HP2B Dorong Revitalisasi Pasar Baru: Revitalisasi Hindarkan Mati Suri

Kawasan Pasar Baru Kota Bandung seperti mati suri. Para pedagang menuntut perubahan yang menghidupkan kembali harapan mereka

HP2B Dorong Revitalisasi Pasar Baru: Revitalisasi Hindarkan Mati Suri
PENATAAN: Aktivitas perdagangan Pasar Baru Bandung, menjadi perhatian HP2B yang mendorong penataan kawasan sebagai destinasi wisata belanja.

Oleh : Yogo Triastopo

Ketua Himpunan Pedagang Pasar Baru Bandung (HP2B), Iwan Suhermawan mengutarakan kegelisahannya. Berbagai ide yang selama ini mengendap di pikirannya mulai diutarakan demi tumbuhnya sebuah harapan.

Iwan mengaku tak bisa tinggal diam melihat kenyataan Pasar Baru kian layu ditelan perkembangan zaman. Menurutnya, pemerintah kota harus segera membentuk kawasan ekonomi khusus Pasar Baru sebagai upaya menghidupkan kembali pusat perdagangan sekaligus memperkuat sektor wisata belanja di Kota Bandung.

Menurutnya, kawasan yang diusulkan tidak hanya mencakup area Pasar Baru. Namun juga sejumlah kawasan pendukung yang selama ini memiliki aktivitas ekonomi masing-masing. Di antaranya kawasan Pecinan Lama, Jalan ABC, Otista, Tamim dan Dulatip.

“Kami memang sudah mengusulkan ke Dinas UKM, agar ada peraturan wali kota yang secara khusus menjadikan kawasan Pasar Baru bukan hanya Pasar Baru saja. Tetapi juga lingkungan pendukungnya seperti Jalan ABC, Pecinan Lama, Otista, Tamim dan Dulatip menjadi kawasan penyangga ekonomi khusus Pasar Baru,” kata Iwan Suhermawan, Selasa (28/7).

Menurutnya, usulan tersebut juga telah disampaikan langsung kepada Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Pemerintah kota memberikan respons positif terhadap rencana tersebut.

Dia menjelaskan, keberadaan regulasi khusus diperlukan agar berbagai persoalan di kawasan Pasar Baru dan sekitarnya dapat ditangani secara menyeluruh. Regulasi itu nantinya diharapkan mampu mengatur tata niaga, ketertiban hingga kenyamanan kawasan.

“Kami menginginkan ada satu regulasi yang bisa mengatur tata niaga di lingkungan Pasar Baru dan sekitarnya. Apabila misalnya ada persoalan parkir liar, PKL yang tidak taat aturan, gangguan sosial dan lain sebagainya itu bisa diselesaikan secara komprehensif oleh pemerintah kota,” ucapnya.

Sambung dia, revitalisasi kawasan Pasar Baru memiliki dampak besar terhadap pelaku usaha di berbagai daerah. Sebab, aktivitas perdagangan di Pasar Baru juga menjadi penggerak bagi produk-produk UMKM dari sejumlah wilayah di Jawa Barat.

“Kalau Pasar Baru sepi, lingkungan sekitar juga sepi. Bahkan sentra UMKM seperti busana muslim dari Tasik, bordir dari Tasik, celana jeans dan baju jeans dari Cikijing, Majalengka dan aksesori, sepatu, dan tas dari Bogor juga akan terdampak,” katanya.

Karena itu pihaknya menilai, Pasar Baru harus dikembangkan sebagai destinasi wisata perdagangan yang memenuhi tiga unsur utama, yakni nyaman, aman dan tertib.

“Pasar Baru adalah pasar wisata. Syarat pasar wisata itu adalah nyaman, aman dan tertib. Kalau tidak aman dan tidak tertib, wisatawan tentu akan khawatir datang ke Pasar Baru,” jelasnya.

Selain memperkuat kawasan perdagangan, konsep kawasan ekonomi khusus tersebut juga diarahkan memperluas pilihan destinasi wisata Kota Bandung. Tidak hanya mengandalkan kawasan populer seperti Braga, dan Asia Afrika.

“Tujuannya bukan sekadar Braga dan Asia Afrika saja. Dulatip pun bisa menjadi tujuan. Jadi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara dihadapkan pada banyak pilihan destinasi wisata,” ujar dia.

Iwan menyebut, Kota Bandung memiliki potensi besar di sektor fesyen dan kuliner. Bahkan, produk fesyen Kota Bandung selama ini telah memiliki pasar hingga luar negeri.

“Untuk fashion, Bandung ini trendsetter. Banyak orang Malaysia yang belanja ke sini bukan hanya untuk dipakai. Tetapi juga untuk dijual lagi. Dijualnya bukan hanya di Malaysia, tetapi sampai ke Timur Tengah. Artinya, busana kita sudah go internasional dan itu harus kita jaga,” tuturnya. (bsf)


Editor : Inilahkoran