Hepatitis Akut Misterius Mengancam, Pemprov Jabar Siapkan Lima Langkah Ini

Penyakit hepatitis akut misterius mengancam masyarakat. Pemprov Jabar siapkan lima langkah ini sebagai antisipasi.

Hepatitis Akut Misterius Mengancam, Pemprov Jabar Siapkan Lima Langkah Ini
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Nina Susana Dewi memastikan pihaknya siapkan langkah mengantisipasi hepatitis akut misterius.

INILAHKORAN, Bandung- Pemerintah Provinsi Jawa Barat terus mengatisipasi kemunculan penyakit hepatitis akut misterius yang telah dinyatakan WHO sebagai kasus luar biasa.

Kendati kasus hepatitis akut misterius, itu belum ditemukan di Jabar namun kewaspadaan tetap ditingkatkan.

Mengantisipasi kemunculan hepatitis akut misterius, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat yang telah berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), rumah sakit, laboratorium kesehatan daerah, serta dinas kesehatan 27 kabupaten/kota.

Baca Juga: Syarikat Islam Jabar Dukung Ridwan Kamil Berpasangan dengan Anies Baswedan di Pilpres 2024

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Nina Susana Dewi, mengatakan terdapat sejumlah antisipasi yang dilakukan. Yang pertama, yaitu dengan surveilans pelaporan satu pintu secara daring melalui surat elektronik yang alamatnya telah dikantongi masing - masing stakeholders.

Kedua, menginventarisasi kemampuan Labkesda atau rumah sakit di kabupaten/kota untuk pemeriksaan diagnosis hepatitis.

"Ketiga, kami meningkatkan sosialisasi, komunikasi - informasi - edukasi (KIE), serta menggencarkan gerakan masyarakat hidup sehat," ujar Nina dalam rapat koordinasi daring pada Sabtu (7/5/2022).

Baca Juga: Kabupaten Bogor Sambut Positif Perpanjangan Masa Liburan Anak Sekolah

Selain itu, yang keempat Nina menambahkan pihaknya berupaya melakukan penguatan fasilitas pelayanan kesehatan mulai dari puskesmas hinggga rumah sakit.

"Kelima, rumah sakit melakukan setting untuk penanganan kasus hepatitis akut ini," kata Nina.

Nina berharap melalui gerak cepat ini fasilitas pelayanan kesehatan mengantisipasi dan melakukan tindakan preventif melalui sosialisasi dengan menggiatkan germas.

Tak kurang dari 850 praktisi kedokteran membahas khusus kemunculan hepatitis akut misterius ini dalam rapat daring tersebut.

Bertindak sebagai narasumber dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) dr. Anggraini Sp. A. K.

Baca Juga: Polresta Bogor Kota Selidiki Aksi Pencopetan yang Viral di Medsos, Siagakan Petugas di Keramaian

Selain Kepala Dinkes Jabar beserta jajaran, hadir juga Kepala Labkesda Provinsi Jawa Barat, kepala dinkes 27 kota/kabupaten, Ketua IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Ketua IDAI, Ketua KKP, dan Kepala Labkesda kota/kabupaten.

Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menegaskan sejauh ini di Jabar belum terlaporkan penyakit tersebut.

"Di daerah belum banyak terpantau karena kasusnya memang ada di dunia, di Jakarta ada dan di Jabar belum terpantau laporan yang signifikan," tuturnya.

Namun demikian, Jabar akan tetap waspada dan mengedukasi warga khususnya orang tua yang memiliki anak-anak agar membiasakan aktivitas sehat untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Wajit dan Gurilem Cililin Banyak Diburu Pemudik Selama Ramadhan dan Lebaran

Seperti sering mencuci tangan, meminum air dan makanan yang matang dan bersih, menggunakan alat makan masing-masing, memakai masker, dan menjaga jarak.

"Kita terus edukasi warga khususnya orang tua yang punya anak-anak di pandemi COVID-19 harus waspadai juga sebuah situasi baru terkait hepatitis yang tiba-tiba meningkat. Caranya sama seperti protokol kesehatan COVID-19," jelasnya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya mengenai 10 kasus Hepatitis Akut yang Tidak Diketahui Etiologinya (Acute hepatitis of unknown aetiology) pada anak-anak usia 11 bulan-5 tahun pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah.

Baca Juga: Kantongi Beberapa Nama, Polisi Langsung Buru Pelaku Pembunuhan Wiwin Setiani di Gunung Bentang Padalarang

Sejak secara resmi dipublikasikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh WHO pada tanggal 15 April 2022, jumlah laporan terus bertambah. Per 21 April 2022, tercatat 169 kasus yang dilaporkan di 12 negara.

Kisaran kasus terjadi pada anak usia satu bulan sampai dengan 16 tahun. Sejumlah 17 anak di antaranya memerlukan transplantasi hati, dan 1 kasus dilaporkan meninggal. Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepatitis akut dengan peningkatan enzim hati, sindrom jaundice akut, dan gejala gastrointestinal seperti nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah dan sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam.

Baca Juga: Geger, Warga Padalarang KBB Temukan Perempuan Bersimbah Darah di Depan Rumahnya

Cara mencegah anak-anak dari hepatitis akut di antaranya dengan rutin mencuci tangan dengan sabun, memakan makanan yang matang dan bersih, tidak bergantian alat makan dengan orang lain, menghindari kontak dengan orang sakit, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, mengurangi mobilitas, menggunakan masker jika bepergian, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.***(Rianto Nurdiansyah)


Editor : inilahkoran