Jangan Anggap Sepele, Dinkes KBB Ungkap Bahaya Limbah Kandang Ayam bagi Kesehatan 

Kepala Bidang Pencegahan dan Penularan Penyakit (P2P) pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) Nurul Rasihan menyikapi keluhan warga Perum Bumi Indah Parahyangan (BIP) RT 05/12, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat yang terdampak limbah kandang ayam.

Jangan Anggap Sepele, Dinkes KBB Ungkap Bahaya Limbah Kandang Ayam bagi Kesehatan 
Menurutnya, limbah kandang ayam atau unggas memberikan dampak negatif terhadap kesehatan. Sebab, limbah dari peternakan unggas jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan masyarakat. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Ngamprah - Kepala Bidang Pencegahan dan Penularan Penyakit (P2P) pada Dinas kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bandung Barat (KBB) Nurul Rasihan menyikapi keluhan warga Perum Bumi Indah Parahyangan (BIP) RT 05/12, Desa Citatah, Kecamatan Cipatat yang terdampak limbah kandang ayam.

Menurutnya, limbah kandang ayam atau unggas memberikan dampak negatif terhadap kesehatan. Sebab, limbah dari peternakan unggas jika tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan masyarakat.

"Pertama, bau (odor) yang timbul dari hasil fermentasi kotoran ayam mengandung senyawa seperti amonia, asam lemak volatil, dan senyawa organik lainnya," kata Nurul, Rabu 3 September 2025.

Nurul menjelaskan, paparan bau yang menyengat secara terus-menerus dapat mengganggu kenyamanan dan kualitas hidup warga.

Dari sisi kesehatan, bau ini berpotensi menimbulkan keluhan berupa sakit kepala, mual, iritasi mata, gangguan tidur hingga memperburuk kondisi penderita asma dan alergi saluran pernapasan. 

"Dalam jangka panjang, paparan bau yang kronis dapat menimbulkan stres psikologis yang berdampak pada kesehatan mental masyarakat," jelasnya.

Kedua, lanjut Nurul, gas berbahaya yang dihasilkan dari limbah ternak seperti amonia (NH₃) dan hidrogen sulfida (H₂S) menjadi perhatian khusus. 

"Amonia dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan mata, meningkatkan risiko infeksi pernapasan, serta menimbulkan gangguan fungsi paru apabila terpapar dalam konsentrasi tinggi atau dalam jangka waktu lama," paparnya.

Sementara hidrogen sulfida yang memiliki bau khas telur busuk dapat menyebabkan gangguan saraf, penurunan kesadaran, bahkan berisiko fatal pada kadar yang sangat tinggi. 

"Kondisi ini tentu membahayakan kesehatan warga apabila limbah tidak ditangani dengan standar pengolahan lingkungan yang baik," ujarnya.

Ketiga, sambung Nurul, risiko dari keberadaan lalat (flies) yang berkembang biak di sekitar limbah unggas juga menjadi ancaman nyata. Lalat dapat berperan sebagai vektor mekanis bagi berbagai penyakit menular. 

"Jadi ketika kontak dengan makanan, minuman, maupun permukaan rumah tangga, lalat dapat menyebarkan bakteri, virus, serta parasit penyebab penyakit, di antaranya Salmonella yang dapat memicu gangguan pencernaan dan diare," sebutnya.

Tak cuma itu, populasi lalat yang tinggi di lingkungan pemukiman tak hanya menimbulkan ketidaknyamanan, namun juga berkontribusi pada meningkatnya risiko penyakit berbasis lingkungan.

Dengan demikian, kondisi bau, gas berbahaya, serta populasi lalat akibat pengelolaan limbah unggas yang tidak tepat merupakan masalah kesehatan masyarakat yang harus mendapat perhatian serius. 

"Penanganan terpadu antara pihak pengelola peternakan, masyarakat dan pemerintah daerah sangat diperlukan untuk mencegah timbulnya dampak kesehatan yang lebih luas," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani