Pasanggrahan Pancarasa Resmi Dibuka, Wajah Baru Taman Gedung Sate Jawa Barat

Pasanggrahan Pancarasa resmi dibuka di kawasan Gedung Sate Bandung. Ruang publik baru ini mengusung filosofi pancaindra, sejarah, budaya, dan kebersamaan.

Pasanggrahan Pancarasa Resmi Dibuka, Wajah Baru Taman Gedung Sate Jawa Barat
Pasanggrahan Pancarasa resmi dibuka di kawasan Gedung Sate Bandung. Ruang publik baru ini mengusung filosofi pancaindra, sejarah, budaya, dan kebersamaan.

INILAHKORAN.ID-Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi membuka kawasan hasil revitalisasi taman Gedung Sate yang kini diberi nama Pasanggrahan Pancarasa. Kawasan tersebut dihadirkan sebagai ruang publik baru yang memadukan nilai sejarah, filosofi, budaya, dan aktivitas masyarakat.

Nama Pasanggrahan Pancarasa bukan sekadar sebutan baru untuk pelataran Gedung Sate. Nama tersebut membawa pesan filosofis yang ingin ditanamkan kepada masyarakat dalam memanfaatkan ruang publik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjelaskan, filosofi Pancarasa berkaitan dengan kemampuan manusia menggunakan pancaindra sekaligus hati dalam menjalani kehidupan.

"Pasanggrahan Pancarasa. Pancarasa, kita ini punya lima rasa. Punya mata harus melihat, punya telinga harus mendengar, punya hidung harus menghisap, punya lidah harus berucap, punya hati harus ikhlas," ujar Dedi, dikutip dari akun media sosialnya, Selasa (18/8/2026).

Pasanggrahan Jadi Ruang Berkumpul Masyarakat

Dedi menjelaskan, istilah Pasanggrahan memiliki akar sejarah sebagai tempat berkumpul masyarakat. Pada masa lalu, kawasan tersebut menjadi titik pertemuan masyarakat dari berbagai wilayah kerajaan.

"Pasanggrahan itu tempat berkumpul, alun-alun. Dulu berkumpulnya di Pasanggrahan itu orang pakai kuda daerah kerajaan," paparnya.

Dengan rampungnya proses revitalisasi, kawasan tersebut kini telah dibuka dan dapat digunakan masyarakat. Namun, Dedi mengingatkan warga untuk turut menjaga berbagai fasilitas yang telah dibangun.

Salah satu fasilitas yang masih membutuhkan perawatan adalah area rumput yang baru ditata.

"Dibuka, sudah dibuka. Ini dibuka per hari ini, tapi rumputnya jangan diinjak," katanya.

Dedi Terima Kritik dan Masukan Masyarakat

Dedi juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang memberikan tanggapan terhadap proses revitalisasi kawasan Gedung Sate.

Menurutnya, kritik maupun dukungan dari masyarakat merupakan bagian penting dalam pembangunan ruang publik.

"Ya hatur nuhun. Saya juga mengucapkan terima kasih bukan hanya yang merespons positif, pada yang mengkritik pun saya mengucapkan terima kasih," ucapnya.

Ia menilai berbagai masukan tersebut dapat menjadi bagian dari proses evaluasi untuk memastikan kawasan yang telah direvitalisasi benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dedi Minta Maaf soal Penutupan Jalan Saat HUT RI

Di tengah pembukaan Pasanggrahan Pancarasa, Dedi juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang aktivitasnya terdampak penutupan sejumlah ruas jalan di sekitar Gedung Sate.

Penutupan jalan dilakukan ketika Jawa Barat menggelar upacara peringatan detik-detik Proklamasi dan upacara penurunan bendera dalam rangka HUT ke-81 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026.

"Saya menyampaikan ucapan permohonan maaf pada seluruh pengguna jalan di sekitar Gedung Sate pada hari kemarin mengalami penutupan karena kegiatan upacara peringatan detik-detik proklamasi kemerdekaan RI dan upacara penurunan bendera merah putih," katanya.

Menurut Dedi, pembatasan lalu lintas saat itu merupakan bagian dari pengamanan dan pengaturan kegiatan kenegaraan yang dipusatkan di kawasan Gedung Sate.

"Pasti ada yang merasa terganggu aktivitasnya, kami menyampaikan permohonan maaf dan semua dilakukan demi kenyamanan seluruh warga yang hadir di areal halaman Gedung Sate atau Pasanggrahan Pancarasa," tuturnya.

Pasanggrahan Pancarasa Jadi Ruang Publik Baru Bandung

Pembukaan Pasanggrahan Pancarasa menandai perubahan wajah kawasan Gedung Sate menjadi ruang publik baru di Kota Bandung.

Selain mempercantik kawasan ikon pemerintahan Jawa Barat, Pasanggrahan Pancarasa diharapkan menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat sekaligus tempat untuk mengenal dan menghayati nilai sejarah serta budaya Jawa Barat.

Masyarakat yang berkunjung juga diharapkan ikut menjaga kebersihan, fasilitas, dan berbagai tanaman yang terdapat di kawasan tersebut agar ruang publik ini dapat dinikmati secara berkelanjutan.***


Editor : JakaPermana