Gen Z Peduli, Kritik tak Cukup Berhenti

GENERASI Z tak cukup hanya berani bersuara. Kepedulian terhadap bangsa perlu dijaga melalui pemahaman, aksi nyata, dan konsistensi mengawal perubahan.

Gen Z Peduli, Kritik tak Cukup Berhenti
BERANI BERPENDAPAT: Guru Besar Psikologi Sosial dan Perilaku Politik, Fakultas Psikologi Unpad Prof. Dr. Zainal Abidin, M.Si memaparkan pentingnya keberanian menyampaikan pendapat.(UNPAD.AC.ID)

Demonstrasi, kritik terhadap kebijakan pemerintah, hingga perdebatan politik di media sosial menjadi tanda bahwa sebagian anak muda masih menaruh perhatian terhadap persoalan bangsa.

Namun, kepedulian tidak cukup berhenti pada keberanian bersuara. Memahami masalah, memeriksa informasi, dan mengawal perubahan menjadi bagian penting dari partisipasi.

Guru Besar Psikologi Sosial dan Perilaku Politik Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Zainal Abidin, M.Si., menilai keberanian generasi Z menyampaikan pendapat merupakan modal penting dalam kehidupan demokrasi. Meski demikian, keberanian itu perlu diimbangi pengetahuan dan kemampuan memahami persoalan secara utuh.

Kemudahan teknologi digital membuat generasi muda dapat mengetahui berbagai peristiwa politik dalam waktu singkat. Informasi menyebar cepat, tanggapan bermunculan, dan sebuah isu dapat segera menjadi perhatian publik. Namun, cepat mengetahui peristiwa tidak selalu berarti memahami akar masalahnya.

“Mengetahui sebuah peristiwa berbeda dengan memahami penyebab dan akibatnya. Keberanian berkomentar dan melakukan aksi juga perlu disertai kemampuan memeriksa apakah pendapat kita sudah cukup beralasan,” ujar Zainal seperti dikutip dari kanal resmi Unpad, Selasa (27/10).

Bagi anak muda, persoalan bangsa sering kali terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Biaya pendidikan, kesempatan memperoleh pekerjaan, hingga kebijakan yang dianggap tidak adil dapat menjadi alasan untuk menyuarakan kritik. Politik bukan semata urusan elite, melainkan juga menyangkut masa depan generasi yang akan merasakan dampak keputusan hari ini.

Gambaran mengenai perhatian pemilih muda terhadap persoalan tersebut terlihat dalam survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada Agustus 2022. Survei terhadap responden berusia 17–39 tahun itu mencatat kesejahteraan masyarakat sebagai isu yang paling diperhatikan menjelang Pemilu 2024, dengan angka 44,4 persen. Berikutnya, lapangan kerja sebesar 21,3 persen dan pemberantasan korupsi sebesar 15,9 persen. (gin)


Editor : Inilahkoran