Inovasi Ekonomi Sirkular, Fasilitas Maggot dan Budidaya Unggas di Lembang Diresmikan

KBB kini memiliki fasilitas budidaya unggas terpadu dan pengelolaan sampah organik berbasis maggot di Kompleks PPR ITB, Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang.

Inovasi Ekonomi Sirkular, Fasilitas Maggot dan Budidaya Unggas di Lembang Diresmikan
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail (kanan) meresmikan Fasilitas Maggot BSF dan Budidaya Unggas di Lembang bisa mengolah 200-250 kg sampah per hari. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Mengusung konsep ekonomi sirkular bertajuk 'Dari sampah Menjadi Gizi', Kabupaten Bandung Barat (KBB) akhirnya memiliki Fasilitas Budidaya unggas Terpadu dan Pengelolaan sampah Organik berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF) di Kompleks PPR ITB, Desa Mekarwangi, Kecamatan Lembang.

Langkah konkret mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang ekonomi lantaran fasilitas ini mengintegrasikan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan budidaya unggas dalam satu rantai nilai yang berkelanjutan. 

sampah organik yang selama ini menjadi beban lingkungan justru menjadi bahan baku utama karena dikonsumsi larva maggot BSF untuk diubah menjadi pakan ayam tinggi protein yang bebas antibiotik, sementara residu sisa pengolahan atau kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas. 

Hasil akhirnya tak cuma berupa pengurangan volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), namun juga produksi telur ayam kampung bergizi yang siap dikonsumsi maupun dijual menciptakan siklus yang bersih, sehat dan bernilai ekonomi.

Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan, inovasi itu sejalan dengan komitmen Pemkab Bandung Barat dalam menyelaraskan solusi lingkungan dengan penguatan ekonomi warga melalui konsep pertanian ramah lingkungan atau green farming. 

"Apa yang kita lihat hari ini merupakan contoh yang sangat baik. sampah organik yang selama ini menjadi persoalan dapat dikelola dan dimanfaatkan melalui budidaya maggot, terintegrasi dengan peternakan unggas dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat," kata Jeje usai meresmikan fasilitas tersebut, Selasa (18/8/2026).

"Hal ini sejalan dengan komitmen Pemkab Bandung Barat untuk menyelaraskan solusi lingkungan dengan penguatan ekonomi warga melalui green farming," imbuhnya.

Secara operasional, terang Jeje, fasilitas ini mampu mengolah 200–250 kilogram sampah organik per hari menggunakan sistem biopond maggot BSF, sebuah angka yang signifikan dalam meringankan beban TPA sekaligus menekan biaya pembelian pakan ternak yang selama ini menjadi salah satu beban terbesar peternak. 

Melalui sistem integrasi peternakan yang dikenal sebagai 'Apartemen Ayam', lanjut dia, produksi telur ayam kampung dapat berjalan secara berkelanjutan, sementara kasgot yang dihasilkan berfungsi sebagai pupuk organik berkualitas untuk mendukung pertanian hortikultura di sekitar lokasi. 

"Semua ini berkat kolaborasi multisektor yang melibatkan peran dunia usaha (Bank Mandiri Taspen dan Danantara Indonesia), akademisi (ITB), pengembang teknologi (Bersemi Farm), serta masyarakat desa sebagai penerima manfaat utama," sebutnya.

Jeje berharap kemitraan strategis ini tak hanya berhenti di satu lokasi, namun terus diperluas dan menjadi model replikasi di wilayah lain di Kabupaten Bandung Barat. 

Melalui pembukaan fasilitas ini, pihaknya optimistis kemitraan strategis bersama sektor swasta dan perguruan tinggi bakal terus diperluas demi mewujudkan wilayah yang lebih bersih, mandiri dan sejahtera. 

"inovasi ini menjadi bukti penanganan sampah tidak harus selalu menjadi biaya, tapi dapat berubah menjadi investasi yang memberi manfaat ganda, seperti lingkungan bersih, pangan bergizi, dan ekonomi warga yang tumbuh," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani