Harga Beras dan Minyak Kemasan Masih Tinggi, DKPP Jabar Pastikan Stok Kedelai Aman
Meski pasokan pangan di Jabar relatif terjaga sejumlah komoditas berkemasan plastik masih tinggi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Dinamika global masih berdampak terhadap harga plastik untuk kemasan di Jawa Barat.
Meski pasokan pangan di Jabar relatif terjaga, sejumlah komoditas yang menggunakan kemasan berbahan plastik seperti beras premium dan minyak goreng premium masih bertahan pada level harga yang tinggi. Pemerintah pun terus melakukan intervensi, untuk mencegah kenaikan harga lebih lanjut di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat, Linda Al Amin mengatakan, harga beras premium dan minyak goreng premium saat ini memang cenderung stabil. Namun, stabilitas tersebut belum diikuti penurunan harga ke tingkat yang dianggap normal.
“Untuk komoditas yang menggunakan kemasan plastik seperti beras premium dan minyak goreng premium, harganya saat ini terpantau stabil, namun stabil di level yang tinggi atau belum kembali ke harga normal,” ujar Linda dalam keterangannya kepada INILAHKORAN.ID, Minggu (19/7/2026).
Menurut dia, pemerintah terus berupaya menjaga daya beli masyarakat melalui berbagai program stabilisasi harga. Langkah tersebut dilakukan, agar harga komoditas kemasan tidak semakin melonjak di pasaran.
“Antaranya mengoptimalkan penyaluran beras murah kualitas medium, melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) kemasan 5 kilogram milik Bulog di pasar-pasar ritel Jawa Barat, serta mengoptimalkan penyaluran Minyakita,” ujarnya.
Selain beras dan minyak goreng, perhatian pemerintah juga tertuju pada komoditas kedelai yang sebelumnya sempat mengalami gangguan pasokan akibat hambatan impor dan pengiriman internasional. Kini kata dia, kondisi pasokan kedelai disebut telah membaik meski harga masih bergerak fluktuatif.
“Untuk komoditas kedelai impor, ketersediaan pasokan saat ini sudah aman dan melimpah, namun harganya masih fluktuatif di atas batas normal. Krisis pasokan akibat kelangkaan pengapalan internasional kini sudah teratasi,” ungkap Linda.
Ia menjelaskan, berdasarkan laporan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), stok kedelai impor nasional saat ini berada pada level yang sangat aman untuk memenuhi kebutuhan industri tahu dan tempe.
"Stok kedelai impor nasional berada di level aman sebesar 450.000 ton, yang sangat mencukupi untuk kebutuhan pengrajin tahu dan tempe,” katanya.
Meski pasokan sudah kembali normal, harga kedelai impor di tingkat pengecer Jawa Barat masih belum sepenuhnya pulih. Data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan menunjukkan, harga kedelai impor masih berada di atas kisaran normal.
“Berdasarkan data SP2KP Kemendag, harga rata-rata kedelai impor di pengecer Jawa Barat masih berada di kisaran Rp13.689 hingga Rp13.725 per kilogram,” tutur Linda.
DKPP Jabar memastikan, akan terus memantau perkembangan harga dan ketersediaan pangan strategis, guna menjaga stabilitas pasokan serta mengantisipasi gejolak harga di tengah dinamika pasar dan meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Editor : Ahmad Sayuti

