Firman Hananto: Jangan Asal Cuan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
KEMUDAHAN mengakses berbagai instrumen keuangan membuat investasi semakin dekat dengan generasi Z (Gen Z).
Lewat ponsel, anak muda bisa mengenal pasar modal dan mulai menanamkan modal. Namun, mengejar cuan tanpa memahami cara kerja produk dan risikonya justru bisa berujung buntung.
Deputi Wilayah Jawa Barat Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Barat, Firman Hananto, mengingatkan masyarakat agar tidak mengambil keputusan investasi tanpa bekal pengetahuan dan analisis yang memadai. Edukasi menjadi langkah awal untuk mengenali peluang sekaligus mengantisipasi kerugian.
“Investasi tanpa edukasi adalah berbahaya. Walaupun kita berinvestasinya di instrumen investasi, ataupun di lembaga investasi yang memang sudah ada pengawasannya,” kata Firman, Selasa (27/10).
Menurutnya, status resmi dan pengawasan suatu lembaga tidak serta-merta m e n g h i - l a n g k a n risiko kerugian.
Calon i n v e s t o r tetap perlu memahami produk yang dipilih, mekanisme kerjanya, proses pembentukan produk, hingga cara menganalisis potensi keuntungan dan memitigasi risiko.
Tanpa pemahaman tersebut, keputusan menempatkan uang bisa berubah menjadi sekadar tebakan. Investor mungkin berharap memperoleh keuntungan, tetapi tidak memiliki dasar yang cukup untuk menilai peluang maupun kemungkinan kerugian.
“Kalau teman-teman atau masyarakat membeli instrumen investasi tanpa dasar, sama saja seperti kita spekulan. Spekulan sama saja seperti berjudi,” ucapnya.
Peringatan itu tidak hanya ditujukan kepada mereka yang membeli saham. Menurut Firman, siapa pun yang hendak menjadi investor, termasuk di luar pasar modal, perlu memahami karakteristik produk dan risiko yang menyertainya.
“Bukan cuma Gen Z saja, tetapi semua orang yang mau menjadi investor harus memahami produknya, risikonya dan bagaimana cara mengambil keuntungan,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, Gen Z sebenarnya memiliki peluang untuk memperluas pengetahuan keuangan. Informasi mengenai pasar modal dan berbagai instrumen investasi semakin mudah dijangkau. Namun, kemudahan itu perlu diikuti kemampuan memilah informasi dan menguji kebenaran tawaran yang beredar.
Literasi menjadi bekal agar keputusan finansial tidak semata- mata mengikuti tren, ajakan orang lain, atau iming-iming keuntungan besar. Sebelum menanamkan modal, calon investor perlu mengenali tujuan keuangan, memahami produk, serta menimbang risiko sesuai kemampuan masing-masing.
Melalui kegiatan literasi saham, Firman berharap generasi muda dapat membangun pemahaman yang lebih baik sebelum memasuki dunia investasi.
“Harapannya dengan kegiatan ini, masyarakat khususnya Gen Z bisa menjadi investor yang cerdas,” pungkasnya. (yogo triastopo/gin)
Editor : Inilahkoran
