Galeri Investasi, BEI Sebarkan Kesadaran Pasar Modal Melalui Agen Perubahan

BEI sebarkan kesadaran pasar modal untuk menjadi agen perubahan untuk mencegah invetasi ilegal

Galeri Investasi, BEI Sebarkan Kesadaran Pasar Modal Melalui Agen Perubahan
Bank bjb menggandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Achmad Yani (FEB Unjani) serta Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar roadshow sosialisasi bertajuk Gen Z Melek Investasi, Senin (11/5/2026).

INILAHKORAN.ID – Menjawab tantangan rendahnya pemahaman keuangan sekaligus maraknya praktik investasi bodong, pinjaman online ilegal, hingga perjudian daring, Bank bjb menggandeng Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Achmad Yani (FEB Unjani) serta Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar roadshow sosialisasi bertajuk Gen Z Melek Investasi, Senin (11/5/2026).

Kegiatan ini dihelar secara khusus untuk membekali mahasiswa sebagai generasi muda dan agen perubahan, agar tidak hanya paham cara berinvestasi yang benar, namun juga mampu memilah mana instrumen keuangan yang sah dan berisiko merugikan. 

Acara ini menghadirkan para praktisi dan akademisi terkemuka sebagai pembicara, antara lain Direktur Utama Sekuritas bjb Dr. Maryadi Suwondo, Deputi Kepala Wilayah Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat Firman Hananto, Pemimpin Divisi Dana dan Jasa Konsumer bjb Maman Rukmana, serta Dosen FEB Unjani Frido S. Simatupang.

"Kehadiran kantor perwakilan di 29 titik di seluruh Indonesia, termasuk Jawa Barat memiliki misi utama menyebarkan kesadaran pasar modal secara merata ke masyarakat luas," kata Perwakilan BEI Jawa Barat, Firman Hananto usai kegiatan.

Firman menyebut, salah satu wujud nyata dari misi tersebut, yakni adanya pendirian galeri investasi yang juga telah beroperasi di lingkungan FEB Unjani

"Berbeda dengan konsep inkubasi usaha, galeri ini berfungsi sebagai pusat literasi, inklusi, dan aktivasi pengetahuan keuangan, dengan materi yang disusun berjenjang, mulai dari dasar, menengah, hingga panduan teknis pelaksanaan transaksi," sebutnya.

Firman menjelaskan, pendekatan ini sengaja dipilih agar siapa saja, terutama mahasiswa agar bisa belajar secara bertahap sesuai kemampuan dan kebutuhan, serta didampingi langsung oleh tim dari perusahaan sekuritas yang menjadi mitra resmi BEI.

“Sistem pembelajarannya terstruktur dan bertahap. Jika ada yang baru mulai, kami berikan materi dasar. Jika sudah paham, bisa naik ke level analisis mendalam, termasuk cara membaca data fundamental dan teknikal saham, yang diajarkan langsung oleh tenaga ahli dari sekuritas mitra kami," jelasnya.

"Semua ini dibangun agar pemahaman tidak sekadar teori, tapi bisa dipraktikkan dengan benar dan aman,” ucapnya.

Tak cuma itu, Firman juga menilai, edukasi tersebut bisa menjadi benteng utama agar generasi muda tidak mudah terjebak tawaran investasi ilegal yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal, yang kerap menjerat pemula karena minim pengetahuan.

"Tantangan terbesar saat ini bukan hanya rendahnya minat berinvestasi, namun juga minimnya kemampuan membedakan instrumen legal dan ilegal," ujarnya.

Dirinya juga mengapresiasi kolaborasi lintas pihak dalam kegiatan ini, yang dinilai memiliki tujuan mulia, yakni melindungi generasi muda dari jeratan pinjaman daring ilegal, perjudian daring, dan penipuan investasi. 

"Peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI saling melengkapi dalam memberikan pemahaman mengenai ciri-ciri investasi yang sah, agar masyarakat memiliki bekal pengetahuan sebelum menanamkan dana," imbuhnya.

Ditanya terkait kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tengah mengalami masa koreksi, Firman meyakini saham menjadi salah satu instrumen unggulan untuk rencana keuangan jangka panjang. 

Berdasarkan data pertumbuhan 10 tahun terakhir, pasar modal Indonesia masih menunjukkan tren kenaikan yang positif meski memiliki sifat fluktuatif atau naik turun dalam jangka pendek.

"Ini menjadikan saham tetap relevan bagi Gen Z yang ingin membangun aset sejak dini, asalkan didasari pemahaman yang benar dan tidak mengandalkan spekulasi semata," katanya.

Firman menyebut, kemudahan akses menjadi poin penting yang disampaikan dalam sosialisasi ini. Pasalnya, menjadi investor pasar modal saat ini sangat sederhana dan serba daring. 

"Syarat utamanya hanya memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan rekening tabungan pribadi. Pendaftaran bisa dilakukan lewat aplikasi resmi milik masing-masing perusahaan sekuritas, tanpa perlu datang ke kantor cabang, sehingga bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja," paparnya. 

"Seluruh proses bersifat transparan, dan pihak sekuritas akan memandu calon investor hingga akun aktif dan siap digunakan," imbuhnya.

Firman berharap kegiatan serupa tidak berhenti hanya di Bandung atau tahun ini saja, namun bisa diperluas ke seluruh wilayah Jawa Barat yang tingkat literasi keuangannya masih tergolong rendah. 

"Posisi strategis mahasiswa sebagai agen perubahan, yang setelah teredukasi diharapkan mampu menyebarkan pengetahuan ini ke lingkungan sekitarnya, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas dan menciptakan masyarakat yang cerdas serta aman dalam berinvestasi," ujarnya. ***


Editor : Ahmad Sayuti