Hengkangnya LG dari Proyek Baterai EV Rp130 Triliun di Indonesia Tak Terkait RUU TNI, Eddy Soeparno: Keputusan Investasi yang Dasarnya Adalah Keekonomian dan Komersial

Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa keputusan LG Energy Solution dan mitra konsorsium asal Korea Selatan untuk mundur dari proyek pengembangan baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia senilai Rp130,7 triliun tidak ada hubungannya dengan pengesahan Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI).

Hengkangnya LG dari Proyek Baterai EV Rp130 Triliun di Indonesia Tak Terkait RUU TNI, Eddy Soeparno: Keputusan Investasi yang Dasarnya Adalah Keekonomian dan Komersial
Hengkangnya LG dari Proyek Baterai EV Rp130 Triliun di Indonesia Tak Terkait RUU TNI, Eddy Soeparno: Keputusan Investasi yang Dasarnya Adalah Keekonomian dan Komersial

INILAHKORAN, Bandung – Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menegaskan bahwa keputusan LG Energy Solution dan mitra konsorsium asal Korea Selatan untuk mundur dari proyek pengembangan baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia senilai Rp130,7 triliun tidak ada hubungannya dengan pengesahan Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI).

“Saya, kok, tidak melihat ada relevansinya ke sana (RUU TNI), ya. Jadi, saya enggak berani berkomentar karena menurut saya benang merahnya itu enggak ada di situ,” ujar Eddy dikutip dari ANTARA.

Pernyataan ini muncul merespons dugaan dari sejumlah pihak yang mengaitkan hengkangnya LG dengan dinamika politik Indonesia, terutama setelah pengesahan RUU TNI yang menuai kontroversi.

Bahkan, beberapa analisis menyamakan situasi ini dengan iklim politik di Korea Selatan yang sempat berdampak pada hubungan bisnis global.

Namun, menurut Eddy yang juga merupakan anggota Komisi XII DPR RI, keputusan sebesar itu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor keekonomian dan perubahan teknologi yang sangat cepat dalam industri baterai.

Ia menegaskan bahwa keputusan Investasi, apalagi yang melibatkan dana triliunan rupiah, tidak diambil secara gegabah atau semata karena alasan politik.

“Saya belum melihat ada relevansi yang erat terkait dua hal tersebut karena keputusan Investasi ‘kan dilakukan berdasarkan berbagai aspek, yang dasarnya adalah keekonomian dan komersial,” tambahnya.

Lebih lanjut, Eddy menyebutkan bahwa salah satu penyebab utama kemungkinan hengkangnya LG dari proyek ini adalah kemajuan pesat teknologi baterai yang telah bergeser dari dominasi nikel ke teknologi lain seperti lithium iron phosphate (LFP) hingga blade battery.

“Hari ini kita bicara baterai nikel, sekarang sudah ada LFP (lithium iron phosphate), bahkan sekarang ada baterai yang sifatnya blade batter yang mana itu tahan goncangan, tahan panas, dan memiliki kemampuan untuk melakukan recharging (mengisi daya ulang) secara sangat cepat,” jelasnya.

Faktor bahan baku juga menjadi pertimbangan besar. Indonesia memang dikenal sebagai produsen nikel terbesar di dunia, komoditas utama dalam Baterai EV berbasis nikel. Namun, menurut Eddy, banyak perusahaan kini mulai melirik alternatif bahan baku yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Meski kehilangan proyek besar ini, Eddy tetap optimistis dengan prospek Indonesia di sektor baterai listrik. Ia menegaskan bahwa negeri ini tetap memiliki pasar domestik yang besar dan potensi ekspor yang menjanjikan.

“Jadi, saya kira kita punya kemampuan untuk mengadopsi teknologi baterai, bisa memproduksi sendiri, memproduksi dengan mitra lain juga bisa. Dan tujuannya tidak hanya untuk konsumsi dalam negeri kita, tetapi juga untuk kita lakukan ekspor,” ungkapnya.

Sebelumnya, berdasarkan laporan Yonhap News (Jumat, 18/4), konsorsium Korea Selatan yang dipimpin LG—yang terdiri dari LG Energy Solution, LG Chem, LX International Corp, dan beberapa mitra lainnya—telah memutuskan untuk menarik diri dari proyek pembangunan rantai pasokan Baterai EV di Indonesia.

Proyek yang sebelumnya bernilai sekitar 11 triliun won (setara Rp130,7 triliun) ini sebenarnya bertujuan untuk menciptakan “rantai nilai menyeluruh,” mulai dari pengadaan bahan baku hingga produksi prekursor, bahan katoda, dan pembuatan sel baterai.

Dengan keputusan ini, Indonesia tentu dihadapkan pada tantangan baru dalam menarik investor besar ke sektor energi terbarukan. Namun, seperti disampaikan oleh Eddy Soeparno, peluang tetap terbuka lebar jika Indonesia mampu terus berinovasi dan menjaga iklim Investasi yang ramah teknologi.***


Editor : Yosep Saepul Ramadan