Imbas Harga BBM Naik, Pendapatan Kurir dan Ojol Cimahi Menyusut Hingga 40 Persen
Kenaikan harga BBM jenis Pertamax memberikan dampak bagi pekerja sektor informal yang menggantungkan hidupnya pada kendaraan bermotor.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kenaikan harga BBM jenis Pertamax memberikan dampak bagi pekerja sektor informal yang menggantungkan hidupnya pada kendaraan bermotor.
Pengemudi ojol dan kurir pengantar barang menjadi kelompok yang paling merasakan tekanan. Lantaran biaya operasional melonjak drastis sementara tarif layanan yang mereka terima belum mengalami penyesuaian.
Diketahui, Pertamax yang sebelumnya dijual seharga Rp12.300 per liter kini melonjak menjadi Rp16.250 per liter, atau naik sekitar Rp3.950. Sementara itu, Pertamax Green 95 juga mengalami kenaikan dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Kenaikan yang tidak disertai penyesuaian pendapatan ini memaksa para pekerja harian ini memangkas jumlah uang yang bisa dibawa pulang untuk kebutuhan keluarga.
Iqbal Muhammad Ramzani (27), seorang kurir paket yang beroperasi di wilayah Bandung Raya mengaku, merasakan perbedaan yang signifikan sejak harga BBM berubah.
Pasalnya, setiap hari dia harus menempuh jarak yang tidak bisa ditentukan sendiri, namun imbal jasa yang diterima tetap sama seperti sebelumnya. Akibatnya, penghasilan bersih yang didapat berkurang cukup drastis.
“Dulu dalam sehari bisa menyisihkan Rp100 ribu hingga Rp200 ribu setelah dikurangi biaya bensin. Sekarang paling-paling hanya tersisa sekitar Rp60 ribu saja," kata Iqbal, Kamis (11/6/2026).
"Kami tidak bisa menolak pesanan, apalagi jika jaraknya jauh, tapi ongkos kirimnya tidak ikut naik. Kalau dibiarkan terus, takutnya banyak rekan kerja yang akhirnya memutuskan berhenti,” sambungnya.
Untuk bertahan, Iqbal dan beberapa rekannya terpaksa mengubah kebiasaan dari yang sebelumnya menggunakan Pertamax demi menjaga performa kendaraan, kini mereka beralih ke Pertalite meski harus rela menghabiskan waktu lebih lama untuk mengantre di SPBU.
"Di situasi darurat saat kehabisan bensin di tengah perjalanan, mereka bahkan terpaksa membeli dengan harga lebih mahal di pengecer eceran," ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Virlana (33), pengemudi ojek daring di Cimahi. Ia menghitung setiap kali mengisi tangki, kini ia harus mengeluarkan biaya tambahan sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.
Sementara jumlah pesanan yang masuk tidak mengalami kenaikan, sehingga pendapatan bersihnya menyusut sekitar 25 persen.
“Dulu sehari bisa bawa pulang sekitar Rp200 ribu, sekarang paling hanya Rp150 ribu. Saya jadi berusaha lebih selektif menerima pesanan, lebih memilih jarak dekat dan harus bekerja lebih lama hingga malam hari agar bisa menutupi kekurangan biaya bensin," kata Virlana.
"Kami berharap ada peninjauan tarif, baik dari perusahaan ekspedisi maupun penyedia aplikasi, agar tidak terus merugi,” sambungnya.
Editor : Doni Ramdhani

