Industri Jabar Didesak Berbenah, Disperindag Soroti Boros Energi 

Ketergantungan industri terhadap energi, kini menjadi ancaman serius bagi daya saing manufaktur di Jawa Barat.

Industri Jabar Didesak Berbenah, Disperindag Soroti Boros Energi 
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID - Ketergantungan Industri terhadap energi, kini menjadi ancaman serius bagi daya saing manufaktur di Jawa Barat.

Di tengah gejolak harga energi global dan ketidakpastian pasokan, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mulai mendorong langkah konkret agar sektor Industri tidak lagi boros energi.

Melalui kolaborasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat bersama Sustainable Transition Energy in Indonesia (SETI), pelaku Industri di Jabar dibekali kemampuan melakukan audit energi sederhana dan strategi efisiensi energi berbiaya rendah, melalui Capacity Building Audit Manajemen energi Sederhana & Efisiensi energi Low-Cost baru-baru ini.

Program ini menjadi bagian dari upaya mempercepat transformasi Industri hijau di Jabar, sekaligus menekan tingginya konsumsi energi sektor manufaktur yang selama ini menjadi salah satu terbesar di Indonesia.

Kepala Bidang Sarana dan Prasarana serta Pemberdayaan Industri Disperindag Jabar, Meidy Mahardani menegaskan, posisi Jawa Barat sebagai pusat Industri nasional membawa konsekuensi besar terhadap konsumsi energi.

Jabar adalah jantung manufaktur Indonesia. Namun, posisi ini juga membawa tanggung jawab besar karena Jabar merupakan konsumen energi terbesar di sektor Industri,” ujar Meidy.

Ia menjelaskan, tekanan harga energi dunia mulai berdampak langsung terhadap efisiensi biaya produksi Industri di daerah. Jika tidak diantisipasi, kondisi tersebut dapat menggerus keuntungan sekaligus melemahkan daya saing produk Industri Jawa Barat di pasar nasional maupun global.

“Ancaman fluktuasi pasokan dan kenaikan harga energi global saat ini menekan margin keuntungan dan mengancam daya saing produk Industri Jabar. Karena itu, percepatan efisiensi energi melalui audit manajemen energi yang sistematis menjadi sangat penting,” ucapnya.

Disperindag Jabar menilai, masih banyak potensi penghematan energi yang belum dimanfaatkan Industri, terutama dari sisi manajemen operasional. Selama ini, efisiensi energi kerap dianggap identik dengan investasi teknologi mahal, padahal banyak langkah sederhana yang dapat langsung diterapkan perusahaan.

“Banyak yang beranggapan bahwa efisiensi energi selalu membutuhkan investasi besar. Padahal, masih terdapat untapped potential melalui perbaikan manajemen dan prosedur operasional. Dengan langkah audit yang cerdas dan tindakan berbiaya rendah, Industri dapat menekan konsumsi energi tanpa mengorbankan kapasitas produksi,” katanya.

Ia memastikan program tersebut tidak berhenti sebatas pelatihan, melainkan akan dilanjutkan dengan pendampingan implementasi efisiensi energi di sektor Industri bersama SETI.

“Kami berharap setelah kegiatan ini, Industri mampu melaksanakan audit energi yang sederhana dan terukur guna mengidentifikasi peluang efisiensi berbiaya rendah yang dapat segera diimplementasikan,” ujarnya.

SETI Coordinator GIZ Indonesia/ASEAN, Johannes Anhorn menyebut transformasi menuju Industri hijau kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar Industri mampu bertahan menghadapi krisis energi global.

Sementara itu, Penelaah Teknis Kebijakan Dinas ESDM Jabar, Rizka Adhiswara mengungkapkan Jawa Barat memiliki potensi energi Baru Terbarukan (EBT) mencapai 192 gigawatt (GW). Namun ironisnya, pemanfaatannya baru sekitar 2,1 persen.

Ia menekankan pentingnya penerapan manajemen energi di Industri, mulai dari penunjukan manajer energi, audit berkala, hingga pelaporan implementasi efisiensi energi sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2023 tentang Konservasi energi.

Di sisi lain, Technical Expert Sustainable Energy Network (SEN), Ahmad Feisal menilai keberhasilan efisiensi energi sangat bergantung pada komitmen pimpinan perusahaan.

“Manajemen energi membutuhkan komitmen dari direksi dan staf. Isu energi perlu dibawa ke level manajemen senior agar program efisiensi dapat berjalan secara konsisten,” katanya.

Menurut Ahmad, paradigma efisiensi energi juga harus diubah. Industri tidak lagi boleh memandang penghematan energi sebagai beban biaya tambahan.

“Efisiensi energi jangan dipandang sebagai kegiatan yang membuang uang, tetapi sebagai langkah yang memberikan dampak positif bagi people dan planet,” ucapnya.

Selain pembahasan teknis audit energi sederhana, peserta juga diperkenalkan dengan Sustainable Energy Network (SEN), platform kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, Industri, dan tenaga ahli untuk mempercepat implementasi efisiensi energi di Jawa Barat.

Disperindag Jabar berharap, langkah ini menjadi awal terbentuknya ekosistem Industri yang lebih hemat energi, kompetitif, dan mampu mendukung target dekarbonisasi nasional di masa depan. ***


Editor : JakaPermana