Gen Z dan Godaan Keuangan Digital
Kemudahan akses investasi dan transaksi digital membuat generasi muda makin dekat dengan dunia keuangan. Literasi pengelolaan uang perlu diperkuat sejak kuliah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kemudahan akses investasi dan transaksi digital membuat generasi muda makin dekat dengan dunia keuangan. Namun di balik itu, literasi pengelolaan uang dinilai masih perlu diperkuat sejak bangku kuliah.
Banyak anak muda hari ini akrab dengan transaksi digital, belanja daring, hingga investasi yang viral di media sosial. Namun di balik kemudahan itu, tak sedikit yang sebenarnya belum benar-benar memahami cara mengelola uang dengan sehat.
Fenomena pekerja muda yang baru menerima gaji tetapi sudah terlilit utang menjadi perhatian berbagai pihak. Kebiasaan konsumtif, takut tertinggal tren, hingga minimnya pemahaman soal perencanaan keuangan dinilai menjadi persoalan yang perlu dicegah sejak bangku kuliah.
Lewat kolaborasi antara bank bjb, bjb Sekuritas, Bursa Efek Indonesia, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Achmad Yani, edukasi literasi keuangan pun digelar untuk mahasiswa sebagai bekal menghadapi dunia kerja dan kehidupan finansial di masa depan.
Pemimpin Divisi Dana dan Jasa Konsumer bank bjb, Maman Rukmana, mengatakan tujuan utama kegiatan itu bukan sekadar mengenalkan produk keuangan, melainkan membangun kesadaran dasar mengenai pentingnya mengatur uang sejak muda.
“Banyak anak muda yang pintar secara akademik, tapi belum paham cara mengelola penghasilan. Akibatnya, begitu bekerja, penghasilan habis untuk kebutuhan konsumtif atau malah terjebak utang. Kami ingin mengubah pola pikir itu, menabung bukan sisa dari pengeluaran, tapi pengeluaran dari sisa yang sudah ditabungkan,” tuturnya, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, kebiasaan menyisihkan uang harus mulai dibangun sejak mahasiswa masih hidup dari uang saku. Langkah kecil itu dinilai akan menjadi fondasi penting menuju kebebasan finansial ketika mereka mulai bekerja nanti.
Sebagai bagian dari solusi praktis, bank bjb memperkenalkan produk Tandamata Rencana yang dirancang untuk membantu perencanaan keuangan jangka pendek maupun panjang secara digital.
Produk tersebut memungkinkan nasabah menabung secara otomatis harian, mingguan, atau bulanan melalui aplikasi DIGI. Setoran awalnya pun dibuat ringan, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp100 ribu tanpa biaya administrasi, dengan bunga setara deposito.
Tak hanya itu, fitur visualisasi tujuan keuangan menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan. Pengguna dapat memasukkan target yang ingin dicapai, mulai dari membeli laptop, kendaraan, biaya pernikahan, hingga kebutuhan lain.
“Lalu sistem akan membantu menghitung dan mengatur jadwal setoran agar tujuan tersebut bisa tercapai sesuai waktu yang ditetapkan,” ujar Maman.
Seluruh proses pendaftaran hingga pengaturan tabungan disebut dapat dilakukan hanya lewat telepon genggam dalam waktu kurang dari dua menit.
“Kami ingin membuktikan bahwa mengatur keuangan itu tidak rumit, tidak perlu ribet, dan bisa dilakukan kapan saja lewat ponsel,” imbuhnya.
Persoalan literasi keuangan juga menjadi perhatian Maryadi Suwondo. Menurutnya, generasi Z memang sangat cepat menerima informasi, tetapi sering kali rentan terhadap investasi bodong, judi daring, hingga skema ilegal yang menjanjikan keuntungan instan.
“Gen Z memang sangat cepat menangkap informasi, namun banyak dari mereka yang justru tergoda tawaran investasi yang tidak jelas dasarnya, mulai dari investasi bodong, judi daring, hingga skema ilegal lainnya,” ujarnya.
Maryadi menilai karakter anak muda yang agresif dan mudah terdorong fenomena FOMO atau takut tertinggal tren membuat edukasi menjadi semakin penting.
“Tanpa dasar pengetahuan yang kuat, karakter ini justru berisiko mendorong keputusan investasi yang keliru dan merugikan,” tegasnya.
Menurutnya, mahasiswa tetap bisa mulai belajar investasi melalui instrumen resmi seperti saham, reksa dana, maupun obligasi, asalkan dilakukan sesuai kemampuan dan dilandasi pemahaman yang benar.
“Perlu dibedakan jelas, menabung itu menyimpan, sedangkan berinvestasi itu menanam dana untuk hasil jangka panjang. Semua pilihan boleh diambil, asalkan didasari ilmu dan prinsip yang benar, bukan sekadar ikut-ikutan,” ujarnya.
Dalam sosialisasi tersebut juga dipaparkan masih adanya kesenjangan antara tingkat inklusi dan literasi keuangan masyarakat. Angka inklusi keuangan disebut telah mencapai 80 persen, sementara tingkat literasi baru berada di angka 66 persen.
Artinya, masih banyak masyarakat yang sudah memiliki akses terhadap produk investasi, tetapi belum memahami cara kerja, risiko, dan manfaatnya secara utuh.
Sementara itu, Deputi Kepala Wilayah Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Jawa Barat, Firman Hananto, mengatakan mahasiswa perlu dibekali kemampuan memilah instrumen keuangan yang legal dan aman.
“Peran OJK dan BEI saling melengkapi dalam memberikan pemahaman mengenai ciri-ciri investasi yang sah, agar masyarakat memiliki bekal pengetahuan sebelum menanamkan dana,” tambahnya.
Menurut Firman, akses menjadi investor pasar modal kini semakin mudah karena seluruh proses dapat dilakukan secara daring hanya dengan KTP dan rekening tabungan pribadi.
Editor : Doni Ramdhani

