Kisah Carsim Bangun Tape Ketan Pamella hingga Jadi Ikon Oleh-Oleh Kuningan
Carsim mengembangkan Tape Ketan Pamella sejak 1996 hingga menjadi oleh-oleh khas Kuningan. Usahanya tumbuh berkat ketekunan dan dukungan bank bjb.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Sebuah langkah besar terkadang lahir dari sesuatu yang sederhana. Bagi Carsim (59), warga RT 06/RW 02, Desa Tarikolot, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, inspirasi membangun usaha tape ketan justru muncul dari suasana Idul Fitri.
Sekitar 1996, tradisi masyarakat membuat dan membeli tape ketan menjelang Lebaran membuka pandangan baru bagi Carsim. Ia melihat makanan yang selama ini identik dengan sajian khas masyarakat Kuningan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi sebuah usaha.
Dari pengamatan sederhana itulah, Carsim mulai merintis bisnis tape ketan yang kemudian diberi merek tape ketan Pamella.
"Sejujurnya, ide awal muncul ketika momen Lebaran atau Idul Fitri. Warga sekitar banyak sekali yang membuat tape ketan. Saya kemudian berpikir untuk mencoba berjualan," ujar Carsim saat berbincang dengan INILAHKORAN, Kamis (28/8/2026).
Keputusan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Carsim dalam membangun usaha berbasis potensi lokal. Tidak langsung besar, usaha itu dirintis dengan berbagai keterbatasan.
Persoalan pemasaran, modal usaha, konsumen yang tidak membayar pesanan, hingga fluktuasi harga bahan baku menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi.
Namun, berbagai kendala tersebut tidak membuat Carsim berhenti. Ia justru melihat peluang lebih besar untuk menjadikan tape ketan bukan sekadar makanan yang ramai dicari ketika Lebaran, melainkan produk kuliner yang dapat dibawa pulang sebagai oleh-oleh khas Kabupaten Kuningan.
Pilihan Carsim mengembangkan tape ketan juga ditopang kondisi lingkungan sosial dan ketersediaan sumber daya di sekitar tempat tinggalnya.
Desa Tarikolot memang telah lama dikenal sebagai salah satu sentra produksi tape ketan di Kabupaten Kuningan. Kondisi tersebut menjadi modal sosial bagi perkembangan usaha. Keterampilan membuat tape ketan telah dimiliki banyak warga sehingga kegiatan produksi dapat sekaligus melibatkan masyarakat sekitar.
"Optimisme saya waktu itu karena hampir semua tetangga bisa membuat tape ketan. Bahan bakunya juga relatif mudah diperoleh. Termasuk daun jambu yang banyak tersedia di daerah kami," tutur Carsim.
Perjalanan panjang itu perlahan membuahkan hasil. Dari usaha yang awalnya dirintis secara sederhana, tape ketan Pamella berkembang menjadi salah satu produk olahan pangan khas Kuningan yang dipasarkan ke berbagai daerah.
Dukungan bank bjb untuk Pengembangan UMKM
Perjalanan Carsim dalam mengembangkan tape ketan Pamella tidak hanya dibangun melalui kerja keras dan ketekunan. Ia mengaku pertumbuhan usaha yang dirintisnya juga ditopang dukungan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Kuningan dan sektor perbankan, khususnya bank bjb.
Bagi Carsim, bank bjb menjadi salah satu mitra penting dalam perjalanan panjang usahanya. Ia mengaku telah menjadi nasabah bank bjb sejak 2005, ketika pertama kali mengajukan pinjaman modal usaha sebesar Rp5 juta.
Modal tersebut menjadi salah satu pijakan penting bagi Carsim untuk mengembangkan usahanya secara bertahap. Dari pinjaman awal tersebut, hubungan antara tape ketan Pamella dan bank bjb terus berlanjut hingga kini.
"Saya dulu tertarik dengan bank bjb karena memiliki program kredit untuk UMKM dengan bunga ringan. Karena itu, saya memberanikan diri mengajukan bantuan permodalan. Alhamdulillah, berkat modal tersebut, tahap demi tahap Pamella bisa bertahan sampai sekarang dan bahkan menjadi nasabah prioritas," ujar Carsim.
Menurutnya, dukungan bank bjb tidak berhenti pada akses permodalan. Sebagai pelaku UMKM, Carsim juga memperoleh kesempatan mengikuti berbagai kegiatan promosi dan pameran yang difasilitasi bank bjb.
Kesempatan tersebut dinilai memberikan manfaat besar karena membuka akses tape ketan Pamella kepada konsumen yang lebih luas sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan produk khas Kuningan ke luar daerah.
"bjb sering sekali memfasilitasi kami dalam berbagai ajang pameran, terutama di Bandung. Itu sangat membantu mendongkrak penjualan. Kami bukan hanya diberikan tempat untuk berjualan, tetapi juga mendapatkan berbagai fasilitas pendukung," katanya.
Bagi Carsim, kesempatan mengikuti pameran memiliki arti penting bagi keberlangsungan UMKM. Selain berpotensi meningkatkan transaksi secara langsung, kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk, membangun jejaring, sekaligus membaca selera pasar.
Hal itu menjadi semakin penting di tengah persaingan produk makanan dan oleh-oleh yang semakin beragam. Produk lokal tidak cukup hanya mengandalkan kualitas rasa, tetapi juga membutuhkan strategi pemasaran, kemasan yang menarik, serta akses pasar yang lebih luas.
tape ketan Pamella Kini Menjangkau Berbagai Daerah
Setelah lebih dari dua dekade menjadi nasabah bank bjb, Carsim berharap hubungan tersebut dapat terus terjaga dan berkembang. Ia berharap bank bjb tidak hanya mempertahankan dukungan permodalan, tetapi juga semakin memperluas ruang pendampingan dan promosi bagi pelaku UMKM.
"Harapannya, ke depan bank bjb dapat terus memberikan pendampingan secara berkala dan memberikan ruang bagi kami untuk mengikuti berbagai pameran. Dukungan seperti itu sangat membantu kami untuk terus berkembang dan memperluas pasar," tutur Carsim.
Berkat kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, pemasaran tape ketan Pamella yang pada masa awal masih dilakukan secara terbatas kini telah berkembang. Produk tersebut telah memiliki sejumlah outlet di Kabupaten Kuningan, Cirebon, hingga Jakarta.
Pemesanan secara daring melalui marketplace juga memungkinkan tape ketan Pamella menjangkau konsumen di luar Pulau Jawa.
Pertumbuhan usaha tersebut turut memberikan dampak langsung terhadap masyarakat di sekitar tempat produksi. Carsim menyebut jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam proses produksi terus bertambah.
Pada awalnya, usaha tersebut melibatkan sekitar 20 tenaga kerja perempuan. Seiring meningkatnya aktivitas usaha, tenaga kerja laki-laki pun mulai direkrut, terutama untuk membantu proses pemuatan dan kegiatan pendukung lainnya.
Kini, kemampuan produksi tape ketan Pamella mencapai sekitar 200 hingga 300 ember per hari. Angka tersebut menunjukkan perkembangan signifikan dibandingkan masa awal ketika usaha masih dirintis secara sederhana.
Dari inspirasi sederhana saat momen Lebaran, Carsim berhasil membawa tape ketan Pamella melewati perjalanan panjang selama puluhan tahun. Produk yang berangkat dari tradisi kuliner lokal itu kini berkembang menjadi salah satu pilihan oleh-oleh khas Kuningan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya.
Editor : Ahmad Sayuti

