SAUDARAKU seorang koruptor, mungkin ia berhasil mendapatkan banyak uang dan kekayaan melimpah. Tapi, apalah arti semua itu jika malah menjatuhkan namanya karena berurusan dengan aparat hukum, kemudian menjadi narapidana dan menyandang nama sebagai seorang pencuri uang negara.
Menjaga nama baik diri bukanlah untuk mendapat penilaian dari manusia sebagai orang yang baik. Karena jika begitu niatnya, maka kita cenderung memakai ‘topeng’ saat berada di hadapan orang lain. Menjadi orang baik, bersikap baik, bertutur kata baik hanya karena sedang dilihat orang lain, sedangkan saat sendirian tidak demikian.
Nama yang baik adalah akibat dari akhlak yang baik. Tiada satu pun ulama-ulama besar di masa lalu, yang namanya harum hingga kini, karya-karyanya dipelajari dari generasi ke generasi, makamnya diziarahi tiada henti-henti, kecuali karena mereka memiliki akhlak yang mulia. Karena mereka memiliki ilmu mumpuni diiringi dengan ketawaduan. Semakin banyak ilmu yang mereka kuasai, semakin merasa ilmu yang dimiliki itu belum seberapa dibandingkan ketidaktahuannya.
Para ulama terdahulu memiliki nama yang baik dan dihormati sampai hari ini, tiada lain karena akhlak mulia menjadi bagian dari jati dirinya. Tidak berpengaruh apakah ia sedang berada di tengah keramaian ataukah sedang sendirian, akhlaknya selalu terjaga dari hal-hal tercela. Kesibukannya adalah sibuk menuntut ilmu, bersilaturahim sembari bertukar ilmu pengetahuan dan pengalaman, saling belajar dan mengajar, serta berjuang istiqamah dalam mengajarkan dan mengamalkan ilmu yang telah mereka kuasai.
Boleh jadi mungkin mereka bukanlah orang yang kaya raya, atau bukan pula orang yang memiliki jabatan tinggi di tengah manusia. Namun, nama baiknya terbangun dengan sendirinya disebabkan hatinya yang bersih, tercermin dalam setiap ucapan dan sikapnya sehari-hari, serta kiprahnya yang penuh manfaat bagi orang lain dan lingkungannya.
Rasulullah saw menghendaki agar umatnya bisa menjaga kehormatan dan harga diri selama berada di dalam kebenaran. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah bersabda, “Setiap umatku mendapat pemaafan kecuali orang yang menceritakan (aibnya sendiri). Sesungguhnya di antara perbuatan menceritakan aib sendiri adalah seorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) di malam hari dan sudah ditutupi oleh Allah SWT kemudian di pagi harinya dia sendiri membuka apa yang ditutupi Allah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Membangun nama baik itu bukan dengan cara membagus-baguskan tutur kata di depan orang-orang, sedangkan di belakang mereka ucapan kita tidak terjaga. Bukan pula dengan membagus-baguskan sikap di hadapan orang-orang, sedangkan di belakang mereka sikap kita tidak dijaga. Jika ini yang terjadi, inilah yang disebut pencitraan; hanya sibuk dengan topeng tapi abai terhadap isi, hanya sibuk dengan kemasan tapi tak peduli pada substansinya.
Sikap yang demikian adalah bibit kemunafikan, dan ini sangat berbahaya. Alih-alih membangun nama baik, yang ada malah justru menabung dosa. Karena Allah tidak menyukai sikap-sikap kemunafikan, di depan berkata A di belakang berkata B, di depan bersikap putih tapi di belakang bersikap hitam.
Orang yang bersikap demikian pasti merugi, jauh dari keberuntungan. Mungkin saja dia bersikap demikian demi mendapatkan keuntungan dari sana-sini, karena telah membuat senang orang yang di hadapannya. Namun, keuntungan yang ia dapatkan adalah keuntungan semu, jauh dari keberkahan.
Seperti seorang bawahan yang berbicara di hadapan atasannya dengan bersandiwara, memberi laporan-laporan bagus padahal kenyataannya tidak begitu. Tujuannya hanya membuat atasannya senang dan ia mendapatkan keuntungan. Padahal keuntungan yang sejati adalah jika ia bekerja dengan niat ibadah, sehingga ia menjadi profesional dan disiplin. Prestasinya akan terlihat bukan dari ucapannya semata, melainkan dari kualitas kerjanya dan pencapaiannya.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah Tabaaraka wa Ta’aala mencintai jika seseorang di antara kalian bekerja, maka ia bekerja secara iqtan (profesional)”. (HR. Baihaqi)
Pekerjaan, kedudukan, harta kekayaan yang kita miliki adalah karunia dari Allah SWT. Membangun nama baik adalah dengan cara bersungguh-sungguh dalam pekerjaan kita, amanah dan bertanggung jawab. Demikian juga dengan harta kekayaan, membangun nama baik adalah dengan cara membelanjakannya di jalan yang Allah ridai.
Ada satu hal yang penting kita ingat, membangun nama baik yang lebih utama adalah nama baik di akhirat. Apalah artinya jika nama baik kita terkenal di dunia di antara manusia, namun tidak terkenal di akhirat.
Jangan pernah takut dijauhi orang lain di dunia hanya karena kita istiqamah dalam menaati Allah dan rasul-Nya. Bahkan boleh jadi hanya karena kita berupaya untuk istiqamah, orang-orang meremehkan, merendahkan bahkan menjauhi kita. Jika itu terjadi, maka yakinlah itu tidak seberapa dibandingkan jika kita menjauhi Allah. Hanya Allah Yang Maha Membolak-Balikkan hati. Sangat mudah bagi Allah membuat orang yang tadinya benci menjadi cinta.
Nabi Muhammad saw pun dahulu demikian. Keistiqamahan beliau dalam bertauhid telah membuat orang-orang di sekitarnya memusuhinya. Tetapi Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, segalanya menjadi terbalik dalam waktu yang relatif singkat.
Tidak perlu risau ketika kita tidak disukai orang lain hanya karena berbuat jujur, menjauhi korupsi. Tidak usah resah ketika kita dijauhi orang lain hanya karena menghindari ghibah. Percayalah, Allah senantiasa bersama orang-orang yang selalu ingin taat kepada-Nya.