Guru Honorer dan P3K: Pengalaman Puluhan Tahun Terancam Tak Terpakai
Pengalaman guru honorer di Kabupaten Bandung terancam tak terpakai akibat pembatasan usia P3K. Pemerintah diharapkan tetap menghargai pengabdian dan peran mentor bagi generasi guru muda.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Pengabdian puluhan tahun seorang Guru Honorer di Kabupaten Bandung kini menghadapi ujian kebijakan. Rencana pembatasan usia dalam pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) membuat pengalaman berharga mereka terancam tak bisa diteruskan ke generasi guru muda.
Vira Fiolita Ayuwanda, guru honorer Bahasa Inggris di SDN Bojongkoneng, Kecamatan Soreang, menyatakan keprihatinannya. Meski masih tergolong muda dengan masa pengabdian lima tahun, Vira sangat memperhatikan nasib guru honorer senior.
“Banyak rekan honorer yang telah puluhan tahun mengabdi, memiliki pengalaman yang sangat berharga. Kalau mereka tidak bisa diangkat menjadi P3K karena batas usia, ilmu dan pengalaman mereka untuk membimbing guru-guru junior bisa hilang begitu saja,” kata Vira, Senin (19/1/2026).
Vira menekankan, pengangkatan guru honorer senior bukan sekadar soal status atau gaji, tetapi juga tentang transfer ilmu dan kualitas pendidikan.
“Pengalaman mereka sangat penting, terutama bagi guru-guru muda yang baru memulai karier. Mereka bisa jadi mentor, tapi kalau aturan pembatasan usia diterapkan secara kaku, kesempatan itu hilang,” ujarnya.
Pemerintah dijadwalkan membuka pengangkatan tenaga honorer menjadi PPPK mulai 1 Maret 2026. Namun, aturan pembatasan usia tetap diberlakukan. Guru honorer yang melewati batas usia hanya bisa diangkat dengan masa kontrak satu tahun, yang dinilai sebagian guru tidak memadai.
“Pembatasan usia ini bisa menjadi hambatan bagi mereka yang sudah mengabdikan diri bertahun-tahun. Hasil pengabdian mereka seakan terabaikan,” tambah Vira.
Para guru honorer berharap pemerintah dapat meninjau ulang kebijakan ini, agar pengalaman dan pengabdian mereka tidak hilang, dan generasi guru muda tetap bisa belajar dari mentor yang berpengalaman.
Bagi banyak guru honorer, keberadaan mereka lebih dari sekadar tenaga pengajar. Mereka adalah mentor masa depan, yang mentransfer pengalaman dan keahlian kepada generasi berikutnya, sehingga pendidikan di sekolah dasar dan menengah tetap berkualitas.
“Yang penting, ada solusi yang adil dan bijak. Supaya guru honorer senior bisa tetap mengabdi dan membimbing generasi baru,” tutup Vira. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

