Jadi Tujuan Ziarah, Inilah Rahasia Besar di Patilasan Adipati Ukur Desa Mukapayung KBB
Terbongkar, rahasia di balik Patilasan Adipati Ukur di Desa Mukapayung, Cililin, KBB yang jadi tujuan ziarah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung- Patilasan Adipati Ukur di Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) jadi salah satu tujuan ziarah.
Patilasan Adipati Ukur di Desa Mukapayung KBB, itu memang kental dengan sejarah yang melekat di masyarakat sekitar.
Situs cagar budaya Patilasan Adipati Ukur merupakan situs yang dikelola oleh kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Desa Mukapayung untuk tujuan objek wisata sejarah dan budaya.
Baca Juga: Tragis...Satu Keluarga Tertimpa Longsor Tembok Pembatas di Cianjur, Dua Anaknya Meninggal
"Tujuan terbentuknya Pokdarwis di sini untuk mengangkat sejarah dan budaya yang ada di Desa Mukapayung, salah satunya situs Adipatiukur," kata pengurus Pokdarwis Mukapayung, Ali Ma'sum.
Ia menjelaskan, di puncak Gunung Lumbung terdapat arca batu dan menhir peninggalan Adipati Ukur pada abad ke-17, serta cerita rakyat (folklore) yang diceritakan secara turun-temurun dan dari generasi ke generasi.
"Cerita ini berkaitan dengan jejak Adipatiukur melawan VOC dan Kerajaan Mataram," ujarnya.
Baca Juga: Komdis Askot PSSI Kota Bandung Wawan Darmawan: Liga 1 Sebaiknya Ditunda!
Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Mukapayung, Ade Hadian mengatakan, cerita ini berdasarkan penuturan leluhur bahwa Adipatiukur pernah singgah di Desa Mukapayung, atau lebih tepatnya Pasir Lumbung.
"Dipatiukur membangun markas pertahanan di Gunung Lumbung, karena di masa itu Adipatiukur sedang berperang melawan kompeni VOC dan Raja Mataram," jelasnya.
Selain itu, lanjut dia, terdapat relief sepasang kaki raja di mana ada emban atau selir yang bersandar di batu namun tidak ada badannya, sehingga dipasang batu.
"Ada batu menhir di atasnya sebanyak dua buah," ujarnya.
Baca Juga: Tenaga Honorer Disperkim KBB Ini Dicoret Secara Sepihak, Gegara Marak TKK Titipan?
Tak hanya itu, lanjut dia, jejak perjuangan Adipatiukur juga dapat ditemukan di kawasan Pasir Jambu, Ciwidey dan Kaseproke, Banjaran, Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Ia menuturkan, bertahun-tahun Adipati Ukur menetap di kawasan Mukapayung lantaran diperkuat dengan adanya temuan di daerah Pasir Nagara berupa peralatan dapur, seperti gerabah dan keramik peninggalan China.
"Di sekitar kawasan tersebut juga terdapat Gunung Majapahit dan seberangnya ada daerah yang disebut Buninagara," tuturnya.
Ia menyebut, rangkaian cerita tentang perjuangan Adipati Ukur ini merupakan penuturan dari para leluhur.
"Selain sebagai situs cagar budaya, Gunung Lumbung dijadikan situs benda budaya yang dikeramatkan masyarakat setempat, sehingga banyak pengunjung yang sengaja datang untuk berdoa di sekitar situs," tambahnya.
Juru Kunci Patilasan Adipatiukur, Abah Parman mengatakan, banyak yang berziarah di patilasan yang dikeramatkan tersebut.
Kendati demikian, dikabul atau tidaknya permintaan itu bergantung pada diri peziarah masing-masing.
"Intinya, manusia itu harus banyak bersyukur lantaran rejeki itu datangnya dari Allah Subahanahu Wa Ta'ala dengan berbagai cara, bisa lewat sesama atau lainnya," bebernya.
"Keutamaan datang ke Petilasan Adipatiukur ini yang penting bisa mendapat keberkahan dan kesehatan," sambungnya.
Sementara itu, Pamong Budaya dan Nilai Tradisi Disparbud KBB, Hernandi Tismara mengatakan, sekitar awal abad 17, Bandung Raya yang saat ini merupakan bagian dari wilayah Tatar Ukur (Ukur Sasanga) yang diperintah oleh seorang Adipati, yakni Adipati Ukur.
"Dipati Ukur ini merupakan orang yang paling dihormati di Tatar Ukur atau Tatar Priangan," katanya.
Ia menyebut, Gunung Lumbung ini merupakan tempat terakhir di mana Adipati Ukur kala itu melakukan perlawanan terhadap Mataram.
Baca Juga: Persija Ulur Waktu, Pelatih Arema Eduardo Almeida: Itu Tak Bagus untuk Sepak Bola
"Pada masa pemerintahannya wilayah Tatar Ukur atau Tatar Priangan ini mencakup sebagian wilayah di Jawa Barat," sebutnya.
Ia menjelaskan, di kawasan Gunung Lumbung ini juga terdapat situs patilasan Adipati Ukur dan di dalamnya terdapat sebuah arca dan menhir.
"Artinya ada jeda waktu antaran zaman sebelum masehi (zaman batu) dan zaman Adipati Ukur," jelasnya.
Ia menambahkan, kemungkinan dahulunya ini merupakan tempat yang dikeramatkan.
Baca Juga: Amalan Pendek tapi Dahsyat, Bisa Kabulkan Semua Hajat Kata Ustadz Adi Hidayat
"Jadi merupakan hal yang wajar ketika banyak peziarah yang datang ke sini untuk melakukan napak tilas perjuangan Adipati Ukur," tandasnya. *** (agus satia negara).
Editor : inilahkoran

