Jabar Siapkan Kelas Khusus Sepak Bola untuk Pelajar SMA
Pemerintahan Provinsi Jawa Barat mulai membangun fondasi sistem pembinaan sepak bola usia muda yang lebih terstruktur.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Pemerintahan Provinsi Jawa Barat mulai membangun fondasi sistem pembinaan sepak bola usia muda yang lebih terstruktur.
Pada 2026, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Jabar bakal meluncurkan kelas khusus sepak bola untuk pelajar tingkat SMA, sebuah program yang dirancang menyerupai model akademi modern, atlet berlatih intensif, bersekolah formal, sekaligus tinggal di asrama.
Kepala Dispora Jabar Hery Antasari mengungkapkan, selama ini pembinaan atlet pelajar memang sudah berjalan melalui Sentra Pembinaan Olahraga pelajar Daerah (SPOPDA) di berbagai cabang olahraga.
Namun Gubernur Dedi Mulyadi ingin ada perhatian lebih untuk cabang sepak bola yang memiliki basis massa dan ekosistem terbesar.
"Tiap tahun sudah ada SPOPDA di Sport Jabar Arcamanik, tapi Pak Gubernur ingin ada kelas khusus sepak bola. Kalau sudah dapat persetujuan anggaran, tahun depan bisa berjalan," ujar Hery, Rabu 26 November 2025.
Program ini akan menggandeng dua sekolah yang selama ini sudah terlibat dalam SPOPDA, yakni SMAN 1 Padalarang dan SMAN 10 Bandung.
"Kelasnya di SMAN 10 Bandung dan SMAN 1 Padalarang, di situ ada kelas khusus untuk atlet pelajar. Jadi ada penambahan kelas khusus untuk sepak bola," ucapnya.
Kelas khusus ini dibuka untuk umum, termasuk siswa dari luar Jawa Barat. Namun peserta harus lulusan SMP karena berada dalam kewenangan pembinaan provinsi untuk jenjang SMA/SMK.
Seleksi bakal melibatkan beberapa institusi sekaligus seperti Asprov PSSI Jawa Barat, FPOK UPI, dan Dinas Pendidikan Jawa Barat, serta lembaga lain yang relevan. Penilaian akan menyoroti kondisi fisik, psikologi, kesehatan, administrasi hingga kemampuan akademik para calon siswa.
"Seleksinya tidak hanya pelajar dari Jawa Barat, dari luar pun boleh tapi ada kuotanya nanti. Kami kerja sama dengan berbagai pihak untuk menyeleksi dari berbagai aspek. Satu kelas khusus sepak bola, sementara 36 pelajar yang lulusan SMP," ujar Hery.
Jika 36 pelajar terpilih, mereka akan masuk ke sistem pendidikan terintegrasi, pelatihan intensif sepak bola, materi akademik, hingga pembentukan mental dan etos atlet.
"Mereka dapat ilmunya di situ, semua yang berkaitan dengan industri sepak bola. Sekolah formalnya di SMAN 10 Bandung atau SMAN 1 Padalarang, mereka ada yang mengantar, karena harus tinggal di asrama agar fokus," tuturnya.
Materi yang diberikan meliputi kurikulum teknis sepak bola, pendalaman etos kerja atlet, mentalitas hingga pembinaan spiritual. Sementara kegiatan akademik tetap berlangsung melalui sekolah formal yang ditunjuk.
Hery berharap model kelas khusus ini mampu membuka ruang bagi bakat-bakat muda yang selama ini tidak mendapatkan akses memadai untuk berkembang.
Editor : Doni Ramdhani

