Gus Elham Kembali Minta Maaf dengan Wajah Pucat, Netizen Ramai Sindir dan Bandingkan dengan Kasus ‘Trans7’
Usai dikecam PBNU hingga Menag, Gus Elham kembali menyampaikan permintaan maaf atas tindakannya yang mencium anak-anak.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Pendakwah muda Elham Yahya Luqman atau Gus Elham kembali menyampaikan permintaan maaf terbuka yang diunggah pada Kamis (13/11/2025). Dalam video terbarunya, ia tampak jauh lebih lesu dibanding permintaan maaf sebelumnya—wajahnya pucat, mata memerah, dan ekspresinya terlihat sedih seolah baru selesai menangis.
Permintaan maaf ini muncul usai kritik deras dari publik, tokoh agama, hingga lembaga negara seperti KPAI dan PBNU, yang menilai tindakannya mencium anak perempuan sebagai perilaku tidak pantas. Ketua KPAI Margaret Aliyatul menegaskan bahwa tindakan tersebut dapat berpotensi dijerat Pasal 76E terkait perbuatan cabul terhadap anak.
Gus Elham mengakui perbuatannya sebagai kekhilafan personal. Ia menyebut telah menghapus video tersebut dari akun media sosialnya dan berjanji memperbaiki diri, termasuk dalam cara menyampaikan dakwah.
Reaksi Netizen: Ramai Sindiran dan Pertanyaan Keras
Pantauan dari kolom komentar di media sosial menunjukkan respons publik masih sangat panas. Banyak netizen menyindir perubahan sikapnya serta membandingkan kasus ini dengan insiden viral terkait acara televisi lain.
Beberapa bentuk komentar warganet yang muncul antara lain:
-
Pertanyaan sinis mengapa aksi Gus Elham tidak memicu demonstrasi seperti kasus yang menyeret sebuah stasiun televisi nasional sebelumnya.
-
Komentar bernada sarkasme tentang wajahnya yang tampak jauh lebih pucat di video permintaan maaf kali ini.
-
Sindiran soal tata rias, dengan warganet mempertanyakan siapa yang meriasnya hingga terlihat “pucat seperti orang sakit”.
-
Kelakar soal “Trans7 tersenyum melihat ini”, menggambarkan bagaimana publik membandingkan dua kasus berbeda yang sama-sama viral.
-
Emoji tawa dan unggahan bernada mengejek, menunjukkan bahwa sebagian netizen tidak melihat permintaan maaf itu sebagai bentuk penyesalan yang meyakinkan.
Kolom komentar terus dipenuhi respons keras, menunjukkan bahwa publik masih memantau kasus ini dan menuntut pertanggungjawaban lebih dari sang pendakwah.
Editor : Firda Rachmawati


