bjb, Unjani, dan BEI Edukasi Mahasiswa Hindari Investasi Bodong
bjb, Unjani dan BEI memberikan edukasi kepada mahasiswa agar tidak terjebak dalam investasi bodong
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Bank bjb berkolaborasi dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Achmad Yani (FEB Unjani) serta Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar roadshow sosialisasi dan edukasi investasi serta saham dengan tema Gen Z Melek Investasi.
Tak cuma itu, kegiatan yang menggaet media Inilahkoran.id dirancang untuk membekali kaum muda, khususnya mahasiswa, dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang tepat dalam berinvestasi, sekaligus meminimalkan risiko terjebak dalam praktik investasi ilegal atau tidak bertanggung jawab.
Acara yang berlangsung di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unjani ini juga menjadi langkah strategis peningkatan literasi keuangan ini menghadirkan sejumlah pembicara kompeten, yakni Direktur Utama Sekuritas bjb DR Maryadi Suwondo, Deputi Kepala Wilayah Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat Firman Hananto, Pemimpin Divisi Dana dan Jasa Konsumer bjb Maman Rukmana, serta Dosen FEB Unjani Frido S. Simatupang.
Dalam sesi wawancara, DR Maryadi mengungkapkan, kegiatan ini tak hanya sekadar menyampaikan materi, melainkan fondasi penting agar Gen Z tidak hanya cepat menerima informasi, namun juga memahami dasar hukum dan aturan dalam dunia investasi riil.
“Gen Z memang sangat cepat menangkap informasi, namun banyak dari mereka yang justru tergoda tawaran investasi yang tidak jelas dasarnya, mulai dari investasi bodong, judi daring, hingga skema ilegal lainnya," kata Maryadi usai kegiatan sosialisasi, Senin (11/5/2026).
Padahal, terang Maryadi, investasi yang benar dan berlandaskan regulasi masih minim dipahami. Menurutnya, edukasi ini sangat penting lantaran pengetahuan yang didapat di kampus bisa menyebar luas, mulai dari keluarga, teman, maupun komunitas mereka.
"Ini menjadi penguatan dasar, yang nanti disusul pengembangan keterampilan hingga praktik langsung, karena mahasiswa sudah diperbolehkan berinvestasi secara nyata,” terangnya.
Profil Mahasiswa Agresif dan Cenderung FOMO, Butuh Fondasi Ilmu Kuat
Salah satu poin kritis yang disorot dalam kegiatan ini, yakni karakteristik generasi muda dalam berinvestasi. Menurut, Maryadi, profil mahasiswa umumnya bersifat agresif, memiliki rasa ingin tahu tinggi dan rentan terhadap fenomena FOMO atau takut tertinggal tren.
"Tanpa dasar pengetahuan yang kuat, karakter ini justru berisiko mendorong keputusan investasi yang keliru dan merugikan," tegasnya.
Maryadi menilai, investasi yang paling cocok bagi kalangan mahasiswa tetap mengacu pada kemampuan dan pemahaman masing-masing individu, dengan pilihan yang tersedia di pasar modal resmi seperti saham, reksa dana, hingga obligasi.
“Perlu dibedakan jelas, menabung itu menyimpan, sedangkan berinvestasi itu menanam dana untuk hasil jangka panjang. Semua pilihan boleh diambil, asalkan didasari ilmu dan prinsip yang benar, bukan sekadar ikut-ikutan,” ujarnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam sosialisasi tersebut, lanjut Maryadi, juga menunjukkan kesenjangan mencolok antara tingkat inklusi dan literasi keuangan.
"Angka inklusi keuangan mencapai 80%, namun tingkat literasi hanya 66%. Artinya, ada sekitar 14% masyarakat yang sudah memiliki akses atau akun investasi, tetapi sama sekali belum memahami cara kerja, risiko, maupun manfaatnya. Inilah alasan utama mengapa sosialisasi berkelanjutan sangat diperlukan," paparnya.
Sekuritas bjb: Edukasi Tanpa Penjualan Keras dan Teknologi Andal
Sebagai perusahaan sekuritas milik daerah, ungkap Maryadi, Sekuritas bjb menonjolkan keunggulan dalam pendekatan edukasi serta dukungan modal yang kokoh dari induk usahanya, Bank bjb.
Ia menjelaskan, strategi yang diterapkan bukanlah penjualan produk secara agresif atau hard selling, melainkan 'menanam pohon pengetahuan' agar calon investor benar-benar paham sebelum mengambil keputusan.
“Kami bahkan memiliki galeri edukasi yang bisa diakses mulai dari tingkat sekolah menengah. Kolaborasi dengan Bank bjb juga menjadi kekuatan tersendiri, karena kami memiliki fundamental keuangan yang kuat dan menjadi pilihan terpercaya masyarakat Jawa Barat untuk kebutuhan simpanan maupun investasi,” bebernya.
Dalam menghadapi persaingan industri yang kian didorong teknologi, lanjut Maryadi, Sekuritas bjb terus beradaptasi dan menjadikan inovasi sebagai prioritas utama. Menurutnya, disrupsi teknologi mengubah cara kerja industri jasa keuangan, pesaing bukan lagi lembaga keuangan lain, melainkan kemajuan teknologi itu sendiri.
“Sama seperti layanan ojek daring, siapa yang tidak menyesuaikan diri, pasti tertinggal. Kami pun mengembangkan sistem hingga memanfaatkan kecerdasan buatan agar layanan tetap relevan,” katanya.
Maryadi menyebut, sekuritas bjb memiliki dua aplikasi unggulan, yakni Digi untuk layanan perbankan dan BOFIS untuk layanan sekuritas. "Keduanya dikembangkan sesuai standar regulasi, menjamin kecepatan akses, serta keamanan data nasabah," tandasnya. ***
Editor : Ahmad Sayuti

