,” ujar dia.
Tahap berikutnya diarahkan pada kawasan pusat perekonomian. Mulai tahun depan, perbaikan jalan, trotoar, dan drainase akan difokuskan di sejumlah kawasan ekonomi, termasuk koridor Sayap Sudirman dan Sayap Peta.
“Kemudian tahun depan kita akan fokus kepada perbaikan infrastruktur jalan, trotoar, drainase di wilayah pusat perekonomian. Ya seperti Sayap Sudirman, Sayap Peta dan lain-lain,” ucapnya.
Sementara tahap terakhir diarahkan pada persoalan banjir. Farhan menargetkan penanganan banjir secara lebih menyeluruh mulai 2028, terutama di wilayah permukiman yang selama ini menghadapi persoalan genangan.
“Kemudian yang terakhir, tahun 2028, kita akan fokus kepada masalah penanganan banjir secara tuntas. Karena masalah banjir, maka masuk ke kewilayahan permukiman,” pungkas dia.
Editor : Ahmad Sayuti

