INILAH, Purwakarta - Tahun lalu Pemkab Purwakarta membuat beberapa mahakarya. Di antaranya fasilitas publik yang bisa dipakai untuk rekreasi sekaligus sarana edukasi. Sebut saja museum dengan konsep digital yang diberi nama Diorama.
Selain diorama, pemkab setempat pun membangun sejumlah fasilitas publik berbasis pariwisata edukasi lainnya. Dalam pembangunan ini, lokasinya memanfaatkan gedung milik pemerintah.
Seperti yang ada di kawasan perkantoran Setda Pemkab Purwakarta. Pemerintah setempat memanfaatkan salah satu bangunan perkantoran, menjadi lokasi wisata sekaligus sarana pendidikan. Galeri Wayang, begitulah sebutan untuk objek wisata baru. Posisi bangunannya, persis bersebelahan dengan kantor Bupati Purwakarta.
Kepala Bidang Pariwisata dan Budaya, Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Budaya (Disporaparbud) Kabupaten Purwakarta, Heri Anwar menjelaskan, sejak beberapa tahun ini pihaknya konsen untuk berbenah mengembangkan potensi pariwisata yang ada.
Tak heran, jika saat ini terdapat berbagai ragam pilihan objek wisata di Purwakarta. Selain objek wisata berbasis alam (lingkungan), religi, ada juga yang berbasis edukasi. Salah satunya Galeri Wayang ini. "Di galeri ini, masyarakat bisa mendapatkan berbagai informasi sejarah soal pewayangan nusantara," ujar Heri.
Galeri wayang ini, terang Heri, merupakan gagasan dari mantan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Saat itu, Dedi ingin anak-anak muda zaman now, tetap mengenal wayang. Sebab, wayang memiliki karakter yang kuat, dibanding dengan tokoh-tokoh superhero buatan barat.
Apalagi, wayang merupakan produk kebudayaan warisan nenek moyang. Dengan begitu, keberadaannya harus dilestarikan. Supaya, anak-anak tertarik akan wayang, maka Bupati Dedi berupaya membuat area yang unik, menarik, aman, dan terjangkau, yang isinya mengenai perwayangan.
Saat ini, kata dia, koleksi wayang di galeri ini sudah barvariasi. Seperti, wayang betawi, wayang cepak Cirebon, wayang suket yang terbuat dari ilalang, wayang asal Jabar, serta wayang klitik asal Surabaya. Wayang yang ditampilkan ada yang terbuat dari kayu serta kulit.
Galeri ini, terbuka untuk umum. Masyarakat, bisa mengunjunginya mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB. Untuk masuk ke galeri ini, tidak perlu mengeluarkan biaya. Mengingat, tidak ada tarif alias gratis. Akan tetapi, syaratnya masyarakat harus bisa menjaga kebersihan serta kenyamanan pengunjung lainnya.
Ada dua ruang utama dalam galeri ini. Ruangan pertama, lanjut Heri, yaitu area yang menyeritakan sejarah pewayangan nusantara. Tak hanya informasi sejarah perwayangan, di ruangan ini juga terdapat relief-relief yang menggambarkan cerita perwayangan asal India, yakni Mahabharata dan Ramayana.
Kemudian, kata dia, ruangan kedua, diisi oleh ratusan wayang-wayang yang terbuat dari kayu, kulit dan suket. Tak hanya itu, di ruangan ini juga terdapat topeng-topeng. Wayang dan topeng ini, bisa dimanfaatkan oleh pengunjung untuk diperankan sesuai tokoh pewayangannya. "Kalau ada anak yang hobi mendalang, bisa memainkan wayang di galeri ini," ujarnya.
Heri menambahkan, di lokasi ini pengunjung pun bisa belajar membuat wayang. Terutama, wayang golek khas Jawa Barat. Karena, di lokasi itu pun ada seorang perajin yang diberdayakan untuk membimbing mereka yang ingin belajar membuat wayang.