Heboh Kades Nyenang KBB Diduga Langgar Norma dan Etika, Begini Fakta yang Sebenarnya

Berdasarkan kabar yang beredar di masyarakat, Kepala Desa Wawan Saputra (52) terlihat berdua di kantor Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Nyenang dengan seorang perempuan berinisial W (36).

Heboh Kades Nyenang KBB Diduga Langgar Norma dan Etika, Begini Fakta yang Sebenarnya

INILAHKORAN, Ngamprah - Warga Desa Nyenang, Kecamtan Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dihebohkan dengan isu Kepala Desa Nyenang yang diduga melakukan tindakan melanggar norma dan etika.

Berdasarkan kabar yang beredar di masyarakat, Kepala Desa Wawan Saputra (52) terlihat berdua di kantor Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Nyenang dengan seorang perempuan berinisial W (36).

Alhasil, kejadian tersebut sempat menuai sorotan dan perbincangan publik lantaran kepala desa berada di satu kantor dengan perempuan yang notabenenya bukan istrinya.

Terlebih, saat itu kondisi kantor Bumdes sepi dan tertutup sehingga membuat warga yang melihatnya curiga.

Menyikapi kabar yang berkembang di masyarakat, sekaligus menghindari kesimpangsiuran informasi, pihak Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Nyenang mengambil inisiatif memfasilitasi pertemuan terkait persoalan ini.

Sejumlah masyarakat, saksi yang melihat kejadian tersebut, termasuk Kepala Desa dihadirkan dalam pertemuan yang digelar, Senin 7 Agustus 2023 lalu.

Dalam pertemuan tersebut, dihadiri oleh Ketua BPD Nyenang Duhria, Sekretaris BPD Sugeng Riyadi, dan Ketua MUI Desa Nyenang Saepudin Eelbahry. Termasuk, sejumlah tokoh masyarakat, warga, serta perwakilan kerabat keluarga dari perempuan berinisial W.

Berdasarkan pertemuan tersebut diperoleh sejumlah poin dari hasil klarifikasi terhadap tuduhan yang dilayangkan kepada kepala desa. Bahwa kepala desa membenarkan bahwa dirinya bertemu dengan W di kantor Bumdes.

Kendati demikian, pertemuan itu semata untuk melakukan koordinasi dengan W yang merupakan kader desa, terkait agenda kegiatan lomba tahunan desa.

Selanjutnya, saksi juga memaparkan kronologis yang dilihatnya kejadian dari awal sampai akhir di kantor Bumdes saat kepala desa bertemu W.

Usai dilakukan musyawarah dan pandangan dari sejumlah pihak kepala desa meminta maaf jika apa yang dilakukannya telah menimbulkan salah tafsir. Akhirnya, seluruh tokoh masyarakat yang hadir pada pertemuan menerima permintaan maaf kepala desa dan meminta agar menjaga sikap sebagai kepala desa yang merupakan jabatan publik.

"Benar kami memfasilitasi pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat karena informasi di masyarakat simpang siur soal kejadian itu," kata Ketua BPD Nyenang, Duhria saat dikonfirmasi.

"Sekarang semuanya sudah clear, sudah saling memaafkan, dan tidak ada kejadian seperti yang ramai dibicarakan," sambungnya.

Menurut Dahria, sebelum dilakukan pertemuan tersebut, informasi di masyarakat simpang siur bahwa diduga telah terjadi sesuatu antara kepala desa dengan kadernya.

Namun, sambung Dahria, dari hasil keterangan kepala desa langsung, saksi, dan pihak keluarga W, apa yang dituduhkan tidak benar adanya. Semua sudah saling memaafkan dan W juga telah membuat surat pernyataan di atas materai bahwa permasalahan ini sudah selesai.

"Jadi semuanya selesai dan aktivitas pemerintahan desa kembali berjalan normal. Kepala desa menyadari kesalahannya karena menerima kader dan meminta informasi tidak pada tempatnya, serta berjanji tidak akan terulang lagi ke depannya," tuturnya.

Terpisah, Kepala Desa Nyenang Wawan Saputra mengakui, jika antara dirinya dengan W tidak terjadi apa-apa seperti yang dituduhkan.

"Saya hanya meminta informasi terkait dengan kesiapan agenda kegiatan lomba tahunan desa, karena W merupakan kader desa," katanya.

Namun, ungkap Wawan, mungkin karena tempat dan waktunya dianggap tidak tepat, sehingga beredar informasi yang tidak-tidak dan menjadi gaduh di masyarakat.

"Saya hanya ngobrol saja, tidak lebih, dan tidak melakukan apa-apa. Namun karena jadi gaduh, di pertemuan yang difasilitasi BPD, saya sudah menyampaikan maaf karena itu bukan kesengajaan," paparnya.

Ke depan, terang dia, dirinya bakal lebih berhati-hati lagi dan tidak melakukan aktivitas yang bisa memicu kecurigaan atau salah tafsir masyarakat.

"Karena bagaimanapun sebagai orang nomor satu di wilayah desa, apapun yang dilakukan pasti akan mendapatkan sorotan terutama dalam menjaga etika dan perbuatan saat bertugas," terangnya.

Sementara itu, Camat Cipeundeuy Agus Ganjar Hidayat memastikan persoalan apa yang diprasangkakan masyarakat terhadap Kepala Desa Nyenang tidak terbukti.

"Kami sudah mengundang pihak BPD dan juga kepala desa sebagai bagian dari pembinaan untuk meminta penjelasan," ujarnya.

Agus menyebut, dari klarifikasi dan fakta dari kepala desa tidak ada kejadian apa yang dituduhkan seperti informasi yang beredar luas.

"Berdasarkan fakta, musyawarah yang digelar BPD, dan penjelasan langsung kepala desa, apa yang disangkakan tidak terjadi," sebutnya.

"Namun tetap kami mengingatkan dan memberikan teguran lisan kepada kepala desa sebagai pejabat publik supaya mengedepankan etika dan norma dalam bekerja dan supaya hal tersebut tidak terulang di kemudian hari," tandasnya. *** (agus satia negara)


Editor : Ahmad Sayuti