Industri AMDK Dikepung Produk Ilegal, AMDATARA JDB Perkuat Konsolidasi

Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) nasional tengah memasuki fase penuh tekanan. Persoalan pengelolaan sumber daya air, maraknya produk ilegal.

Industri AMDK Dikepung Produk Ilegal, AMDATARA JDB Perkuat Konsolidasi
Musyawarah Daerah (Musda) I Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perkumpulan Pengusaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten (JDB) yang digelar di Hotel Sutan Raja, Soreang, Kabupaten Bandung, Kamis (21/5/2026) lalu.

INILAHKORAN.ID - Industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) nasional tengah memasuki fase penuh tekanan. Persoalan pengelolaan sumber daya air, maraknya produk ilegal, hingga gejolak ekonomi global yang memicu kenaikan biaya energi dan bahan baku, menjadi tantangan serius yang dihadapi pelaku usaha.

Situasi itu menjadi sorotan utama dalam Musyawarah Daerah (Musda) I Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perkumpulan Pengusaha Air Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten (JDB) yang digelar di Hotel Sutan Raja, Soreang, Kabupaten Bandung, Kamis (21/5/2026) lalu.

Diikuti lebih dari 150 anggota, forum tersebut bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan. Musda perdana AMDATARA JDB menjadi titik konsolidasi industri untuk merumuskan strategi menghadapi tantangan sektor AMDK yang kian kompleks, sekaligus memperkuat posisi industri dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Ketua Umum AMDATARA, Karyanto Wibowo mengatakan, tekanan terhadap industri AMDK kini datang dari berbagai arah, baik domestik maupun internasional. Tantangan pengelolaan sumber daya air dan pengawasan produk ilegal, kata dia, menjadi pekerjaan besar yang harus direspons bersama.

Di saat bersamaan, dinamika global akibat ketegangan geopolitik turut membawa dampak terhadap industri, mulai dari kenaikan biaya energi, harga bahan baku, hingga terganggunya rantai pasok.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pelaku industri untuk mampu beradaptasi lebih cepat, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat inovasi di seluruh lini usaha.

“Kami berharap DPD AMDATARA JDB ini dapat menjadi contoh soliditas organisasi di daerah,” ujar Karyanto dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).

Guna menjawab tantangan tersebut, AMDATARA mendorong sejumlah agenda prioritas. Mulai dari penguatan kepatuhan terhadap standar BPOM dan SNI, percepatan implementasi ekonomi sirkular melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR), penguatan ketahanan rantai pasok, hingga praktik pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan.

Kawasan Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten selama ini menjadi episentrum industri AMDK nasional. Besarnya kontribusi wilayah tersebut membuat penguatan organisasi dinilai penting guna menjaga keberlanjutan industri, kualitas produk, serta perlindungan terhadap konsumen dan lingkungan.

Dalam forum itu kata dia, Musda I AMDATARA JDB juga menetapkan kepengurusan baru untuk periode 2026-2031. Zainal Abidin dari PT Tirta Investama dipercaya memimpin DPD AMDATARA JDB sebagai ketua.

Ia akan didampingi Aryanto dari CV Aditya Tirta Mandiri sebagai Wakil Ketua, Anda Juanda dari PT Tirta Gracia Semesta Mandiri sebagai Sekretaris, dan Oki Setiawan dari PT Patisa Chakra Mandiri sebagai Bendahara. Sementara posisi Dewan Pengawas diisi Windoedjaja dari CV Tirta Astro dan Hendra Kosasih dari PT Super Wahana Techno.

Ketua DPD AMDATARA JDB terpilih, Zainal Abidin menegaskan komitmennya memperkuat fungsi organisasi di tingkat daerah, serta mempererat kolaborasi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan industri.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada DPP AMDATARA, pemerintah pusat dan daerah, serta seluruh mitra yang telah mendukung terselenggaranya Musda ini,” katanya.

Zainal memastikan, kepengurusan baru siap menjalankan agenda asosiasi untuk memperkuat sinergi antaranggota sekaligus mendorong pertumbuhan industri AMDK yang lebih berkelanjutan.

“Melalui Musda ini, kami berharap dapat memperkuat soliditas organisasi, melahirkan kepengurusan yang visioner, serta meningkatkan kontribusi industri AMDK dalam menjawab tantangan ekonomi, sosial, dan lingkungan ke depan,” imbuhnya.***


Editor : JakaPermana