Separuh Mesin Parkir Kota Bandung Mati, Dishub Siapkan Sistem QRIS

Dishub Kota Bandung pun mulai menyiapkan sistem parkir baru berbasis pembayaran digital menggunakan QRIS sebagai solusi jangka panjang

Separuh Mesin Parkir Kota Bandung Mati, Dishub Siapkan Sistem QRIS
Salah satu mesin parkir elektronik yang masih berfungsi di salah satu jalan di Kota Bandung. Dishub tengah mempersiapkan sistem pembayaran parkir digital menggunakan QRIS. Foto Yogo Triastopo/Inilahkoran

INILAHKORAN.ID - Separuh mesin parkir elektronik di Kota Bandung kini sudah tidak lagi beroperasi. Dari sekitar 400 unit yang sebelumnya dipasang di sejumlah titik, hanya sekitar 200 unit yang masih berfungsi. 

Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung pun, mulai menyiapkan sistem parkir baru berbasis pembayaran digital menggunakan QRIS sebagai solusi jangka panjang.

Kepala Dishub Kota Bandung, Rasdian Setiadi menyampaikan, penurunan jumlah mesin parkir yang aktif bukan terjadi dalam waktu singkat. Persoalan, bermula setelah kerja sama antara pemerintah dengan pihak ketiga penyedia mesin parkir berakhir beberapa tahun lalu.

"Perangkat yang masih bisa beroperasi saat ini tinggal sekitar setengah dari jumlah awal. Setelah kerja sama dengan penyedia selesai, proses pemeliharaan menjadi tidak optimal karena dukungan dari vendor sudah tidak ada lagi," kata Rasdian Setiadi, Kamis (16/7/2026).

Dia menjelaskan, perusahaan yang memasok mesin parkir tersebut kini juga sudah tidak beroperasi. Akibatnya ketika terjadi kerusakan pada perangkat, pihaknya kesulitan memperoleh komponen pengganti. Kondisi itu, menyebabkan sebagian mesin tidak dapat diperbaiki dan akhirnya berhenti digunakan.

"Masalah terbesarnya ada pada ketersediaan suku cadang. Karena perusahaan penyedianya sudah tidak beroperasi, komponen pengganti sangat sulit ditemukan sehingga tidak semua mesin bisa kembali difungsikan," ucapnya.

Meski jumlah mesin yang beroperasi berkurang, pelayanan parkir kepada masyarakat tetap berlangsung. Dishub masih mengoptimalkan mesin-mesin yang kondisinya dinilai layak pakai agar pelayanan di lapangan tidak terganggu sambil menunggu penerapan sistem baru.

"Sebagai langkah pembaruan, kami mulai menguji coba pembayaran parkir menggunakan QRIS yang terintegrasi dengan perangkat handheld atau perangkat genggam yang dibawa petugas parkir. Nah sistem tersebut, kami rancang menggantikan ketergantungan pada mesin parkir elektronik yang sudah banyak mengalami kendala," ujar dia.

Menurut Rasdian, penggunaan perangkat handheld memberikan kemudahan karena seluruh proses transaksi dapat dilakukan secara digital. Petugas cukup mencatat kendaraan yang masuk melalui perangkat tersebut. Sementara sistem akan merekam waktu kendaraan masuk, dan keluar secara otomatis.

"Dengan sistem ini, proses pencatatan menjadi lebih sederhana. Lama parkir kendaraan langsung terbaca sehingga tarif yang harus dibayar dapat dihitung secara otomatis sesuai durasi parkir," jelasnya.

Dia menambahkan, penerapan sistem digital tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan transparansi pelayanan parkir. Setiap transaksi, nantinya akan disertai bukti pembayaran atau karcis yang dikeluarkan secara otomatis sehingga masyarakat memiliki bukti pembayaran yang jelas.

Selain memberikan kemudahan bagi pengguna, sistem baru ini juga diyakini dapat meminimalkan potensi perbedaan perhitungan tarif antara petugas dan pengguna jasa parkir. 

"Dengan pencatatan yang lebih akurat, kami berharap pelayanan parkir di Kota Bandung menjadi lebih tertib, transparan dan mengikuti perkembangan sistem pembayaran digital yang semakin banyak digunakan masyarakat," tandas dia.


Editor : Ahmad Sayuti