Geopix Soroti Kematian Dua Anak Harimau Benggala di Bandung Zoo
Geopix prihatin atas kematian dua anak harimau Benggala berusia delapan bulan di Bandung Zoo, dan dinilai sebagai peringatan serius
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Geopix yang merupakan organisasi lingkungan prihatin atas kematian dua anak harimau Benggala berusia delapan bulan di Bandung Zoo. Peristiwa tersebut dinilai sebagai peringatan serius terkait pengelolaan lembaga konservasi ex-situ di Indonesia.
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menegaskan kematian satwa dilindungi harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, kasus ini tidak boleh dianggap sebagai hal yang wajar.
"Setiap kematian satwa dilindungi di lembaga konservasi ex-situ menjadi alarm keras yang perlu dicermati bersama bahwa masih terdapat kegagalan atas sistem pengelolaan dan pengawasannya," ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Annisa menjelaskan, harimau Benggala termasuk satwa yang dilindungi secara internasional. Dalam kerangka CITES, spesies ini masuk Appendix I, sementara dalam IUCN Red List berstatus terancam punah (Endangered).
Ia bilang, status tersebut membawa konsekuensi bagi pemerintah Indonesia untuk memastikan perlindungan maksimal. Kesejahteraan satwa harus selalu menjadi prioritas seluruh pihak.
"Hal ini berarti bahwa Kementerian Kehutanan cq Direktorat Jenderal KSDAE selaku otoritas pengelola CITES sekaligus sebagai pelaksana mandat konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di Indonesia."
Geopix menilai kematian dua anak harimau di Bandung Zoo menambah daftar panjang persoalan tata kelola di kenun bintang tersebut. Mereka mendesak adanya audit independen yang dilakukan secara menyeluruh dan transparan.
“Kami mendesak Direktorat Jenderal BKSDA untuk tidak hanya melakukan evaluasi administratif, tetapi segera melakukan audit independen menyeluruh dan transparan terhadap kondisi kesehatan, pakan, kandang, dan manajemen satwa," ucapnya.
Geopix juga meminta langkah tegas apabila ditemukan pelanggaran serius, termasuk kemungkinan relokasi satwa. Selain itu, pencegahan penularan penyakit menjadi perhatian utama.
"Yang tidak kalah penting, seluruh proses penyelesaian permasalahan dan langkah perbaikan ke depan di Bandung Zoo harus transparan. Tanpa transparansi, kepercayaan publik dan akuntabilitas tidak akan pernah terbangun," pungkasnya.
Editor : Ahmad Sayuti

