Guru Besar IPB University Gulirkan Inovasi Rekayasa Nutrisi Presisi untuk Tingkatkan Produksi dan Kualitas Susu Sapi
Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) mencatat, populasi sapi perah di Indonesia pada 2024 hanya sekitar 485 ribu ekor. Artinya, hanya ada satu ekor sapi perah untuk melayani kebutuhan sekitar 470 penduduk Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) mencatat, populasi sapi perah di Indonesia pada 2024 hanya sekitar 485 ribu ekor. Artinya, hanya ada satu ekor sapi perah untuk melayani kebutuhan sekitar 470 penduduk Indonesia.
Untuk mengatasi persoalan itu, Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University Idat Galih Permana membuat inovasi rekayasa nutrisi presisi.
"Konsumsi susu masyarakat Indonesia hingga kini masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tetangga. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 mencatat, rata-rata konsumsi susu nasional baru 16,5 liter per kapita per tahun. Angka ini memang naik tipis dari 16,27 liter pada 2022, namun masih sangat jauh dibandingkan Thailand (33 liter), Malaysia (50 liter), apalagi negara maju yang melampaui 100 liter per kapita per tahun," kata Idat, Kamis 28 Agustus 2025.
Idat menerangkan, kebutuhan melonjak drastis seiring pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan dan kesadaran gizi masyarakat. Kebutuhan susu nasional diproyeksikan melonjak tajam, dari sekitar 4,4 juta ton saat ini, konsumsi susu diperkirakan naik menjadi lebih dari 5,5 juta ton pada 2030. Bahkan, dengan adanya program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah, kebutuhan susu nasional bisa mencapai 8,9 juta ton.
"Kondisi ini menimbulkan kesenjangan besar antara permintaan dan ketersediaan. Produksi dalam negeri jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Akibatnya, lebih dari 80 persen bahan baku susu industri masih harus diimpor, dalam bentuk susu bubuk, skim milk, maupun whey, terutama dari Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Ketergantungan pada impor ini membuat industri persusuan nasional rentan terhadap fluktuasi harga global, nilai tukar rupiah, serta gangguan rantai pasok internasional," terangnya.
Idat menjelaskan, produktivitas rendah menurut para pakar, masalah utama bukan hanya jumlah sapi yang terbatas, tetapi juga rendahnya produktivitas per ekor. Sapi Friesian Holstein (FH) di Indonesia rata-rata hanya menghasilkan 12–14 liter susu per ekor per hari, jauh di bawah potensi genetiknya yang bisa mencapai 20–25 liter per hari.
Faktor terbesar yang menyebabkan rendahnya produktivitas ini adalah kualitas pakan yang belum presisi.
"Penambahan populasi sapi tidak akan efektif tanpa diimbangi peningkatan produktivitas. Dan kunci produktivitas ada pada pakan. Rekayasa nutrisi presisi jadi solusi untuk mengatasi masalah tersebut, para peneliti menawarkan pendekatan rekayasa nutrisi presisi," jelasnya.
Idat memaparkan, strategi ini meliputi tiga aspek utama yaitu pertama sinkronisasi nutrien dalam rumen menyelaraskan ketersediaan nitrogen dari Rumen Degradable Protein (RDP) dengan energi dari Non-Fiber Carbohydrates (NFC). Sinkronisasi ini penting agar mikroba rumen dapat menangkap nitrogen-amonia secara efisien dan menghasilkan protein mikroba yang berkualitas tinggi. Kedua proteksi protein, melalui metode pemanasan terkontrol, perlakuan kimia, atau pemanfaatan tanin alami, sebagian protein dilindungi agar tidak terdegradasi di rumen, sehingga bisa langsung diserap di usus halus sebagai Rumen Undegradable Protein (RUP).
"Ketiga suplementasi presisi, suplementasi tidak lagi sekadar menambah protein, melainkan paket nutrisi lengkap yang mempertimbangkan fraksi RDP-RUP, keseimbangan energi NFC, serta mineral penting seperti sulfur. Penerapan rekayasa nutrisi presisi diyakini mampu meningkatkan produktivitas sapi perah tropis, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor susu. Lebih jauh, strategi ini juga berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional," paparnya.
Idat menegaskan, ini bukan lagi sekadar teori, rekayasa nutrisi presisi sudah terbukti meningkatkan efisiensi pemanfaatan nitrogen, produksi susu, hingga kualitas susu. Jika diterapkan secara luas, ini bisa menjadi tonggak kemandirian industri persusuan Indonesia.
"Indonesia sebenarnya memiliki modal besar, lahan dataran tinggi yang cocok untuk sapi perah, kekayaan hijauan tropis, serta limbah agroindustri yang bisa diolah menjadi konsentrat. Dengan dukungan koperasi dan industri pengolahan susu, peluang untuk mengurangi ketergantungan pada impor terbuka lebar. Rekayasa nutrisi presisi hadir bukan hanya sebagai wacana akademis, melainkan jalan nyata untuk meningkatkan produksi, menekan biaya, dan menjawab tantangan ketahanan pangan," tegasnya.
Editor : Doni Ramdhani


