Keresahan Guru Honorer di Pelosok KBB, dari Jalan Terjal hingga Kebijakan Baru
Kisah Urip Ripana (27), guru honorer Bahasa Inggris di SDN Giriasih, Kampung Gabusgirang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, KBB
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Kondisi akses jalan yang terjal dan rawan longsor menjadi tantangan nyata bagi Urip Ripana (27), guru honorer Bahasa Inggris di SDN Giriasih, Kampung Gabusgirang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Sekolah tempat dirinya mengajar terletak sekitar 2,6 kilometer dari jalan utama, dengan jalur satu-satunya selebar satu meter yang membelah perbukitan.
Meski sudah terbiasa berjalan kaki pulang-pergi sejak masa sekolah hingga kuliah, Urip mengaku dirinya harus tetap waspada, apalagi saat curah hujan tinggi tiba.
Menurutnya, risiko tertinggi terjadi pada musim penghujan, di mana material longsor hingga bebatuan berukuran besar kerap jatuh dari tebing dan menutup akses jalan tersebut. Kondisi ini memaksanya serta warga sekitar untuk senantiasa menghadapi bahaya demi bisa menuju lokasi sekolah.
"Batu berjatuhan menghalangi jalan menjadi pemandangan yang harus kami hadapi setiap hari jika hujan turun," kata Urip belum lama ini.
"Ini karena akses yang terbatas belum mendapatkan perhatian perbaikan yang berarti hingga saat ini," sambungnya.
Di tengah pengabdiannya di lokasi yang sulit dijangkau itu, Urip mengakui adanya kekhawatiran baru menyusul keluarnya Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026.
"Aturan yang sekarang ini membatasi masa penugasan seluruh guru honorer hingga 31 Desember 2026 mendatang," katanya.
Meski merasa cemas, Urip tetap berusaha memaknai kebijakan itu sebagai langkah perbaikan nasib, bukan pemutusan hubungan kerja.
"Saya juga rutin memantau informasi terbaru, berharap pembatasan masa tugas itu berujung pada perubahan status yang lebih jelas dan kesejahteraan yang lebih layak," ungkapnya.
Lebih jauh, Urip menyoroti peran strategis tenaga honorer dalam sistem pendidikan nasional. Ia menilai, keberadaan guru honorer saat ini menjadi solusi utama mengatasi kekurangan tenaga pendidik yang terjadi di hampir seluruh satuan pendidikan, khususnya di daerah terpencil.
"Jika kami dirumahkan begitu saja tanpa pengganti yang memadai, bagaimana nasib proses belajar anak-anak di pelosok ini," tegasnya.
"Kami juga mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam mengisi kekosongan tenaga pengajar di wilayah yang sulit dijangkau tersebut," tandasnya. ***
Captions: Cerita perjuangan Urip Ripana (27), guru Bahasa Inggris di SDN Giriasih, Kampung Gabusgirang, Desa Karangtanjung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat.
Editor : Ahmad Sayuti


