Ini Kontribusi Optimalisasi EBT Menurut Dinas ESDM Jabar
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sedang gencar-gencarnya mengoptimalisasi Energi Baru Terbarukan (EBT), sebagai sumber kebutuhan energi alternatif selain dari bahan bakar fosil.
Tujuan utamanya kata Kepala Bidang Energi Dinas ESDM Jabar Permadi Mohamad Nurhikmah adalah, menekan emisi karbon yang timbul dampak dari penggunaan sumber daya fosil, karena memengaruhi pemanasan global. Serta memastikan kebutuhan energi tetap aman dalam jangka panjang, dengan disiapkan infrastrukturnya dari sekarang.
EBT yang tengah digenjot saat ini, pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap. Sebab secara teknologi dan biaya, cenderung lebih ringan ketimbang optimalisasi EBT dari sumber lain.
“Kita memiliki tanggungjawab dalam melaksanakan pengurangan emisi gas rumah kaca. Ini sudah diratifikasi juga dalam Undang-undang Nomor 16 Tahun 2016, untuk mengurangi kenaikan suhu tidak lebih dari 1,5 derajat celsius sampai 2060. Untuk itu EBT ini dioptimalisasi. Dalam EBT ini sendiri banyak energi alternatif. Tetapi memang saat ini kita baru mendorong teknologi yang sudah provent, yaitu PLTS,” ujarnya kepada INILAHKORAN baru-baru ini.
“Secara biaya, panel surya cenderung turun harganya karena semakin matang teknologinya. Lalu relatif bisa dipasang dimana saja. Makanya kemudian mendorong dengan adanya PLTS atap, yang sudah kita bangun dibeberapa kantor di lingkungan pemerintah provinsi. Selain kita juga mengupayakan solar farm dan floating di badan air. Dimana tahun depan kita mau bangun PLTS diatas permukaan Waduk Cirata. Ini akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. 145 megawatt,” imbuhnya.
Terkait penyimpanan sumber energi, Permadi menyebut pihaknya melibatkan Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang memiliki kewenangan dalam pendistribusian berdasarkan regulasi. Kontibusinya bagi masyarakat Jawa Barat, dari infrastruktur yang dibangun oleh Pemprov kata dia, dengan memberikan subsidi terhadap masyarakat kurang mampu.
“Untuk penyimpanan dan distribusi, ini akan masuk ke jaringan PLN. Walaupun memang saat ini menjadi kendala, karena PLN juga over supply. Makanya ini akan strategis ketika semuanya diarahkan ke listrik. Sehingga stok yang ada bisa tersalurkan maksimal. Kembali lagi, bahwa listrik ini menjadi semacam penugasan negara kepada PLN. Tentunya kita punya PR yang menjadi tanggungjawab kita dalam menyalurkan listrik kepada rumah tangga tidak mampu,” ucapnya.
“Melalui kerjasama ini, bagaimana PLN bisa mengakomodir menyediakan listrik untuk membantu masyarakat tidak mampu. Walaupun kewenangan kita terbatas, tetapi kita bisa koordinasi, kolaborasi dengan PLN dalam memenuhi itu. Intinya harus kita breakdown agar persoalan bisa diatasi, dengan kolaborasi ini,” lanjutnya.
Permadi melanjutkan, 38 persen sumber listrik di Jawa Barat pada saat ini sudah bersumber dari optimalisasi EBT. Seiring berjalannya waktu, dia meyakini 100 persen sumber energi dari EBT dapat terealisasi dalam mengakomodir kebutuhan listrik masyarakat Jawa Barat dan lepas terhadap kebergantungan dengan energi fosil.
“Dari sisi hulu, Jawa Barat sudah besar EBT-nya. 38 peren listrik Jabar dari EBT. PLN juga sampai 2026, 51 persen sumber listrik dari EBT. Itu akan kita naikkan terus seiring dengan transisi energi. Sebab memang kita punya potensi besar. Supaya bisa maksimal 100 persen ini, lalu pemanfaatannya juga optimal. Kita dorong semua ke listrik. Belum lagi dari panas bumi, baru 20 persen saja yang sudah termanfaatkan dari potensi yang ada,” terangnya.
Sehingga peralihan dari kendaraan konvensional ke kendaaran listrik kata dia, dapat menjadi jawaban dalam memaksimalkan melimpahnya ketersediaan energi listrik yang ada saat ini. Terlebih dengan adanya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, yang tentunya memengaruhi perekonomian dapat menjadi opsi dalam memenuhi kebutuhan mobilitas masyarakat.
“Optimalisasi kendaraan listrik memang enggak bisa instan. Pasti akan melalui proses panjang. Tetapi dengan komitmen, ini bisa dikembangkan apalagi memang ketersediaan sumber listrik juga melimpah. Luar negeri sudah berkembang sekarang, tinggal kita mendorong akselerasinya yang tentunya harus smooth karena harus memikirkan juga sama yang sekarang. Tapi intinya, ini dapat menjadi jawaban terhadap persoalan sekarang,” tutupnya. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti

