Jabar Provinsi dengan Hoax Tertinggi, Ini Solusinya

Mafindo Bandung Raya merilis data yang menyebut Jawa Barat sebagai provinsi dengan tingkat hoax tertinggi di Indonesia. Lantas apa solusinya?

Jabar Provinsi dengan Hoax Tertinggi, Ini Solusinya
Acara deklarasi dengan tema “Tanpa Hoaks, Kita Rukun Berdemokrasi
INILAH, Bandung- Mafindo Bandung Raya merilis data yang menyebut Jawa Barat sebagai provinsi dengan tingkat hoax tertinggi di Indonesia. Lantas apa solusinya?
 
"Sejak beberapa waktu lalu, persebaran hoax di Jawa Barat termasuk yang tertinggi di Indonesia, deklarasi Mafindo Bandung Raya menandai bahwa Jabar menjadi salah satu target untuk program literasi digital," ucap Hadi Purnama, Pelaksana Tugas Harian Mafindo Bandung Raya, di kawasan CFD Dago, Minggu (31/3/2019).
 
Menurut Hadi, hoax sebenarnya sudah lama ada tapi mendapatkan momentum dengan tumbuhnya media sosial seiring dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia.
 
"Pengguna internet di Indonesia sudah lebih dari 70 persen dari total penduduk, mayoritasnya di perkotaan dan penggunanya kebanyakan generasi muda," katanya.
 
Berkaitan dengan hoax menjelang Pemilu, Hadi mengatakan hoax juga tetap menyebar luas. Dari hasil riset yang dilakukan oleh berbagai pihak di luar peristiwa politik, biasanya hoax yang paling banyak beredar adalah hoax tentang kesehatan dan agama.
 
"Bicara tentang hoax, sekarang unesco sendiri sudah mulai memasyarakatkan penamaan fake news, karena kata hoax jarang digunakan, namun sekarang fake news diganti dengan miss information, paling tidak kita mengedukasi masyarakat tentang apa itu hoax, fake news atau miss information sendiri kepada masyarakat,"
katanya.
 
Hadi menambahkan bisa mengedukasi masyarakat dengan memberikan ciri-ciri hoax, karena punya ciri-ciri khusus, seperti judul, narasi, dan sumber yang tidak jelas.
 
"Misal kalo kita lihat di media sosial judulnya bombastis dan narasinya itu sangat story telling biasanya mempersuasi, tapi ada ciri lain misalnya tidak pernah memberikan rujukan sumber informasi yang jelas, kalau pun ada sumber, sumbernya abal-abal," katanya.


Editor : inilahkoran