Candi Bentar di Depan Gedung Sate Disorot, Pemprov Jabar Ungkap Alasan Desainnya
Gerbang Candi Bentar di depan Gedung Sate Bandung menuai sorotan warganet. Pemprov Jabar menyebut desainnya bagian dari konsep kearifan lokal.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Pembangunan dua gerbang baru berbentuk Candi Bentar di kawasan depan Gedung Sate, Bandung, memicu sorotan publik di media sosial.
Sejumlah warganet mempertanyakan keselarasan desain gerbang tersebut dengan Gedung Sate yang dikenal sebagai bangunan bergaya art deco dan memiliki nilai sejarah.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan, kehadiran Candi Bentar merupakan bagian dari konsep revitalisasi kawasan yang mengedepankan identitas serta kearifan budaya daerah.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat, Adi Komar, mengatakan desain gerbang baru tersebut bukan konsep yang benar-benar baru.
Menurutnya, bentuk gerbang mengadopsi Candi Bentar yang sejak lama telah berdiri di kompleks Gedung Sate. Perbedaannya terletak pada ukuran yang dibuat lebih besar untuk menyesuaikan tata ruang kawasan setelah direvitalisasi.
“Untuk desain dan konsep, sebetulnya ini sama dengan Candi Bentar yang di halaman Gedung Sate tampilannya. Sama aja, cuma dimensinya aja lebih besar. Karena mengikuti desain jalannya yang lebih besar,” kata Adi, Kamis (3/9/2026).
Candi Bentar Disebut Bagian dari Kearifan Lokal
Adi menjelaskan, pemilihan Candi Bentar tidak terlepas dari upaya menghadirkan unsur Kearifan Lokal Jawa Barat di salah satu kawasan ikonik milik pemerintah daerah.
“Nah, kenapa Candi Bentar? Ya itu juga bagian dari desain-desain, konsep kearifan kedaerahan,” ujarnya.
Menurut Adi, bentuk Candi Bentar juga dapat ditemukan di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Cirebon.
Karena itu, elemen tersebut dinilai dapat merepresentasikan kekhasan budaya lokal yang ingin ditampilkan dalam wajah baru kawasan Gedung Sate.
“Itu Candi Bentar juga kan dipakai di beberapa wilayah ya, di Cirebon juga ada. Untuk menunjukkan bahwa itu sebuah ruang area yang memang diadopsi dari kekhasan daerah di Jawa Barat,” ucapnya.
Pemprov Jabar Sebut Kritik Warganet Hal Wajar
Meski menuai kritik, Adi menilai beragam respons masyarakat merupakan hal yang wajar dalam sebuah proyek penataan ruang publik.
Menurutnya, masyarakat memiliki pandangan yang berbeda dalam melihat perubahan kawasan Gedung Sate setelah revitalisasi.
“Netizen bisa silakan mengapresiasikan, silakan pendapatnya untuk bagaimana melihat sekarang bentuk kawasan yang sekarang diperbangun beda-beda,” katanya.
Adi mengatakan tidak sedikit pula masyarakat yang memberikan apresiasi terhadap perubahan wajah kawasan Gedung Sate.
“Tidak sedikit juga yang mengapresiasi. Jadi banyak yang memang ini semakin terlihat megah. Terus ada beberapa ikon yang memang tidak monoton. Ada sentuhan budaya Jawa Barat, kekhasan daerah,” tuturnya.
Candi Bentar Tak Hilangkan Nilai Historis Gedung Sate
Adi menegaskan, keberadaan elemen arsitektur lokal di sekitar bangunan bersejarah tidak serta-merta menghilangkan nilai historis Gedung Sate.
Menurutnya, sebuah kawasan heritage dapat berkembang dengan memadukan berbagai karakter arsitektur tanpa harus seluruh elemen pendukungnya menggunakan gaya yang sama.
“Nanti juga bisa dilihat di beberapa tempat di Jawa Barat atau di tingkat nasional di mana ada bangunan yang memang desain-desain Belanda. Tapi kan di sekelilingnya juga tidak memang harus ada arsiteknya harus Belanda semua,” ujar Adi.
Ia menambahkan, kawasan Gedung Sate sejak lama telah menampilkan perpaduan berbagai karakter bangunan maupun fasilitas pendukung yang tidak seluruhnya mengadopsi gaya kolonial.
“Di sini kan jadi ada kekhasan arsitek percampuran juga,” tandasnya.
Dengan demikian, Pemprov Jabar memandang kehadiran Candi Bentar Gedung Sate sebagai bagian dari upaya memberikan identitas budaya lokal dalam revitalisasi kawasan, bukan sebagai upaya mengubah atau menghilangkan karakter historis Gedung Sate.***
Editor : JakaPermana

