Inflasi Jabar Naik Jadi 3,08 Persen, Harga Pertamax dan Pangan Picu Lonjakan
Memasuki pertengahan 2026, tekanan inflasi di Jabar terus meningkat. Kenaikan BBM nonsubsidi dan gejolak harga pangan akibat musim kemarau menjadi faktor utama.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Memasuki pertengahan 2026, tekanan inflasi di Jabar terus meningkat. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, gejolak harga pangan akibat musim kemarau, hingga fluktuasi nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang mendorong laju inflasi di provinsi tersebut.
Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar mencatat, inflasi Jabar pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (mtm). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 0,24 persen.
Kepala BPS Jabar Margaretha Ari Anggorowati mengatakan, kenaikan inflasi Juni 2026 tidak lepas dari meningkatnya harga energi dan sejumlah komoditas pangan strategis.
“Secara umum, inflasi bulan Juni 2026 sebesar 0,28 persen dipengaruhi oleh naiknya harga bahan bakar non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green 95 yang memberikan andil inflasi cukup besar,” ujar Margaretha dalam paparannya, RAbu (1/7/2026).
Kenaikan inflasi bulanan tersebut turut mendorong inflasi kumulatif Januari-Juni 2026 menjadi 1,70 persen (ytd). Sementara inflasi tahunan mencapai 3,08 persen (yoy) atau sedikit lebih tinggi dibandingkan Mei 2026 yang berada di level 3,07 persen.
Secara spasial, seluruh 10 kabupaten/kota yang menjadi wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Barat mengalami inflasi selama Juni 2026.
Kota Depok menjadi daerah dengan inflasi tertinggi sebesar 0,42 persen, disusul Kota Bandung sebesar 0,32 persen. Sementara Kota Tasikmalaya mencatat inflasi paling rendah, yakni 0,03 persen.
Dari sisi kelompok pengeluaran, sektor transportasi menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan kenaikan 1,92 persen dan andil sebesar 0,21 persen. Kenaikan juga terjadi pada kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,24 persen serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,18 persen.
Sebaliknya, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,04 persen. Kelompok rekreasi, olahraga dan budaya juga mencatat deflasi tipis sebesar 0,02 persen.
Menurut Margaretha, perubahan musim mulai memberikan dampak terhadap pasokan dan harga sejumlah komoditas pangan.
“Memasuki musim kemarau yang dimulai pertengahan tahun 2026, hal ini telah mendorong beberapa harga pangan dan hortikultura meningkat, seperti harga beras, bawang merah, tomat dan wortel,” katanya.
Data BPS menunjukkan komoditas yang paling besar mendorong inflasi selama Juni 2026 adalah bensin, bawang merah, bawang putih, beras, dan tomat. Sementara komoditas yang menahan laju inflasi antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, cabai rawit, ikan mas, dan cabai merah.
Pada level tahunan, inflasi Jawa Barat sebesar 3,08 persen menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir untuk periode Juni. Sebagai perbandingan, inflasi tahunan pada Juni 2025 tercatat sebesar 1,78 persen, sedangkan Juni 2024 sebesar 2,38 persen.
“Tingginya laju inflasi year-on-year bulan Juni 2026 didorong oleh fluktuasi harga bahan bakar energi yang belum stabil sebagai dampak gejolak geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda,” ungkapnya.
Kabupaten Majalengka menjadi wilayah dengan inflasi tahunan tertinggi, sebesar 3,4 persen. Sedangkan Kabupaten Subang mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 2,6 persen.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi tahunan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 12,68 persen dengan andil 0,74 persen. Adapun kelompok makanan, minuman dan tembakau mencatat inflasi 4,28 persen dan menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil mencapai 1,32 persen.
Editor : Doni Ramdhani
