Ini Pengakuan Anak Pedagang Es Gabus Asal Bojonggede yang Dipukuli Oknum Polisi

Seorang pedagang es gabus asal Bojonggede Kabupaten Bogor Sudrajat mengaku menjadi korban pemukulan aparat kepolisian di wilayah Jakarta Pusat.

Ini Pengakuan Anak Pedagang Es Gabus Asal Bojonggede yang Dipukuli Oknum Polisi
"Bapak pulang pada Minggu subuh pukul 04.00 WIB, ia mengaku dipukulin oleh polisi dan difitnah menjual es dari spons," kata Zaitun (18) anak ketiga Sudrajat di kediamannya Desa Rawa Panjang Bojonggede, Selasa 27 Januari 2026. (reza zurifwan)

INILAHKORAN.ID - Seorang pedagang es gabus asal Bojonggede Kabupaten Bogor Sudrajat mengaku menjadi korban pemukulan aparat kepolisian di wilayah Jakarta Pusat.

Hal itu karena pedagang es gabus asal Bojonggede itu diduga menjual es terbuat dari spons. Namun, ternyata setelah sempat ditahan hingga Minggu dini hari, ia dilepaskan karena es gabus yang Sudrajat jual aman untuk dikonsumsi.

"Bapak pulang pada Minggu subuh pukul 04.00 WIB, ia mengaku dipukulin oleh polisi dan difitnah menjual es dari spons," kata Zaitun (18) anak ketiga Sudrajat di kediamannya Desa Rawa Panjang Bojonggede, Selasa 27 Januari 2026.

Zaitun mengaku sempat mencari bapaknya ke Stasiun Citayam yang tak jauh dari rumahnya.

Ia khawatir atas nasib bapaknya yang 15 tahun menjajakan jualan es gabus ke Kemayoran, Kota Tua, hingga ke wilayah Jakarta Utara.

"Kami khawatir sekali atas nasib bapak yang biasa pulang ke rumah jam 4 sore. Saya nyari ke Stasiun Citayam tapi ga ada. Mau nelpon, bapak juga gak punya handphone," tutur Zaitun.

Remaja perempuan yang hanya lulusan SMP itu menjelaskan, walaupun bapaknya hanya bekerja sebagai kuli atau pedagang kecil tetapi sosoknya sangat bertanggung jawab atas kelima anaknya.

"Bapak pergi dagang abis sholat subuh lalu pulang jam 4 sore. Setiap hari penghasilannya sekitar Rp50 ribu. Karena penghasilannya yang rata-rata Rp 100 ribuan itu harus disetorkan lagi sebagian ke bos yang buat es gabus," jelas Zaitun.

Walaupun marah kepada aparat penegak hukum yang memukuli ayahnya, ia mengaku akan memaafkan oknum tersebut.

"Marah, tetapi kami lebih memilih memaafkan dan berharap Allah SWT mengganti (kesusahan) dengan kebaikan atau mengambil hikmah atas kejadian dipukulin bapak," tukasnya.


Editor : Doni Ramdhani