Heritage Stasiun Cicalengka Jangan Dibiarkan Mati, Bisa Jadi Ruang Sejarah & Ekonomi
Heritage Stasiun Cicalengka didorong tidak sekadar dipertahankan, tetapi dihidupkan sebagai ruang edukasi sejarah, budaya, komunitas, dan ekonomi masyarakat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Setiap hari, Stasiun Cicalengka menjadi tempat orang datang dan pergi. Kereta membawa penumpang menuju Bandung, Garut maupun wilayah lainnya.
Ritme itu terus bergerak. Namun, di sisi timur kawasan stasiun, sebagian jejak masa lalu masih bertahan.
Bangunan lama yang telah direkonstruksi tersebut bukan sekadar susunan dinding, lantai maupun bagian arsitektur yang tersisa dari masa lalu. Di dalamnya ada cerita tentang perjalanan panjang perkeretaapian Cicalengka.
Kini, persoalannya bukan semata bagaimana mengembalikan bangunan tersebut seperti bentuk aslinya. Yang lebih penting adalah bagaimana Heritage Stasiun Cicalengka kembali memiliki kehidupan dan terhubung dengan masyarakat.
Ketua Masyarakat sejarah Kendan (MSK) Bob Ujo mengatakan, rekonstruksi bangunan lama Stasiun Cicalengka memang belum sepenuhnya mengembalikan bentuk dan kondisi historisnya.
Namun, menurut dia, perdebatan mengenai kesempurnaan rekonstruksi jangan sampai membuat persoalan yang lebih penting justru terabaikan.
“Kalau kita terus memperdebatkan apakah rekonstruksinya sudah ideal, kita bisa kehilangan persoalan yang lebih penting. Bangunan itu sudah diselamatkan. Sekarang pertanyaannya, bagaimana kita memberinya kehidupan baru?” kata Bob Ujo kepada INILAHKORAN.ID di Cicalengka, Jumat (18/9/2026).
Bagi Bob, Heritage tidak cukup hanya dipertahankan secara fisik. Bangunan bersejarah harus kembali berhubungan dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Sebab, ketika Heritage hanya berdiri tanpa aktivitas, perlahan-lahan bangunan tersebut berpotensi menjadi sekadar bangunan tua yang kehilangan makna.
Jejak Teknologi Perkeretaapian Cicalengka
Pandangan tersebut diperkuat Dr. Lutfhi Yondri, peneliti bidang prasejarah di Balai Arkeologi Jawa Barat yang sejak 2015 aktif dalam upaya pelestarian cagar budaya sebagai Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Provinsi Jawa Barat.
Menurut Lutfhi, nilai sejarah Stasiun Cicalengka tidak hanya berada pada bangunan stasiunnya. Kawasan tersebut juga menyimpan jejak teknologi transportasi yang pernah menjadi bagian penting perjalanan perkeretaapian.
“Stasiun Cicalengka, dari lintasan sejarah panjangnya, selain meninggalkan kisah sejarah dan cerita, juga memiliki tinggalan teknologi transportasi kereta api pada masa lalu,” ujar Lutfhi.
Sejumlah tinggalan tersebut masih dapat disaksikan hingga kini, mulai dari peron, rumah kepala stasiun dengan karakter arsitekturnya, hingga berbagai perangkat operasional perkeretaapian.
Di antaranya alat pemutar lokomotif dan menara air.
Menurut Lutfhi, keberadaan perangkat tersebut menarik karena tidak banyak lagi stasiun kereta api di daerah lain yang masih memilikinya.
“Peralatan operasional perkeretaapian seperti alat pemutar lokomotif dan menara air tidak banyak lagi stasiun kereta api di daerah lain memilikinya. Semua tinggalan tersebut masih bisa disaksikan hingga kini,” katanya.
Artinya, sejarah Stasiun Cicalengka bukan hanya tentang sebuah tempat pemberhentian kereta. Kawasan itu juga menyimpan cerita mengenai bagaimana teknologi perkeretaapian bekerja pada zamannya.
Bisa Dikembangkan Jadi Ruang Edukasi
Perkembangan Stasiun Cicalengka tidak dapat dipisahkan dari meningkatnya pelayanan penumpang dan posisi stasiun sebagai salah satu simpul perjalanan kereta api.
Aktivitas yang semakin berkembang membuat kebutuhan fasilitas perkeretaapian ikut berubah. Stasiun yang sebelumnya melayani perjalanan lokal kemudian berkembang melayani pergerakan penumpang antardaerah.
Pengembangan jaringan perkeretaapian pada akhirnya ikut memengaruhi keberadaan sejumlah bangunan lama.
Salah satu upaya pelestarian dilakukan terhadap peron lama dengan membongkar dan merekonstruksinya di area lahan parkir.
Bagi Lutfhi, posisi baru tersebut justru menyimpan peluang untuk pengembangan fungsi edukasi sejarah dan teknologi transportasi.
“Posisi tersebut sangat strategis dari segi pemanfaatan dan pengembangan,” katanya.
Lutfhi melihat bangunan hasil rekonstruksi tersebut dapat dikembangkan sebagai ruang edukasi sejarah dan teknologi transportasi, khususnya perkeretaapian.
Konsepnya tidak harus berupa museum konvensional dengan benda-benda yang hanya dipajang di balik kaca. Ruang tersebut bisa dibuat lebih interaktif.
sejarah Stasiun Cicalengka dapat ditampilkan melalui foto lama, peta perjalanan jalur kereta, dokumentasi perubahan kawasan hingga penjelasan mengenai teknologi perkeretaapian yang pernah digunakan.
Ruang tersebut juga dapat dikembangkan dengan pendekatan budaya lokal.
“Selain dapat digunakan sebagai sarana edukasi tentang teknologi transportasi, khususnya kereta api, ruang tersebut juga bisa dijadikan sebagai media interaktif berbasiskan budaya lokal yang diharapkan dapat memberikan nilai positif bagi komunitas lokal,” ujarnya.
Di titik inilah Heritage bisa keluar dari kesan sebagai benda mati.
sejarah bertemu teknologi. Teknologi bertemu budaya. Dan budaya bertemu masyarakat.
Masyarakat Bisa Jadi Bagian dari Heritage
Gagasan pemanfaatan ruang Heritage juga mendapat perhatian dari Yedi Noor, Kepala BPD Desa Cikuya.
Menurutnya, ruang sejarah di kawasan Stasiun Cicalengka seharusnya tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Keberadaannya juga bisa memberi ruang bagi masyarakat sekitar untuk ikut terlibat.
“Kalau di Cicalengka ada museum atau ruang yang memungkinkan masyarakat mengenal kembali sejarah dan perkembangan kereta api, tentu akan sangat baik. Apalagi jika keberadaannya juga membuka ruang usaha bagi masyarakat sekitar, misalnya melalui pengelolaan parkir maupun tempat berdagang,” ujar Yedi.
Menurut Yedi, keterlibatan masyarakat penting karena kawasan stasiun sejak lama memiliki hubungan erat dengan warga sekitar.
Desa Cikuya dan kawasan Babakan DKA, misalnya, dapat menjadi bagian dari ekosistem pemanfaatan ruang Heritage tersebut. Masyarakat bukan hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku.
Warga dapat terlibat dalam kegiatan ekonomi, pengelolaan ruang, penyediaan produk UMKM, kuliner hingga berbagai kegiatan budaya dan komunitas.
“Dengan begitu, warga sekitar, khususnya masyarakat Desa Cikuya dan kawasan Babakan DKA, bisa kembali dilibatkan dalam aktivitas di sekitar stasiun. Hal ini penting bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga untuk membangun kembali rasa memiliki masyarakat terhadap stasiun dan sejarah perkeretaapian Cicalengka yang sejak dulu memiliki kedekatan emosional dengan warga,” katanya.
Dengan kata lain, pelestarian Heritage tidak akan banyak berarti jika masyarakat yang tinggal di sekitarnya justru tidak merasa memiliki.
Hampir 1 Juta Pengguna Stasiun Jadi Peluang
Ada satu potensi yang tidak bisa diabaikan manusia. Data KAI Commuter menunjukkan Stasiun Cicalengka melayani 977.190 pengguna pada Semester I 2026.
Angka tersebut merupakan jumlah pengguna stasiun, bukan jumlah wisatawan. Namun, bagi Bob Ujo, angka itu tetap menyimpan peluang.
Hampir satu juta pengguna berarti ada arus manusia yang setiap hari bersinggungan dengan Cicalengka.
“Mereka bukan wisatawan. Mereka adalah pengguna stasiun. Tetapi setiap hari mereka datang ke Cicalengka. Pertanyaannya, apakah kita sudah memberi mereka alasan untuk berhenti sebentar, mengenal sejarahnya, melihat produk masyarakatnya, atau mendapatkan informasi tentang Cicalengka?” ujar Bob.
