Prasasti PU Gedung Sate Dipindahkan, Jejak Perjuangan Tujuh Pemuda Jadi Sorotan

Prasasti PU di Gedung Sate Bandung dipindahkan dari halaman depan ke area timur. Monumen ini mengenang tujuh pemuda yang gugur pada 1945.

Prasasti PU Gedung Sate Dipindahkan, Jejak Perjuangan Tujuh Pemuda Jadi Sorotan
Prasasti PU di Gedung Sate Bandung dipindahkan dari halaman depan ke area timur. Monumen ini mengenang tujuh pemuda yang gugur pada 1945.

INILAHKORAN.ID-Prasasti Pekerjaan Umum (PU) yang menjadi simbol perjuangan tujuh pemuda dalam mempertahankan Gedung Sate pada masa awal kemerdekaan kini tidak lagi berada di halaman depan bangunan bersejarah tersebut.

Prasasti PU dipindahkan ke kawasan timur Gedung Sate, berdekatan dengan area parkir dan Museum Gedung Sate. Perubahan posisi monumen tersebut menjadi sorotan karena terjadi menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).

Prasasti tersebut selama ini menjadi salah satu penanda sejarah penting di kawasan Gedung Sate. Monumen itu dibangun untuk mengenang tujuh pegawai Jawatan Pekerjaan Umum dan Pengairan yang gugur saat mempertahankan Gedung Sate dari serangan pasukan Sekutu dan NICA pada 24 November 1945.

Mengenang Tujuh Pemuda yang Gugur di Gedung Sate

Ketujuh pemuda yang gugur dalam pertempuran tersebut adalah Rio Susilo, Mochtaroedin, Subenget, Soerjono, Soehodo, Didi Hardianto Kamarga, dan Ranu.

Kala itu, Gedung Sate masih digunakan sebagai Kantor Jawatan Pekerjaan Umum dan Pengairan. Bangunan tersebut menjadi salah satu sasaran strategis yang hendak dikuasai pasukan Sekutu bersama NICA.

Sebanyak 21 pemuda pegawai PU memilih bertahan menghadapi pasukan Gurkha dari Royal Gurkha Rifles Divisi Mahratta 23 yang memiliki persenjataan lebih lengkap.

Pertempuran berlangsung sekitar empat jam. Gedung Sate akhirnya jatuh ke tangan Sekutu. Tujuh pemuda gugur, sedangkan 14 pemuda lainnya mundur.

Jasad ketujuh pejuang tersebut kemudian dimakamkan dalam satu liang di belakang Gedung Sate. Pada Agustus 1952, dilakukan penggalian untuk mencari kembali jasad para pejuang.

Tiga jenazah, yakni Soehodo, Didi Hardianto, dan Mochtaroedin, kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra. Sementara empat lainnya tetap berada di kawasan Gedung Sate.

Prasasti PU Tak Lagi di Lokasi Semula

Untuk mengenang perjuangan tersebut, pemerintah kemudian mendirikan Prasasti PU di halaman depan Gedung Sate.

Keberadaan monumen di lokasi tersebut membuat kisah perjuangan tujuh pemuda menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kawasan Gedung Sate.

Namun, setelah dilakukan penataan terintegrasi kawasan Gedung Sate dan Lapangan Gasibu, posisi prasasti mengalami perubahan.

Padahal, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebelumnya pernah menegaskan bahwa Prasasti PU tidak akan dipindahkan.

“Ya tetap saja, kan prasasti tidak berubah, tidak ada masalah. Prasasti tidak akan digeserkan, tetap di situ. Pokoknya batu prasasti tetap di situ,” tegas Dedi pada April 2026.

Kini, kondisi di lapangan menunjukkan Prasasti PU sudah tidak berada di halaman depan Gedung Sate seperti sebelumnya.

Pemprov Jabar Pastikan Prasasti Tetap Dipertahankan

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Barat, Adi Komar, memastikan Prasasti PU tetap berada di kawasan Gedung Sate.

Menurutnya, keberadaan prasasti sebagai simbol sejarah tetap dipertahankan. Namun, pihaknya belum memastikan apakah monumen tersebut nantinya akan dikembalikan ke lokasi semula.

“Yang pasti prasasti simbol itu tetap ada di lingkungan area kawasan Gedung Sate. Nanti akan ditentukan. Tapi yang pasti penempatannya akan ada di dalam area Gedung Sate,” katanya.

Adi menilai kawasan Gedung Sate memiliki banyak nilai sejarah sehingga keberadaan berbagai simbol sejarah tetap menjadi bagian penting dalam penataan kawasan tersebut.

Bukan Sekadar Batu Monumen

Pemindahan Prasasti PU menjadi perhatian karena monumen tersebut bukan sekadar penanda fisik, melainkan bagian dari sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Bandung.

Di tengah peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, keberadaan simbol-simbol sejarah menjadi pengingat bahwa kemerdekaan diperoleh melalui perjuangan dan pengorbanan.

Prasasti PU menjadi salah satu pengingat atas keberanian tujuh pemuda yang mempertaruhkan nyawa ketika mempertahankan Gedung Sate pada 24 November 1945.

Karena itu, penataan kawasan Gedung Sate diharapkan tidak hanya memperhatikan aspek estetika dan fungsi ruang, tetapi juga tetap menjaga nilai sejarah serta akses masyarakat terhadap jejak perjuangan para pahlawan.

Bagi masyarakat Bandung dan Jawa Barat, Prasasti PU bukan hanya sebuah batu monumen. Ia merupakan bagian dari ingatan kolektif tentang perjuangan generasi muda dalam mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.***


Editor : JakaPermana