Jungkir Balik Cari Amalan Agar Dicintai Orang, Nggak Takut Syirik?
BANYAK yang mengambil jalan keliru agar mendapat kasih sayang dari seseorang. Misal, dengan ilmu pelet. Dia sekuat tenaga mengamalkannya. Pertanyaannya satu, nggak takut dosa syirik gitu?
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
BANYAK yang mengambil jalan keliru agar mendapat kasih sayang dari seseorang. Misal, dengan ilmu Pelet. Dia sekuat tenaga mengamalkannya. Pertanyaannya satu, nggak takut dosa syirik gitu?
Ustaz Ammi nur Baits dikutip konsultasisyariah.com menjelaskan, dalam islam tidak pernah diajari ilmu Pelet. Atau ilmu menerbitkan aura untuk mempengaruhi orang lain atau mengundang perhatian orang lain.
Dalam artikel yang lain di konsultasisyariah.com, sihir Pelet disebut juga dengan sihir al-Athf (pengasihan), dalam istilah lain disebut dengan at-Tiwalah [التِّوَلة].
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutnya sebagai perbuatan kesyirikan.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan Pelet adalah kesyirikan.” (HR. Abu Daud 3883, Ibnu Majah 3530 dan dishahihkan al-Albani)
Ibnul Atsir menjelaskan makna at-Tiwalah,
At-Tiwalah adalah sihir atau semacamnya yang digunakan untuk pengasihan wanita terhadap suaminya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya sebagai kesyirikan, karena diyakini itu bisa memberi pengaruh tanpa takdir Allah Ta’ala. (an-Nihayah fi Gharib al-Atsar, 1/552).
Motivasi Penting
Masih menurut Ustaz Ammi nur Baits, kita dimotivasi untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa dalam rangka mencari ridh Allah. Dan jika Allah telah meridhai kita, maka Allah akan mencintai kita. Kemudian Allah akan membuat masyarakat dengan mudah mencintai kita.
Seperti ini yang dijanjikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa yang dicintai Allah, maka Allah akan membuat penduduk bumi menerimanya.
Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai seorang hamba, Dia akan memanggil Jibril, “Sesungguhnya Allah mencintai si A, maka cintailah dia.” Lalu Jibrilpun mencintainya. Kemudian Jibril mengumumkan kepada seluruh penghuni langit, “Sesungguhnya Allah mencintai si A, maka cintailah dia.” Akhirnya para penduduk langit mencintainya. Lalu dia dibuat bisa diterima oleh para penduduk bumi. (HR. Bukhari 7485 & Ahmad 8500). (Ibrahim Abbad/Umma)
Editor : Bsafaat

