Ridwan Kamil Sebut Ikan-ikan di Sungai Citarum Sekarang Sudah Berenang Bahagia
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil memaparkan capaian keberhasilan program Citarum Harum. Ridwan Kamil menyebut ikan sudah berenang bahagia
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung-Kendati masih banyak hal yang masih harus dikerjakan, namun pengendalian pencemaran dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum kian tampak menggembiarkan.
Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dalam pemaparannya kepada Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan di Bandung, Selasa, 7 September 2021
Ridwan Kamil memaparkan, pihaknya menargetkan indeks kualitas air Sungai Citarum mencapai 60 poin pada 2025 mendatang. Dan pada 2030 menuju Mutu Air Kelas II dengan nilai 70 poin.
Di mana pada kondisi awalnya pada 2018, indeks kualitas air Sungai Citarum berstatus Cemar Berat dengan nilai 33,34 poin. Kemudian pada 2020 membaik menjadi Cemar Ringan dengan indeks 55 poin.
Baca Juga: Foto: Pusat Daur Ulang Sampah di Kota Bandung
Seharusnya pada 2020, katanya, targetnya membaik dari Cemar Berat ke Cemar Sedang. Namun dengan kerja keras Satgas Citarum Harum, statusnya meningkat melampaui target menjadi Cemar Ringan.
"Saya juga kurang paham tapi intinya ini kinerja yang luar biasa, kami melewati status Cemar Sedang di 40-an, langsung hari ini statusnya Cemar Ringan ya," ujar Ridwan Kamil
Dia memastikan, proses pengendalian DAS Citarum tersebut terus berlanjut. Dengan begitu, berharap pada akhirnya sudah masuk Kelas II, yakni ikan-ikan sudah bisa berenang dan tumbuh dengan baik, manusia juga sudah bisa berenang di Citarum.
Ridwan Kamil berharap ke depan kondisi Sungai Citarum dapat swimmable atau bisa dipakai berenang oleh manusia dengan nyaman. Hal itu merupakan capaian tertinggi dalam program ini.
Baca Juga: Masa Pandemi, Disparbud Jabar Berupaya Hadirkan Berwisata Aman
"Sebagai simbol bahwa ikan pun sudah bahagia, sampai nanti tahun ke depan yang berenang tidak hanya ikan tapi yang berenang adalah manusia. Kalau tempatnya memang sudah swimmable ya, saya sebagai Dansatgas mungkin akan mencoba juga berenang kalau tempatnya memungkinkan," katanya.
Sebelum ada Perpres Nomor 15 Tahun 2018 tentang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum, katanya, penanganan memang sangat susah. Namun setelahnya, semua jadi terkoordinasi.
Terdapat 12 poin capaian program Citarum Harum, katanya. Awal targetnya penanganan lahan kritis hanya 15.000 hektare, namun dengan bekerja keras bersama TNI, sudah tercapai penanganan 26.000 hektare lahan kritis.
Masih banyak yang harus ditangani sampai target 80 ribu hektar lahan kritis tertangani pada 2025.
Baca Juga: Foto: Kunjungan Kerja Menko Marves di Bandung
"Kemudian limbah domestik kita masih ada kendala karena menyangkut teritorial rumah-rumah yang di perkampungan. Memang target 135.000, kita ada 35 ribu, keteteran, ini akan kita sempurnakan," katanya.
Mengenai target pengelolaan sampah, menurut dia, memang dari target 3.100 ton, yang terlaksana baru bisa terkelola 2.700 ton per hari.
Kemudian penanganan limbah industri baru membina 300 industri, dari target 1.170 yang perlu dibina.
"Jadi banyak yang relasinya berhubungan dengan sosial itu yang agak lama, tapi kalau hubungannya dengan ekosistem itu target lebih cepat," ujarnya.
"Kalau sudah ketemu manusia kan ada yang mudah mengerti, ada yang susah mengerti, ada yang ngeyel. Nah ini ternyata lebih lama dari yang kita teorikan," imbuhnya.
Baca Juga: Dampingi Luhut Binsar Pandjaitan Tinjau TPSA Cicabe, Ini Harapan Bupati Dadang Supriatna
Target penanganan 26 ribuan sapi yang bisa diatur limbahnya, Satgas Citarum sudah melebihi target dengan 28 ribuan sapi.
Kemudian penanganan keramba jaring apung juga melebihi target, dari target 28.000 yang dikendalikan sudah 33 ribuan.
Mengenai pengelolaan sumber daya air masih harus mengejar target dan baru tercapai setengahnya untuk penambahan air baku karena kualitas air memang belum memadai. Kemudian tadinya targetnya lima lokasi destinasi, baru terealisasi dua.
Selain itu, pengendalian pemanfaatan tata ruang masih dalam proses pendataan sambil dilakukan penertiban.
Kemudian tercatat 131 kasus pengaduan, 15 di antaranya sudah pidana pengadilan, kemudian ada kasus sanksi administrasi sebanyak 70.
Baca Juga: Dubes RI Buka Peluang Pertumbuhan Komunitas Ekonomi Berbasis Pesantren
Adapun saat ini sudah ada 1.268 desa yang sudah dilakukan edukasi dari target 290 desa yang diedukasi. Kabar baik juga datang dari bidang riset dan pengembangan serta pengelolaan data.
Dalam pemaparan tersebut Ridwan Kamil menggaris bawahi bahwa air adalah peradaban dan warisan untuk generasi mendatang.
"Air adalah peradaban. Siapa yang merawat air sebenarnya sedang merawat peradaban yang akan diwariskan," paparnya.
"Hidup itu tidak selalu makin baik, kadang-kadang kehidupan itu juga semakin buruk, kota makin macet, makin polusi, jadi bayangkan anak cucu kita hidup di dunia yang buruk, artinya itu dosa dari orang tuanya, kita semua," katanya.
Baca Juga: Hidup Berdampingan dengan Covid-19, Laku Disiplin Inilah Kuncinya
Alam hadir dalam keadaan seimbang, katanya, cuma seringkali manusia tanpa ilmu memaksakan hidup tidak ramah dengan alam. Bantaran Citarum disebut daerah banjir dari sebelum ada manusia.
Dia mengatakan Dayeuhkolot adalah daerah yang datarannya paling rendah, tapi manusia-manusia tanpa ilmu memaksakan diri tinggal di daerah yang basah tersebut.
"Akibatnya solusinya jadi mahal seperti ini untuk menyesuaikan keinginan manusia yang melawan sistem alam. Tapi apapun itu kita yang ditakdirkan oleh Allah dengan jabatan, kita selesaikan permasalahan peradaban ini," katanya. (Rianto Nurdiansyah)*
Editor : inilahkoran


