G-Dragon Telah Temukan Jalan Baru untuk Mempertahankan Ketenarannya
G-Dragon kini diduga telah menemukan jalan baru untuk mempertahankan popularitasnya setelah terlibat kontroversi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Baru-baru ini penyanyi G-Dragon BIGBANG meluncurkan JusPeace Charity Foundation untuk mendukung para seniman muda dalam mengatasi kecanduan narkoba.
Sebelumnya, pada bulan Juni 2024, G-Dragon berpartisipasi dalam forum Innovate Korea di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), di mana dia ditunjuk sebagai dosen tamu di Departemen Teknik Mesin.
Awal tahun ini, leader BIGBANG itu juga tampil di CES 2024, pameran dagang terbesar di dunia untuk e-commerce, konsumen, dan informasi teknologi, yang diadakan di Las Vegas.
Pameran tersebut memamerkan kemajuan terbaru dalam teknologi kecerdasan buatan.
Kritikus musik Lim Hee Yun percaya bahwa G-Dragon berusaha Mempertahankan popularitasnya dengan merintis Jalan baru dan menjadi ikon budaya.
“G-Dragon kini dianggap sebagai artis yang sudah melewati masa jayanya. Bagi generasi muda saat ini, dia sudah dianggap sebagai 'paman'. Meski BIGBANG pernah dianggap sebagai ikon K-Pop, mereka belum mencapai kesuksesan global seperti BTS,” jelasnya.
Dia menambahkan, "mungkin dia ingin Mempertahankan reputasi dan statusnya sebagai ikon budaya dengan menantang dirinya di bidang baru."
Seorang pejabat industri hiburan setuju bahwa G-Dragon selalu terbuka terhadap proyek dan eksperimen baru.
“G-Dragon selalu menonjol dibanding artis lain. Kreativitasnya dalam bermusik, mode, dan seni telah menjadikannya berbeda, menjadikannya ikon budaya yang memiliki banyak sisi,” lanjutnya.
“Langkah-langkah G-Dragon baru-baru ini kemungkinan merupakan keputusannya sendiri, karena artis sekelasnya biasanya memiliki suara yang lebih kuat di perusahaan manajemennya terkait aktivitas di masa mendatang,” ungkap pejabat tersebut.
Namun, pejabat tersebut menegaskan bahwa G-Dragon seharusnya tidak meluncurkan JusPeace Foundation secara terbuka, karena hal itu dapat mengingatkan orang pada kontroversi penggunaan narkoba di masa lalu.
Pemimpin BIGBANG tersebut sebelumnya melakukan tuduhan penggunaan ganja pada tahun 2011 tetapi tidak menuntut.
Pada bulan Oktober tahun lalu, G-Dragon sekali lagi mengirimkan permintaan kepada polisi Incheon atas penggunaan narkoba, tetapi tidak ada tuntutan yang disampaikan karena kurangnya bukti yang kuat.
Kritikus budaya Bae Kuk Nam berpendapat bahwa pendirian yayasan ini penting, meski bertujuan untuk memulihkan citra G-Dragon yang tercoreng akibat insiden narkoba.
Tentu saja, beberapa orang mungkin melihat aktivitas G-Dragon baru-baru ini sebagai upaya untuk memperbaiki citranya setelah kejadian ganja sebelumnya, terangnya.
“Namun, saya melihat secara positif bagaimana G-Dragon memanfaatkan pengaruh dan popularitas globalnya untuk memberikan dampak positif pada masyarakat,” ungkap Bae Kuk Nam.
G-Dragon dikenal sebagai salah satu trendsetter yang tersekses dalam sejarah K-Pop. Dia menjadi idola K-Pop pertama yang menggelar pameran seni tunggal di Museum Seni Seoul pada tahun 2015 dan berpartisipasi dalam lelang khusus dengan Sotheby's pada tahun 2019.
Pemimpin BIGBANG ini juga telah menjadi duta global untuk merek mewah Prancis Chanel sejak tahun 2016.***
Editor : Irma Nurfajri