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya bisa menjadi pintu masuk bagi konsep baru pemanfaatan Heritage.
Tidak perlu membayangkan museum besar dengan bangunan megah. Tidak harus pula membuat destinasi wisata baru yang berdiri sendiri.
Ruang Heritage Stasiun Cicalengka bisa menjadi pintu masuk untuk mengenal Cicalengka.
Orang yang turun dari kereta bisa melihat arsip foto lama, mengetahui perjalanan stasiun dari masa ke masa, mengenal teknologi kereta api yang pernah digunakan, membaca cerita masyarakat hingga melihat karya komunitas.
Ruang tersebut juga bisa menjadi tempat membeli kopi lokal, kuliner, kerajinan, buku maupun produk UMKM.
Bahkan, komunitas sejarah, seni, fotografi, budaya dan anak muda dapat memanfaatkannya untuk berkegiatan.
Dengan demikian, tinggalan sejarah dan teknologi perkeretaapian tidak berhenti sebagai masa lalu, tetapi berinteraksi dengan kehidupan hari ini.
Heritage Harus Diberi Kehidupan
Bob mengakui pelestarian Heritage idealnya dilakukan dengan memperhatikan kaidah dan keaslian sejarah.
Namun, kondisi yang ada saat ini menurutnya tidak seharusnya menjadi alasan untuk kembali membiarkan bangunan tersebut kosong.
“Kita tentu berharap pelestarian dilakukan sebaik mungkin. Tetapi ketika kondisi yang ada sekarang sudah seperti ini, jangan sampai ketidaksempurnaan rekonstruksi menjadi alasan untuk membiarkannya kembali kosong dan terbengkalai,” katanya.
Justru kondisi bangunan sekarang dapat menjadi bagian dari cerita.
Bagian yang masih asli dapat didokumentasikan. Bagian yang berubah dapat dijelaskan. Proses rekonstruksi bisa diceritakan. Peralatan perkeretaapian yang masih tersisa dapat diperkenalkan.
Sementara itu, ruang yang tersedia diisi dengan aktivitas masyarakat. Dengan cara tersebut, pengunjung tidak hanya melihat bangunan, tetapi juga membaca perjalanan sebuah tempat.
Bagi MSK, yang diselamatkan dari sebuah bangunan bersejarah bukan hanya kayu, dinding, tegel, atap atau bentuk arsitekturnya. Ada ingatan yang ikut diselamatkan.
Ingatan tentang orang-orang yang pernah bekerja di stasiun, warga yang menggantungkan aktivitas ekonominya di sekitar stasiun, perjalanan dengan kereta, serta Cicalengka yang tumbuh bersama jalur kereta api.
“Yang kita selamatkan sebenarnya bukan hanya kayu, dinding, tegel atau bentuk arsitekturnya. Yang lebih penting adalah ingatan masyarakat terhadap tempat itu,” ujar Bob.
Karena itu, MSK mendorong pemerintah, pengelola perkeretaapian, komunitas sejarah, akademisi, pelaku kebudayaan, UMKM dan masyarakat duduk bersama.
Bukan sekadar membahas bagaimana mempertahankan bangunan, tetapi merumuskan apa yang bisa dilakukan terhadap bangunan tersebut mulai sekarang.
Fungsinya dapat dibangun secara bertahap. Tidak harus menunggu proyek besar maupun bangunan yang sempurna.
Yang diperlukan adalah aktivitas yang membuat ruang tersebut kembali berguna. Sebab Cicalengka sebenarnya tidak kekurangan manusia. Setiap hari ada orang datang. Setiap hari ada orang pergi. Yang mungkin belum tersedia adalah alasan bagi mereka untuk berhenti sejenak.
“Cicalengka tidak kekurangan orang. Setiap hari orang datang dan pergi. Yang kita perlukan adalah alasan agar mereka mau berhenti,” kata Bob.
Pada akhirnya, pelestarian Heritage Stasiun Cicalengka bukan hanya soal menyelamatkan bagian dari masa lalu.
Lebih dari itu, bagaimana warisan tersebut tetap memiliki arti bagi masyarakat hari ini, memberi ruang bagi komunitas, membuka peluang ekonomi, menjadi sarana edukasi, sekaligus memperkenalkan kembali identitas Cicalengka kepada mereka yang setiap hari melintasinya.
Heritage tidak cukup diselamatkan dari masa lalu. Ia harus diberi kehidupan untuk masa depan.
Editor : Ahmad Sayuti

