Disperindag Jabar Genjot Perdagangan Antarwilayah, Perluas Pasar Produk Unggulan

Disperindag Jabar mendorong perdagangan antarwilayah untuk memperluas pasar produk unggulan Jawa Barat dan meningkatkan daya saing pelaku usaha.

Disperindag Jabar Genjot Perdagangan Antarwilayah, Perluas Pasar Produk Unggulan
Gedung Disperindag Jabar

INILAHKORAN.ID - Jawa Barat terus berupaya memperluas penetrasi pasar produk unggulan ke berbagai daerah di Indonesia. Strategi ini didorong untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha Jawa Barat.

Upaya tersebut dinilai penting karena arus perdagangan nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kondisi itu sekaligus membuka peluang bagi Jawa Barat untuk memperkuat perdagangan antarwilayah, terutama ke berbagai provinsi di luar Pulau Jawa.

Kepala Bidang Pengembangan perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan perdagangan (Disperindag) Jawa Barat R Nurtafiyana mengatakan, besarnya kapasitas industri manufaktur Jabar perlu diimbangi dengan perluasan jaringan pemasaran.

Menurutnya, perdagangan menjadi salah satu sektor penting untuk memastikan kekuatan industri tersebut memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian daerah.

“Jabar memiliki kekuatan industri manufaktur yang besar dan perdagangan menjadi salah satu sektor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi serta ekspor daerah,” ujar Nurtafiyana dalam keterangannya, Minggu (20/9/2026).

Pasar Produk Jabar Masih Terbuka Lebar

Nurtafiyana mengatakan peluang pengembangan pasar produk Jawa Barat masih terbuka lebar, khususnya untuk meningkatkan penjualan ke berbagai provinsi di luar daerah, termasuk kawasan di luar Pulau Jawa.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), aktivitas perdagangan antardaerah Jawa Barat masih mengalami defisit antara nilai barang yang masuk dan barang yang keluar. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperluas daerah tujuan distribusi produk Jawa Barat.

“Pola perdagangan nasional masih terkonsentrasi di Pulau Jawa sehingga terdapat peluang untuk meningkatkan perdagangan Jabar ke luar Pulau Jawa,” ungkapnya.

Untuk memanfaatkan peluang tersebut, penguatan perdagangan antarwilayah perlu dilakukan dari hulu hingga hilir. Tidak hanya menyangkut kapasitas produksi dan ketersediaan pasokan, tetapi juga rantai distribusi, promosi, business matching, pengiriman barang, hingga keberlanjutan transaksi.

Dengan penguatan ekosistem tersebut, produk unggulan Jawa Barat diharapkan tidak hanya mampu memenuhi pasar domestik, tetapi juga memiliki jaringan pemasaran yang semakin luas di berbagai wilayah Indonesia.

perdagangan antarwilayah Harus Berbasis Data

Sementara itu, Analis perdagangan Ahli Madya Direktorat Sarana perdagangan dan Logistik Kementerian perdagangan RI Hamidah Wahmuda mengatakan perdagangan antarwilayah (PAW) memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran distribusi barang sekaligus memperkuat perdagangan dalam negeri.

Menurutnya, distribusi barang antarprovinsi dapat membantu menjaga keseimbangan pasokan di berbagai daerah.

“PAW juga berperan menjaga keseimbangan pasokan antarwilayah. Distribusi yang tidak efisien dapat menyebabkan kenaikan harga atau inflasi, maupun kelebihan pasokan (overstock) di suatu wilayah,” katanya.

Karena itu, pengembangan perdagangan antarwilayah perlu dilakukan berbasis data. Dengan begitu, kebijakan maupun kerja sama bisnis yang dibangun dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

Proses tersebut meliputi pengumpulan data, pemetaan potensi, analisis pasar, penyusunan kerja sama, pelaksanaan transaksi hingga evaluasi dampak ekonomi.

Salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan adalah data perdagangan Antarpulau Barang (PAB). Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kebutuhan pasar, produk unggulan daerah, pola distribusi barang, hingga potensi kerja sama perdagangan antarwilayah.

“Pemerintah daerah dan pelaku usaha perlu meningkatkan pemanfaatan data PAB sebagai dasar untuk melihat asal-tujuan barang, potensi pasar, kebutuhan daerah, serta peluang kerja sama perdagangan,” imbuhnya.

Hamidah menambahkan, keberhasilan perdagangan antarwilayah juga membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Koordinasi dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN), pelaku usaha, dinas perdagangan di daerah tujuan, hingga lembaga penjamin menjadi bagian penting untuk menjaga kesinambungan transaksi sekaligus memperluas jaringan pasar antardaerah.


Editor : Ahmad Sayuti