Dedi Mulyadi Ubah Standar Perawatan Gedung Sate, Kini Gunakan Material Heritage
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengubah pola pemeliharaan Gedung Sate dengan menerapkan standar khusus bangunan heritage.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengubah pola pemeliharaan Gedung Sate dengan menerapkan standar khusus bangunan heritage. Kebijakan tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas bangunan ikonik Jawa Barat sekaligus mempertahankan nilai sejarahnya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, selama ini pemeliharaan Gedung Sate belum sepenuhnya mengacu pada standar pelestarian bangunan bersejarah yang ditetapkan Balai Pelestarian Cagar Budaya.
Salah satu perubahan yang dilakukan adalah penggunaan material untuk pengecatan. Menurut Dedi, cat yang sebelumnya digunakan tidak sepenuhnya sesuai dengan karakter bangunan heritage sehingga hasil pemeliharaan tidak bertahan lama.
“Bangunan bersejarah atau bangunan heritage itu sebenarnya ada standarisasinya yang dimiliki oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya. Jadi standarnya selama ini Gedung Sate itu tidak menggunakan standarisasi dalam pemeliharaannya,” ujar Dedi di Kota Bandung, Jumat (14/8/2026).
Cat Gedung Sate Kini Menggunakan Standar Heritage
Dedi menjelaskan, sebelumnya proses pengecatan Gedung Sate masih menggunakan material yang lazim digunakan untuk bangunan rumah. Kondisi tersebut membuat cat lebih cepat rusak dan tampilan gedung kembali kusam dalam waktu relatif singkat.
“Sehingga kalau dicat itu dipakai cat yang seperti dipakai di rumah kita masing-masing. Sebulan sudah copot lagi dan kelihatan kusam,” katanya.
Kini, Pemprov Jabar mengubah pendekatan tersebut dengan menggunakan cat yang memenuhi standar pelestarian bangunan cagar budaya.
Dedi menegaskan, efisiensi anggaran tidak boleh mengorbankan kualitas perawatan, terutama untuk bangunan yang memiliki nilai sejarah dan menjadi salah satu ikon Jawa Barat.
“Nah sekarang uang pemeliharaannya lebih kecil dibanding dulu, tapi kita langsung pada esensinya. Jadi menggunakan cat yang memiliki standar sesuai dengan ketentuan Balai Pelestarian Cagar Budaya,” ungkapnya.
Anggaran Lebih Efisien, Kualitas Tetap Dijaga
Menurut Dedi, pola pemeliharaan baru justru membuat penggunaan anggaran lebih efektif. Meski anggaran rutin lebih rendah dibandingkan sebelumnya, kualitas hasil perawatan dinilai lebih baik karena material yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan bangunan heritage.
Ia mengaku tidak mengetahui secara rinci spesifikasi teknis maupun merek cat yang digunakan. Hal tersebut menjadi kewenangan perangkat daerah yang menangani pemeliharaan Gedung Sate.
“Saya tidak tahu spesifikasi teknis ya, kan saya hanya menetapkan kebijakan umum. Nanti dicek saja ke Kepala Biro Umum karena dia yang lebih mengerti spesifikasi teknisnya,” ucapnya.
Dedi menyebut perubahan tampilan Gedung Sate saat ini dapat dilihat secara langsung. Warna bangunan terlihat lebih cerah dan proses pengecatan dilakukan hingga bagian atas gedung.
“Dilihat saja Gedung Sate dari jauh sekarang, sudah cerah, dicatnya sudah sampai atas gitu,” tuturnya.
Pintu Utama dan Halaman Gedung Sate Ikut Ditata
Selain pengecatan bangunan, perubahan juga terlihat pada bagian lain Gedung Sate.
Berdasarkan pantauan di lokasi, pintu utama yang sebelumnya menggunakan kaca kini diganti dengan desain yang menyerupai pintu kerajaan. Pada bagian tengah pintu terdapat simbol wayang yang memperkuat nuansa budaya.
Penataan juga dilakukan di halaman depan Gedung Sate. Dua gerbang dengan bentuk menyerupai Candi Bentar terlihat berada di sisi kanan dan kiri halaman.
Gerbang tersebut berada di kawasan lahan Jalan Diponegoro yang saat ini ditutup.
Gedung Sate Dirawat dengan Pendekatan Pelestarian
Dedi menegaskan, perubahan pola pemeliharaan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga Gedung Sate sebagai bangunan bersejarah Jawa Barat.
Menurutnya, bangunan heritage tidak cukup hanya dirawat secara rutin, tetapi harus mendapatkan perlakuan dan material yang sesuai dengan karakter serta standar pelestarian.
“Hari ini dengan standar anggaran rutin yang lebih rendah kita bisa mencapai dengan kualitas yang terbaik,” pungkasnya.
Dengan penerapan standar heritage, Pemprov Jawa Barat berharap Gedung Sate tidak hanya tampil lebih terawat, tetapi juga dapat mempertahankan karakter dan nilai sejarahnya untuk generasi mendatang.***
Editor : JakaPermana


