Hari Palang Merah Jadi Momentum di Tengah Menyusutnya Relawan PMI Jabar
Peringatan Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia 2026, menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali semangat relawan PMI di Jawa Barat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Peringatan Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia 2026, menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali semangat relawan PMI di Jawa Barat.
Di tengah meningkatnya ancaman bencana dan persoalan kemanusiaan, jumlah relawan justru terus menyusut, mulai dari tingkat sekolah hingga perguruan tinggi.
Anggota Komisi V DPRD Jabar Tom Maskun menilai, regenerasi relawan harus diperkuat melalui pendidikan karakter sejak dini, terutama lewat penguatan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah.
“Kita melalui pendidikan karakter ini, diharapkan juga sinergi beberapa OPD yang terkait ya. Di sini sudah bisa sentuh kita regenerasi ini apapun kondisinya melalui kegiatan-kegiatan pendidikan, khususnya di pendidikan dasar menengah,” ujar Tom usai kegiatan Relawan Ngumpul Ngariung untuk Jawa Barat Istimewa di Kantor DPRD Jabar, Kota Bandung, Kamis (14/5/2026).
Tom menilai, keberadaan PMR tidak boleh hanya menjadi ekstrakurikuler pilihan yang bergantung pada minat siswa semata. Menurutnya, PMR perlu diperkuat sebagai bagian dari pendidikan karakter yang menanamkan nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial.
“PMR ini menjadi salah satu bagian yang menjadi perhatian khusus, karena selama ini saya melihat, memang tadi saya coba diskusi dengan para pembina, dengan kebijakan-kebijakan yang saat ini menjadi ekstrakulikuler pilihan, hanya menunggu kesadaran siswa,” katanya.
Ia bahkan mendorong adanya dukungan lebih besar dari pemerintah daerah, termasuk Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Pemuda dan Olahraga, hingga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), untuk memperkuat pembinaan relawan PMI.
“Maksud saya nanti ada juga bentuk kebijakan yang sifatnya nanti PMR ini menjadi sebuah bagian, bukan semata-matahnya ekstrakulikuler, tapi menjadi bagian penanaman nilai-nilai yang sifatnya nanti penguat untuk pendidikan karakter,” ucapnya.
Tom menegaskan, penguatan relawan PMI bukan sekadar kebutuhan organisasi, tetapi telah menjadi amanat regulasi melalui Undang-Undang PMI dan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2019 tentang Kepalangmerahan yang menekankan kolaborasi pemerintah dalam pembinaan relawan.
Sementara itu, Anggota DPD Alfiansyah Bustami atau Komeng membagikan pengalamannya terjun langsung sebagai relawan PMI, saat bencana gempa di Lombok. Dia mengaku baru memahami luasnya peran relawan setelah terlibat langsung mendampingi korban.
“Saya menjadi relawan PMI di Kabupaten Bogor. Saya kira awalnya kerjanya relawan itu bantu bawa ambulans. Ternyata banyak bagian di sana,” ujar Komeng.
Baginya, relawan kemanusiaan tak hanya hadir membawa bantuan logistik, tetapi juga memulihkan kondisi psikologis korban agar mampu bangkit dari keterpurukan.
“Saya ajak ngobrol, yang sabar. Saya ajak bercanda, akhirnya mau benahin rumah,” katanya.
Sementara itu, Rektor Universitas Al Ghifari Didin Muhafidin mengakui kondisi relawan PMI di lingkungan kampus saat ini cukup memprihatinkan. Jika dulu anggota PMR maupun Korps Sukarela (KSR) di kampus mencapai ratusan orang, kini banyak yang hanya tersisa hitungan jari.
“Hari ini kan rata-rata tadi ya sangat memperhatinkan. Satu kampus yang ada yang cuma 6, ada yang 7,” kata Didin.
Menurutnya, Hari Palang Merah Sedunia harus menjadi titik balik kebangkitan relawan agar semangat kepalangmerahan kembali tumbuh di kalangan generasi muda. Ia menyebut kegiatan ini mengusung semangat healing, enlightening, abundance, resilience, dan trust sebagai fondasi membangun kembali mental relawan.
"Mudah-mudahan lewat kegiatan ini akan bangkit kembali,” ujarnya.
Tak hanya membangun solidaritas, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi ruang pencerahan bagi relawan agar kembali memiliki semangat pengabdian di tengah tantangan kemanusiaan yang semakin kompleks.
“Relawan itu harus tangguh, tahan menghadapi berbagai hal yang harus dihadapi di lapangan. Dan terakhir trust, kepercayaan. Biar relawan mendapat kepercayaan dari seluruh pihak-pihak yang terkena bencana,” katanya.
Melalui momentum Hari Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Sedunia 2026, para pegiat kemanusiaan berharap semangat relawan PMI di Jawa Barat kembali tumbuh. Sebab di tengah ancaman bencana yang semakin kompleks, relawan tetap menjadi garda terdepan dalam menghadirkan kemanusiaan di tengah masyarakat.
Melalui kegiatan Relawan Ngumpul Ngariung untuk Jawa Barat Istimewa bertajuk Relawan untuk Relawan Jawa Barat ini, tak sekadar memeringati lahirnya pendiri Gerakan Palang Merah Internasional, Henry Dunant, tetapi juga menjadi ruang evaluasi atas melemahnya regenerasi relawan di Jawa Barat.
Talkshow bertajuk "Peran Strategis Relawan PMI dalam Menghadapi Perubahan Global dan Tantangan Kemanusiaan Masa Kini untuk Jawa Barat Istimewa" dapat menjadi wadah relawan, menyampaikan aspirasi demi kemajuan kepalangmerahan di Jabar.
Editor : Doni Ramdhani

