Hasil Panen Melimpah, Harga Cabai Rawit Merah Berangsur Turun
Harga cabai rawit di tingkat petani Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini berangsur turun hingga Rp40 ribu setelah sebelumnya sempat menembus Rp80 ribu per kilogram.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - harga cabai rawit di tingkat petani Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini berangsur turun hingga Rp40 ribu setelah sebelumnya sempat menembus Rp80 ribu per kilogram.
petani menduga, penurunan harga cabai rawit tersebut disebabkan melimpahnya hasil panen sehingga pasokan ke pasar mulai kembali normal.
petani asal Desa Cikole Lembang, Anda Tohaman mengatakan, harga cabai mulai mengalami penurunan. Menurutnya, pada Desembe 2024 harganya sempat diangka Rp20 ribu kemudian naik jadi Rp 48.000, Rp 68.000, terus naik lagi Rp 72.000.
"Tapi kita kirim ke bandar turun jadi Rp 40.000 perkilogram," kata Anda kepada wartawan, Senin 20 Desember 2024.
Anda menilai, fluktuasi harga dipengaruhi cuaca yang tidak mendukung sehingga menyebabkan banyak tanaman terserang penyakit.
"Penyakit yang biasa menyerang cabai adalah busuk akar dan batang, daun menguning serta hama patek," ujarnya.
Meski begitu, ungkap Anda, harga cabai yang tinggi tak serta merta menguntungkan petani, sebab dirinya pun harus mengeluarkan biaya membeli pestisida untuk mencegah penyakit tanaman dan ongkos pekerja.
"Beli obat biayanya Rp 250 ribu untuk sekali penyemprotan, belum dipotong biaya buruh untuk satu orang Rp 80.000," ungkapnya.
Anda menyebut, ada sekitar 12 ribu pohon yang bisa menghasilkan sebanyak 60 kilogram cabai dalam sekali panen.
Namun, agar hasilnya maksimal, perawatan tetap harus dilakukan setiap hari terlebih faktor cuaca yang tak menentu.
Anda mengakui, hasil panen cabai menjadi satu-satunya harapan dirinya. Sebab, harga tanaman selada anjlok hingga Rp 2.000 perkilogram. Padahal, dirinya telah menanam sebanyak dua ribu pohon yang saat ini siap dipanen.
"Sekarang selada dibiarin di kebun walaupun hasilnya bagus-bagus. Karena kalau tetap dipanen ya tetap gak ada untung, kan kita juga harus hitung biaya ongkos dan lainnya," ujarnya.
Anda pun berharap harga hasil pertanian stabil agar tak memberatkan petani dan masyarakat. Selain itu juga, dirinya juga meminta bantuan alat pertanian dan subsidi agar bisa terus produksi.
"Kalau dengan harga sekarang kan istilahnya untung enggak ya rugi juga enggak. Kalau harga-harga produksi murah, otomatis gak akan ada yang dirugikan," ujarnya.***
Editor : JakaPermana

