Hadiri Masagi#2: ASEAN Disability Art Exhibition, Wamenlu Arif Havas: jadi Ajang Seniman Disabilitas Bangun Jaringan
Seluruh lukisan tersebut dipamerkan dalam event Masagi#2: ASEAN Disability Art Exhibition "Silent Memories, Resonant World" yang digelar di Galeri Panyawangan, Bale Seni Barli, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat mulai 30 Agustus hingga 27 September 2025.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - "Keterbatasan bukan halangan", menjadi kalimat yang pas untuk disematkan kepada para seniman disabilitas se-Asia Tenggara untuk menelurkan karya-karya luar biasa.
Seluruh lukisan tersebut dipamerkan dalam event Masagi#2: ASEAN Disability Art Exhibition "Silent Memories, Resonant World" yang digelar di Galeri Panyawangan, Bale Seni Barli, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat mulai 30 Agustus hingga 27 September 2025.
Hadir dalam pameran tersebut Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arif Havas Oegroseno, Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail dan para seniman se-Asia Tenggara.
"Ini merupakan satu upaya yang luar biasa ya. Karena ini adalah suatu seni yang dilakukan oleh masyarakat yang disabilitas dari seluruh Asia Tenggara," kata Wamenlu Arif Havas saat ditemui disela acara.
"Jadi tidak hanya Indonesia, tapi juga dari negara-negara lain," sambungnya.
Menurutnya, ada sejumlah pesan dari pameran seni rupa ini. Pertama, kegiatan ini tidak hanya lokal namun juga sudah di level internasional.
"Yang kedua, ini juga menunjukkan para kaum disabilitas itu bukan berarti mereka tidak bisa berekspresi seni gitu ya. Dan kalau kita lihat dari hasil karya ini luar biasa semua, sangat detail dan ekspresif," tuturnya.
Tak cuma itu, Arif mengakui ada satu hal yang membuat mereka sejajar dan bahkan lebih dari orang-orang yang tidak memiliki persoalan fisik atau khusus.
"Oleh karena itu, kegiatan seperti ini harus di upskill tidak hanya di tingkat Asia Tenggara, tapi mungkin juga di tingkat luas, lebih luas lagi global gitu ya," imbuhnya.
Arif berharap, kegiatan ini bisa dilakukan 100 persen dan bisa menjadi semacam pusat, serta ajang para seniman penyandang disabilitas untuk berkumpul dan membangun jaringan.
"Tadi saya sudah berbicara dengan beberapa orang tuanya seniman penyandang disabilitas. Mereka mengatakan bahwa mereka bisa juga kenal dengan orang tua dari berbagai daerah lain, mereka bisa juga tukar informasi tentang bagaimana sih menangani anak-anak yang seperti ini gitu," bebernya.
Lebih lanjut Arif mengungkapkan, seni lukis Indonesia di mata dunia itu sudah terkenal. Salah satunya lukisan karya Raden Saleh yang sangat terkenal di Eropa.
"Beberapa museum-museum besar di Jerman itu lukisan karya Raden Saleh sangat terkenal. Kalau ada museum yang tidak punya kurang top, jadi levelnya sudah global dan menjadi satu hal yang membanggakan," ujarnya.
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail menambahkan, pihaknya sangat mengapresiasi hadirnya wajah baru Bale Seni Barli di Galeri Panyawangan ini.
"Lokasi yang dulunya di seberang, sekarang pindah ke Bale Pare dengan wajah baru yang lebih modern, tempatnya lebih nyaman sehingga saya berharap ini jadi destinasi wisata seni dan budaya di Bandung Barat," kata Jeje.
Jeje menyebut, pihaknya bakal mensupport jika nanti ada event yang pegiat-pegiat seni, khususnya di Bandung Barat.
Dengan begitu, para seniman lokal dan lokasi ini bisa lebih dikenal dan menunjukan identitas bahwa seni di Bandung Barat ini luar biasa.
"Hari ini saya baru berkeliling di galeri. Karya-karya dari teman disabilitas juga luar biasa, dan ini ternyata di jual. Saya sangat mencintai seni gambar dan musik karena saling berkaitan," jelasnya.
"Banyak yang berkesan, makanya kalau boleh dipilih saya pengen sekali. Selain itu Seni Barli ini bakal jadi wadah bagi seniman dan budayawan di Bandung Barat," tandasnya. *** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti


