Gedung Setda Retak, ASN Kota Cirebon Berkantor di Mal
Para ASN Setda Kota Cirebon kini harus berkantor di mal lantaran gedung Setda Cirebon mengalami keretakan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Retakan di Gedung Seta Kota Cirebon tak lagi bisa disembunyikan. Kekhawatiran para ASN pun memuncak. Mereka kini berkantor di mal untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
Gedung Setda yang semula dirancang sebagai pusat kendali pemerintahan Kota Cirebon kini justru memancarkan kecemasan. Bukan hanya soal estetika yang runtuh, melainkan soal keselamatan.
"Tiap hari saya khawatir. Takut runtuh soalnya banguna sudah retak. Kalau runtuh, kami disini mau bagaimana," ungkap salah satu ASN dilingkungan Setda Kota Cirebon yang enggan disebutkan namanya itu, Minggu 1 Februari 2026.
Kekhawatiran itu akhirnya berujung pada keputusan yang nyaris tak pernah terdengar sebelumnya. Mulai Maret 2026, Pemkot Cirebon akan mengungsikan sekitar 170 pegawai dari Gedung Setda. Bukan ke gedung pemerintah lain, melainkan ke sebuah pusat perbelanjaan yaitu Grage City Mall.
Keputusan yang terdengar janggal, bahkan absurd. Namun bagi Pemkot, langkah ini tak lagi soal gengsi birokrasi, melainkan soal nyawa.
"Relokasi ini bukan mendadak. Sudah masuk agenda resmi,” ujar Asisten Administrasi Umum Pemkot Cirebon, Arif Kurniawan.
Menurutnya, relokasi ratusan ASN dijadwalkan setelah Lebaran. Pemerintah menyiapkan anggaran untuk kebutuhan dasar yaitu listrik, jaringan internet, hingga penyekatan ruang kerja dan utungnya Pemkot Cirebon menempati Grage City Mall secara gratis.
Menururut Arif, relokasi hanyalah awal dari rangkaian penyelamatan gedung yang terlambat. Pemkot mengantongi Bantuan Gubernur senilai Rp15 miliar untuk perbaikan fisik, ditambah Rp500 juta untuk penyusunan Detail Engineering Design (DED).
"Politeknik Negeri Bandung dilibatkan untuk menghitung ulang struktur bangunan. Ini langkah awal supaya gedung tersebut nanti bisa dipakai secara aman," ungkapnya.
Seperti diketahui, kasus ini mencuat Gedung Setda mencuat beberapa bulan lalu. Ketika, hasil pemeriksaan teknis sebelumnya sudah lebih dulu membunyikan alarm bahaya. Dalam konferensi pers penetapan tersangka kasus Gedung Setda, penyidik Kejaksaan Negeri Kota Cirebon saat itu, mengungkap fakta mengejutkan yaitu bangunan tersebut memiliki potensi rusak serius jika terjadi gempa bumi.
"Sejak awal, gedung ini dibangun tidak sesuai spesifikasi dan standar keamanan,” ungkap penyidik Kejari saat itu.
Kerusakan yang ditemukan bukan sekadar polesan yang gagal, melainkan cacat struktural yang membuat bangunan jauh dari rasa aman. Retakan terlihat kasat mata, cukup untuk membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum melangkah masuk. Padahal, secara teori, gedung semacam itu seharusnya mampu bertahan hingga setengah abad.
"Kalau dikerjakan dengan benar, bisa 50 tahun,” lanjut penyidik.
alimat itu terdengar sederhana, namun menyimpan ironi panjang tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik proyek multiyears bernilai ratusan miliar tersebut. Lalu, kasus ini kini menyeret tujuh tersangka, dari unsur pejabat hingga pihak swasta.
Nama mantan Wali Kota Cirebon pun ikut tercantum. Kerugian negara, berdasarkan perhitungan tim ahli Polban, mencapai Rp26,5 miliar, sebuah angka yang tak hanya merepresentasikan uang yang hilang, tetapi juga rasa aman yang ikut terkikis.
Proyek yang dibangun pada rentang 2016–2018 itu awalnya digadang-gadang sebagai simbol kemajuan birokrasi. Namun waktu membalik narasi. Gedung Setda kini berdiri sebagai monumen kegagalan tentang spesifikasi yang diabaikan, pengawasan yang longgar, dan korupsi yang merembes hingga ke tulang bangunan.
Kini, ketika para ASN harus berkantor di mal demi menghindari risiko runtuhan, publik disodori kenyataan pahit. Bahwa bangunan pemerintahan bisa saja megah dari luar, tetapi rapuh di dalam. Bahwa pelayanan publik tak selalu runtuh karena kekurangan anggaran, melainkan karena kejujuran yang sejak awal retak.
Editor : Ahmad Sayuti

