Ini Penjelasan Lengkap PGRI Jabar soal Belajar Online

Ketua PGRI Jawa Barat Dede Amar mendukung langkah-langkah prefentif yang diambil pemerintah, baik pusat dan daerah dalam upaya memutus mata rantai Corona-19 agar tidak lebih menyebar.

Ini Penjelasan Lengkap PGRI Jabar soal Belajar Online

INILAH, Bandung - Ketua PGRI Jawa Barat Dede Amar mendukung langkah-langkah prefentif yang diambil pemerintah, baik pusat dan daerah dalam upaya memutus mata rantai Corona-19 agar tidak lebih menyebar.

PGRI Jawa Barat sangat memaklumi dan memahami kegalauan, kepanikan baik pemerintah maupun orang tua siswa, atau masyarakat umum secara terstruktur.

Menurut Dede, PGRI Jawa Barat berada di barisan paling depan dalam membantu mensosialisaskan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, serta turut menenangkan, memberi pengertian, pemahaman terutama ke pihak warga sekolah, serta memberikan alternatif solusi dalam pelaksanaan pembelajaran di rumah.

Setelah belajar 5 hari sejak tanggal 16 sampai dengan 21 Maret 2020, kata Dede, terdapat beberapa masalah terutama dalam belajar online yang dilaksanakan saat ini seperti, masyarakat/orang tua merasa terbebani dengan berbagai tugas setiap mata pelajaran sehingga sampai larut malam mengerjakan tugas. Selain itu, anak yang kerja kelompok waktunya berlarut-larut serta kurang terkontrol dan banyak instruksi yang harus dilaksanakan diluar kemampuan.

Memaknai keadaan ini serta usulan dan masukan dari berbagai pihak menurut PGRI Jawa Barat dipandang perlu penjelasan yang spesifik kepada seluruh guru tentang ruh nya belajar jarak jauh, serta teknisnya.

Dia menyatakan, pertama, setiap orang harus memberi penjelasan kepada orang tua secara terstruktur, terinci dan terprogram dan model pembelajaran diubah yang lebih menarik, tidak merupakan instuksi, tapi memberi pengalaman menyenangkan.

"Pengawasan dan pendampingan harus dilaksanakan oleh pihak terkait. Tidak setiap siswa memiliki internet yang memadai, sehingga mencari warnet terkadang warnet bermasalah, maka tugas jangan hanya bentuk online, tetapi bentuk lain yang dapat dikerjakan baik perorangan maupun kelompok misalnya hafalan, kemudian di tes pada waktu masuk sekolah," papar Dede, Senin (23/3/2020).

Selain itu, tidak setiap siswa memiliki handphone yang komplit ataupun laptop/komputer memadai, maka disiapkan kegiatan belajar mengajar (KBM) yang non online. Pemberian tugas jangan terlalu dibatasi, sehingga menjadi stres. Berilah tugas yang bebas terbatas, sehingga siswa merasa enjoy untuk mengembangkannya.

"Tagihan pengumpulan tugas setiap siswa tidak harus dalam waktu yang sama serentak bersama-sama. Harus memperhatikan keadaan dan kemampuan siswa serta latar belakang orang tuanya,' pungkas Dede. (Okky Adiana).


Editor : Zulfirman