Guru Besar ITB Ungkap Pentingnya Pohon untuk Masa Depan Kota Bandung

Guru Besar ITB Prof Ridwan Sutriadi mengingatkan pentingnya pohon dan ruang hijau untuk menghadapi panas perkotaan, banjir, serta krisis ekologi Bandung.

Guru Besar ITB Ungkap Pentingnya Pohon untuk Masa Depan Kota Bandung
Istimewa

INILAHKORAN.ID-Perkembangan kawasan perkotaan Bandung yang semakin masif membawa konsekuensi serius terhadap keseimbangan lingkungan.

Ketika ruang hijau terus tergerus oleh bangunan, jalan, dan permukaan beton, Kota Bandung menghadapi berbagai ancaman lingkungan. Mulai dari meningkatnya suhu, berkurangnya daya resap air, hingga menurunnya kualitas ruang hidup masyarakat.

Guru Besar Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Ridwan Sutriadi, menilai keberadaan pohon dan vegetasi perkotaan bukan sekadar elemen penghias kota.

Menurutnya, pohon harus dipandang sebagai bagian dari infrastruktur alami yang memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan kawasan perkotaan, khususnya di wilayah Cekungan Bandung.

Ketika tutupan vegetasi berubah menjadi kawasan terbangun, kemampuan lingkungan dalam menyerap air hujan dan mengendalikan panas ikut melemah.

“Dalam kondisi tersebut, kawasan perkotaan menjadi lebih rentan mengalami urban heat island atau pulau panas perkotaan,” kata Ridwan dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).

Ia menegaskan, mempertahankan pohon bukan hanya persoalan estetika, tetapi berkaitan langsung dengan kualitas hidup masyarakat perkotaan.

“Karena itu, menanam dan mempertahankan pohon bukan sekadar urusan estetika. Di Bandung, keberadaan pohon berkaitan langsung dengan kenyamanan dan ketahanan kawasan perkotaan,” ucapnya.

Cekungan Bandung Menghadapi Ancaman Krisis Ekologi

Persoalan lingkungan di Bandung semakin kompleks karena wilayah tersebut berada dalam satu sistem ekologis besar, yakni Cekungan Bandung.

Karakter wilayah yang berbentuk cekungan membuat kawasan hulu, perkotaan, hingga hilir memiliki keterkaitan yang erat. Perubahan lingkungan di satu wilayah dapat memberikan dampak terhadap kawasan lainnya.

Berkurangnya lahan terbuka dan meningkatnya permukaan kedap air menyebabkan air hujan semakin sulit meresap ke dalam tanah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan limpasan air permukaan dan memperbesar risiko genangan.

Ridwan menjelaskan, keberadaan taman, pepohonan, tanah terbuka, serta kawasan hijau menjadi elemen penting untuk mempertahankan fungsi ekologis kawasan.

“Artinya, ketika satu pohon dipertahankan atau sebuah kawasan hijau dijaga, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh lingkungan di sekitarnya. Dalam skala yang lebih luas, ruang hijau ikut menjaga fungsi ekologis Cekungan Bandung,” katanya.

Karena itu, menurutnya, penyelesaian persoalan lingkungan di Bandung tidak cukup dilakukan berdasarkan batas administratif. Pendekatan kawasan perlu menjadi dasar dalam pengelolaan lingkungan Cekungan Bandung.

Pohon Harus Dipandang sebagai Infrastruktur Kota

Di tengah pertumbuhan bangunan yang semakin padat, pohon menjadi salah satu solusi sederhana untuk menciptakan kota yang lebih nyaman.

Ridwan menyebut tajuk pohon mampu memberikan perlindungan langsung bagi masyarakat, terutama pengguna ruang publik.

“Kanopi pohon dapat menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pejalan kaki dan masyarakat yang beraktivitas di ruang publik. Keberadaan vegetasi yang terhubung di taman, tepi jalan, permukiman, dan bantaran sungai juga membantu membentuk koridor hijau di tengah kepadatan kota,” paparnya.

Menurutnya, konsep kota ramah pejalan kaki tidak cukup hanya dengan menyediakan trotoar. Infrastruktur tersebut perlu dilengkapi pepohonan yang memberikan keteduhan.

Selain fungsi ekologis, ruang hijau juga mempunyai manfaat sosial. Taman dan ruang publik dapat menjadi tempat masyarakat berinteraksi, berolahraga, bermain, maupun sekadar beristirahat dari kepadatan aktivitas sehari-hari.

“Ruang hijau juga menyediakan tempat bagi masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, bermain, atau sekadar beristirahat dari kepadatan aktivitas sehari-hari. Dalam konteks tersebut, taman dan ruang publik hijau memiliki fungsi sosial sekaligus ekologis,” ucapnya.

Penghijauan Bandung Tak Cukup Hanya Menanam Pohon

Ridwan mengingatkan, program penghijauan tidak seharusnya hanya berorientasi pada penambahan jumlah pohon.

Hal yang lebih penting adalah memastikan ruang hijau tersebut saling terhubung sehingga membentuk jaringan ekologis perkotaan.

Taman kota, jalur hijau, bantaran sungai, halaman rumah, serta ruang terbuka lainnya perlu dipandang sebagai satu kesatuan yang mampu mendukung keseimbangan lingkungan.

“Vegetasi di perkotaan pun berperan dalam membantu menyaring polutan serta mengurangi dampak langsung aktivitas kendaraan bermotor terhadap lingkungan sekitar,” tuturnya.

Karena itu, pembangunan Kota Bandung ke depan perlu mempertimbangkan lokasi ruang hijau, kualitas vegetasi, serta keterhubungan antarkawasan hijau.

Warga Bisa Mulai dari Lingkungan RT/RW

Menjaga lingkungan Cekungan Bandung tidak selalu harus menunggu program berskala besar dari pemerintah. Masyarakat dapat mengambil peran melalui berbagai langkah sederhana.

Ridwan menyebut pendekatan lowest hanging fruit, yakni upaya yang mudah dilakukan dengan biaya relatif rendah, dapat menjadi langkah awal.

“Di tingkat lingkungan, misalnya, warga dapat mengembangkan kebun komunitas pada fasilitas umum RT/RW, mempertahankan dan menambah pohon di pekarangan rumah, membuat lubang biopori, serta memanfaatkan lahan kosong menjadi pocket park atau taman saku,” tuturnya.

Kawasan permukiman juga dapat dibuat lebih teduh melalui tanaman rambat, pergola hijau, hingga pemanfaatan sistem penampungan air hujan.

Gerakan tersebut sekaligus dapat menjadi ruang kolaborasi antara generasi tua dan generasi muda dalam menjaga lingkungan perkotaan.

Teknologi Bisa Membantu Petakan Kawasan Panas

Generasi muda juga dinilai memiliki peluang besar untuk terlibat melalui pemanfaatan teknologi.

Salah satunya dengan melakukan pemetaan partisipatif untuk mengetahui kawasan yang mengalami suhu lebih tinggi, wilayah yang didominasi beton, hingga titik yang membutuhkan tambahan vegetasi.

“Sensor suhu dan kelembapan sederhana juga dapat digunakan untuk membangun data mengenai kondisi mikroklimat di tingkat lingkungan,” imbuhnya.

Dengan dukungan data tersebut, program penghijauan dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan tidak berhenti sebatas kegiatan simbolis penanaman pohon.

Masa Depan Bandung Bergantung pada Ruang Hijau

Ancaman panas perkotaan, banjir akibat limpasan air, minimnya daerah resapan, hingga menurunnya kualitas ruang publik merupakan persoalan yang saling berkaitan.

Karena itu, ruang hijau harus ditempatkan sebagai bagian utama dalam pembangunan kota, bukan sekadar ruang yang tersisa setelah pembangunan selesai.

Mulai dari pohon di halaman rumah, pohon peneduh jalan, taman lingkungan, hingga kawasan hijau regional, semuanya memiliki kontribusi dalam menjaga Cekungan Bandung tetap layak huni.

“Di tengah pembangunan kawasan perkotaan yang terus berlangsung, menjaga pohon bukan berarti menghentikan perkembangan kota. Sebaliknya, pohon membantu memastikan pembangunan tetap memberikan ruang bagi air untuk meresap, udara untuk menjadi lebih nyaman, masyarakat untuk beraktivitas, dan lingkungan untuk tetap bertahan bagi generasi berikutnya,” tutupnya.***


Editor : JakaPermana