INILAH, Ngamprah - Kasus temuan bantuan pangan non tunai (BPNT) yang berisi paket ayam busuk di Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat terus mencuat ke permukaan.
Agen pengadaan yang disebut-sebut memiliki peran sebagai penyedia sembako termasuk ayam potong tersebut kini menjadi sorotan berbagai pihak.
Perlu diketahui, ayam potong dalam paket sembako tersebut disiapkan oleh agen sembako di wilayah setempat.
Agen tersebut mendapat kepercayaan untuk menyediakan enam item dalam satu paket, di antaranya 1 kilogram ayam potong, 1 kilogram telur, 10 kilogram beras, tahu, kentang, dan buah pir senilai Rp200 ribu.
Dari enam item tersebut, warga mengeluhkan ayam potong dan telur sudah tidak layak konsumsi. Pasalnya, kondisi ayam potong sudah berwarna kebiruan dengan aroma tak sedap dan sebagian telur mengandung belatung.
Pemilik Agen Sembako Fuji, Mumuh mengaku, pihaknya hanya sebatas perantara dalam pengadaan sembako. Dalam pengadaan barang, Mumuh mendapatkan item ayam potong tersebut dipasok dari Barokah Bersaudara.
"Kalau dari sayanya biasa seperti yang sudah berjalan, cuma memang saya nerima komoditinya dari suplayer memang ayamnya tidak di freezer atau tidak beku. Saya juga menanyakan kenapa ini ayam tidak di freezer," ujarnya, Selasa 21 September 2021.
Mumuh menyebut, sumber awal mencuatnya kasus bansos ayam busuk ini berawal dari pengadaan ayam potong tidak dalam kondisi beku. Bahkan, ayam potong segar tersebut hanya dibungkus olastik dan kemudian didistribusikan.
Menurutnya, lamanya waktu saat pendistribusian menjadi masalah selanjutnya, ayam potong yang sudah siap sejak pagi baru sampai ke tangan penerima BPNT sore harinya.
Ia menyebut, selama dalam pendistribusian ayam mengalami pembusukan lantaran terlalu lama dibungkus dalam plastik.
"Sekitar jam 12 atau jam 1 ada bau. Sampai jam 15.00 WIB baru dibagikan ke KPM. Masalahnya karena tidak beku atau tidak di freezer gitu. Saya juga khawatir. Otomatis ketika dibawa dari agen ke lokasi KPM, otomatislah (membusuk)," bebernya.
Lebih lanjut ia menuturkan, di Desa Rajamandala sendiri terdapat 26 RW yang menerima paket sembako BPNT. Sedikitnya ada lima agen sembako yang dipercaya untuk memenuhi pengadaan barang bagi 516 KPM.
Lima agen sembako tersebut dibagi berdasar pada zonasi tata wilayah RW. Ia mengaku, agen miliknya dipercaya menyediakan sembako untuk enam RW dengan jumlah 70 KPM.
"Saya menyediakan sembako untuk paket bansosrdari RW 01 sampai RW 06 sama saya. Kemarin itu untuk 70 KPM," terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinsos KBB Sri Dustirawati mengatakan, terkait dengan temuan ayam busuk dan telur berisi belatung ini, pihaknya sudah mulai melakukan penelusuran di wilayah Cipatat.
Ia menyebut, pihaknya telah memintai keterangan terhadap agen terkait temuan daging ayam busuk dan telur yang tak layak konsumsi tersebut.
"Pas kita tanya ke agennya, katanya ada tekanan dari pihak lain. Jadi, hak belinya itu (paket sembako) harus ke situ. Tapi saya gak tahu pasti yang dibelakang itu siapa, pokoknya harus ditindak tegas saja," katanya belum lama ini.
Ia menduga, kasus pengadaan BPNT ini telah direncanakan secara terorganisir. Ia menegaskan, pihaknya tak pandang bulu untuk membongkar oknum dibalik kasus pengadaan BPNT tersebut.
"Saya akan investigasi, siapa orang di belakangnya saya gak peduli, karena kalau misalnya enggak ada sanksi, nantinya keenakan. Pokoknya saya ingin warga Bandung Barat menerima bantuan yang sesuai," tegasnya.
Berdasarkan hasil penelusuran sementara, sambung dia, pihaknya mendapat sedikitnya delapan KPM yang mengeluhkan BPNT yang berisi ayam busuk.
Menurutnya, tak menutup kemungkinan, temuan bansos ayam busuk ini lebih banyak dari jumlah penelusuran sementara ini.
"Data sementara yang kita dapat, ada 8 KPM yang menerima sembako tak layak konsumsi," tandasnya. *** (agus satia negara).